Pukul dua lewat empat belas pagi. Di luar bilik studio SoundWave Pods, kota tenggelam dalam keheningan pekat yang hanya dipecahi oleh ketukan monoton rintik hujan pada kaca jendela lantai tiga. Suasana malam terasa begitu sunyi, seolah dunia luar telah mati dan menyisakan Rayhan seorang diri di dalam labirin bangunan beton tersebut.
Di dalam ruangan berperedam suara itu, Rayhan memaku pandangannya ke layar monitor berukuran dua puluh tujuh inci. Matanya terasa panas, menyengat akibat kurang tidur berhari-hari dan paparan cahaya biru yang konstan. Di hadapannya, software pengolah audio membentangkan garis gelombang merah—rekaman episode terbaru dari podcast kriminal bertajuk "Sisi Kelam Kota" yang tengah menghantui warga distrik utara selama sebulan terakhir.
Sebagai seorang editor audio profesional, indra pendengaran Rayhan adalah senjata sekaligus kutukan. Ia terbiasa membedah frekuensi terkecil: desis statis mikrofon murahan, decit lantai kayu panggung teater, hingga isak tangis narasumber yang gemetar di balik bilik wawancara. Bertahun-tahun bekerja di industri penyiaran digital membuat telinganya sangat peka terhadap anomali gelombang suara. Namun, malam ini, jemarinya tiba-tiba membeku di atas papan tik.
Napasnya tertahan di tenggorokan. Ada sesuatu yang salah dengan berkas di hadapannya.
Di ujung trek tersembunyi yang terselip di antara arsip penyelidikan kepolisian dan berlabel “Unassigned_Track_09.wav”, ada durasi yang sangat janggal. Tepat sembilan detik.
Tidak ada keterangan narasumber. Tidak ada transkrip wawancara di dokumen pendukung. Berkas itu berdiri sendiri, terkunci di dalam direktori privat server kantor yang seharusnya hanya bisa diakses oleh direktur utama atau admin utama sistem.
Didorong rasa penasaran yang bercampur firasat buruk yang merayap di tengkuknya, Rayhan merapatkan headphone profesional merek Sennheiser ke telinganya. Ia mendekatkan kursor ke area garis gelombang tersebut, menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol spasi pada kibor untuk memutarnya.
Kriitt…