Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #31

Bab 30

Daun-daun kuning pohon mangga yang tumbuh di sudut halaman rumah, gugur satu per satu ke atas tanah. Salah satu rantingnya bahkan mulai mengering, barangkali sudah terlalu tua dan tak lagi produktif. Nursita memang tidak tahu sejak kapan pohon mangga itu ditanam dan kian bertumbuh. Yang jelas, sebelum ia lahir, pohon itu sudah ada dan berdiri kokoh di halaman. Dulu, ketika ia masih bocah, Nursita kerap kali melempar buah-buah mangga yang ranum ketika tiba musimnya dengan sandal atau kayu bersama Jurai. Sebab, Bahiya tak pernah mengizinkan mereka untuk memanjat pohon mangga tersebut. Selain batangnya yang tinggi, Bahiya juga bilang, kalau anak perempuan tak selayaknya memanjat pohon. Pamali, katanya. Tak ingin dimarah, Nursita dan Jurai hanya bisa menurut.

Di bawah pohon mangga tadi, sewaktu kecil, Nursita kerap bermain masak-masakan dengan Jurai. Selayaknya anak perempuan lain seusianya. Di sana pula, menjadi tempat mereka berdua sering bermain kejar-kejaran. Sebab, hanya di tempat itulah lokasi yang paling teduh di halaman rumah Nursita. Sungguh, kenangan bertahun-tahun lalu kembali berkelindan di ingatan perempuan beranak satu itu. Andai waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya perempuan tadi mengulang masa-masa bahagia itu: bermain bersama Jurai, tinggal dengan sang mama, juga tak akan pernah ia pergi ke Jakarta dan meninggalkan Bahiya sebatang kara.

Tuhan, ampuni segala dosa hamba-Mu ini. Dan satu pinta kita yang paling sangat: sebelum kita mati, tolong pertemukan lagi kita deng Mama. Akan kita manfaatkan sebaik- baiknya sisa waktu yang Engkau berikan untuk menebus segala kesalahan kita pada Mama dan berbakti kepada torang.

Sepasang manik mata Nursita kini teralih pada sehelai daun mangga yang tiba-tiba luruh ke bumi, padahal daunnya masihlah hijau dan segar. Sesaat, daun itu tampak sedikit melayang diembus angin, sebelum kemudian menyusul daun-daun kuning dan mengering yang telah jatuh mendahului. Saat itu, Nursita tiba-tiba terpikir mengenai usia yang tak seorang pun ada yang tahu. Tak kenal tua ataupun muda, kalau sudah tiba saatnya, maka matilah ia. Seperti halnya sehelai daun mangga hijau yang luruh tadi.


Begitu mengingat kematian, pikiran Nursita pun ikut melayang ke kejauhan, memikirkan bagaimana keadaan Bahiya di Jakarta. Sehatkah ia? Masihkah ia mencari keberadaan kita? Atau yang paling buruk, jangan-jangan Mama tersesat dan tak bisa kembali pulang?

Membayangkan hal yang paling buruk tadi, air mata Nursita lantas menetes di atas permukaan pipi. Sungguh, dengan mata memerah, Nursita merasa menjadi anak paling durhaka dan merugi di dunia ini, yang telah menyia-nyiakan waktu bersama sang mama. Padahal jika seandainya sebentar lagi ia akan benar-benar mati, kunci surga yang sesungguhnya bisa ia raih dengan mudah, ada di telapak kaki sang mama. Namun sayang, keputusannya menghilang dari Bahiya sejak sepuluh tahun lalu, tentu sudah membuat kesempatan emas itu melayang.

Andai kita dulu menuruti permintaan Mama untuk tidak pergi, tentu saat ini kita masih bisa bersamanya, memijit kakinya yang kerap terasa linu, juga menyisir rambutnya yang kuyakin tak lagi hitam seperti dulu.

Ah, Nursita benar-benar rindu masa-masa ketika dulu Bahiya sering meminta sang putri itu untuk mencabuti uban miliknya. Sehelai uban yang berhasil Nursita dapatkan kala itu, akan Bahiya upahi dengan uang jajan seratus rupiah, Namun, tentu saja lebih sering tidak Nursita terima lantaran paham betul kalau perekonomian mereka sangatlah pas-pasan. Lebih baik uang-uang tersebut sang mama simpan untuk membeli deterjen untuk modal usaha mencuci baju para tetangga, begitu pikir Nursita kala itu.

Lihat selengkapnya