Sembilan Detik Terakhir

kholid alamsyah
Chapter #2

BAB 2: Realitas yang Mulai Retak

Rayhan mematung di kursi kerjanya, terjebak di antara sisa-sisa bayangan layar monitor yang kini telah padam total. Cahaya putih dari layar ponselnya yang menyala terang menyorot wajahnya yang pucat pasi, menciptakan bayangan tajam di bawah matanya yang cekung dan berurat merah.

Ponsel itu terus bergetar di atas meja kayu. Drrr... drrr... drrr...

Suara getarannya terdengar begitu nyaring, memantul di dinding-dinding bilik studio yang kedap suara, seolah mengejek kewarasannya yang perlahan-lahan runtuh keping demi keping. Panggilan itu berasal dari nomornya sendiri. Dari ponsel pintar miliknya yang tergeletak tepat di hadapannya, dalam jarak jangkauan tangan yang bisa ia raih kapan saja.

Setiap detik yang berdetak terasa begitu berat. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencekik batang lehernya, merampas oksigen dari paru-parunya.

Dengan jemari yang dingin, kaku, dan gemetar hebat, Rayhan mengulurkan tangan. Napasnya tercekat di tenggorokan saat ia menyentuh layar sentuh dan menggeser ikon hijau ke arah kanan.

Ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya, meski hatinya berteriak keras agar ia segera melempar benda pipih tersebut ke dinding.

Tidak ada suara sapaan di ujung sana. Tidak ada suara bising lalu lintas, tidak ada suara ketukan hujan, dan tidak ada suara napas orang lain.

Yang terdengar hanyalah desis statis gelombang elektromagnetik yang sangat nyaring—suara white noise yang berderak pelan, disusul oleh embusan napas berat yang bergesekan langsung dengan mikrofon. Suara napas yang persis sama dengan apa yang ia dengar di dalam headphone profesionalnya beberapa menit lalu.

Bulu kuduk di seluruh tubuhnya meremang seketika. Dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke tulang punggungnya.

“Halo?” suara Rayhan keluar dengan sangat parau, nyaris berupa bisikan yang tercekat di kerongkongan. Tenggorokannya terasa sangat kering, seolah ia baru saja menelan pasir.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan, hanya menyisakan desis statis di saluran telepon. Lalu, sebuah suara menjawabnya.

“Waktu berjalan sangat cepat, Ray…” bisik suara di ujung sana.

Suara itu terdengar datar, berat, dan berlapis distorsi digital yang aneh. Rasanya tidak wajar—seolah suara itu diucapkan tepat di dekat telinganya, namun pada saat bersamaan bergema dari lorong yang sangat jauh, dari dimensi waktu yang lain.

Lihat selengkapnya