Sore ini, Jurai datang lagi ke rumah Nursita. Lagi-lagi ia bertanya apa Bahiya sudah sampai di Jakarta atau belum. Kalau sudah, kenapa ia tak langsung pulang ke Jailolo? Sungguh, melihat kekhawatiran Jurai, Nursita tahu kalau sahabatnya itu begitu peduli pada sang mama. Memang, menurut cerita Bahiya dulu, ibu Jurai meninggal ketika melahirkan dirinya. Karenanya, sejak itu pula, setiap kali ia main bersama Nursita, Bahiya amat perhatian pada Jurai. Kata perempuan yang telah banyak makan asam garam kehidupan itu, kalau Jurai mau menganggap ia sebagai ibu, maka Bahiya akan senang sekali. Mendengar kalimat itu untuk kali pertama, Jurai malah menangis dan langsung memeluk Bahiya.
Sejak itu, hubungan Nursita dan Jurai semakin dekat. Apalagi selisih rumah mereka hanya beberapa meter saja. Hingga ketika sekolah pun, Jurai memilih untuk terus bersekolah di tempat yang sama seperti Nursita. Kadang-kadang, mereka merasa seperti sepasang anak kembar.
Nursita menatap manik mata Jurai yang saat ini tengah duduk di hadapannya. Setelah menarik napas panjang, Nursita lantas mencoba mengutarakan sesuatu yang rasanya sangat berat untuk keluar dari lidah. “Maukah ngana dengar kita pu cerita?” kata perempuan itu kemudian dengan sedikit keraguan.
“Tentu saja, Nursita. Bukankah dari kemarin kita selalu tunggu cerita ngana tentang bagaimana kehidupan di Jakarta. Mana tahu suatu saat nanti kita dan suami juga bisa jalan- jalan ke sana.” Jurai menanggapi dengan girang. Namun, begitu mendapati mata Nursita yang berkaca-kata, seketika ia terdiam. “Ada apa, Nursita? Apa ada yang salah?”
Dengan air mata yang mulai mengucur, Nursita merasa perlu segera menceritakan kisah yang sejujurnya tentang ia dan Bahiya, juga nasib perempuan yang mengidap kanker rahim tersebut di Jakarta.
“Sebenarnya, su sepuluh tahun kita tra lagi menghubungi Mama,” ujar Nursita dengan terbata, membuat Jurai segera membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
“Kenapa, Nursita. Kenapa?” Saking kagetnya, suara Jurai sampai tercekat. “Tapi, kata ngana pe mama30 ….”
“Mama bohong. Kita tra pernah sekali pun mengirimi torang surat. Bahkan selama ini kita mencoba menghilang dari kehidupannya.
Terlihat benar bagaimana Jurai muntab bukan main. Amarah di wajahnya pecah. Ia lantas mengguncang-guncang tubuh Nursita demi untuk mencari sebuah penjelasan. “Kenapa ngana tega sekali pada mamamu, Nursita? Kenapa?” Bulir-bulir air mata Jurai ikut mengucur. “Kenapa ngana sampai hati melukai hati perempuan yang begitu menyayangi ngana itu. Padahal, andai kita bisa tukar apa pun di dunia ini dengan sosok ibu, kita bakal rela lakukan.”
“Maafkan kita, Jurai. Maafkan ….”