Sembilan Detik Terakhir

kholid alamsyah
Chapter #3

BAB 3: Detik-Detik yang Berkurang

Rayhan mundur tiga langkah secara impulsif dari bibir pintu kamar mandi. Punggungnya menghantam dinding kamar yang dilapisi wallpaper pudar, mengirimkan sensasi dingin yang menyengat melalui lembaran kain kausnya.

Retakan pada permukaan kaca cermin di atas wastafel itu memantulkan separuh bayangan tubuhnya yang koyak menjadi garis-garis patah. Suara krek halus yang tadi menyiringi kemunculannya telah lenyap, menyisakan keheningan yang jauh lebih menakutkan di dalam ruangan seluas empat kali tiga meter itu.

Ia memberanikan diri melangkah perlahan mendekati cermin itu kembali, mengulurkan telunjuknya yang gemetar. Ujung jarinya menempel pada kaca.

Aneh. Tidak ada serpihan kaca yang terlepas. Permukaan luar cermin itu terasa licin dan utuh di bawah sentuhan kulitnya. Retakan berwarna putih keperakan itu terbentuk dari dalam—seolah-olah struktur molekul kaca di bagian dalam cermin telah dipaksa patah oleh energi frekuensi tinggi yang tak kasat mata, membentuk ukiran garis gelombang suara (waveform) persis seperti yang tampak di monitor studionya beberapa jam lalu.

Ini nyata, bisik sebuah suara di dalam relung otaknya, menghancurkan sisa-sisa pertahanan logikanya yang terakhir. Ini bukan sekadar mimpi buruk, gangguan jiwa, atau efek samping kurang tidur. Seseorang—atau sesuatu—sedang menandai hidupmu.

Malam itu, Rayhan tidak pernah bisa memejamkan mata.

Ia menghabiskan sisa malam dengan duduk di atas tepian kasurnya yang membeku, menyandarkan punggung ke dinding, dan memeluk kedua lututnya. Sebuah pisau dapur kecil terpapar terbuka di atas meja samping tempat tidur, siap ia jangkau kapan saja. Kedua matanya menatap liar ke arah pintu utama dan celah jendela apartemen, diawasi oleh kepanikan yang terus memompa jantungnya tanpa henti.

Detik demi detik dari jam dinding analog tua di kamarnya berdetak dengan irama yang membakar saraf. Tek... tok... tek... tok... Suara berulang itu terdengar bagaikan ketukan palu hakim di ruang sidang, menghitung setiap milidetik dari sisa usianya yang terus merembes keluar.

Pukul 05.00 pagi. Cahaya matahari musim hujan yang pucat dan kelabu merembes perlahan melalui celah-celah tirai jendela, mengusir kelam malam dari sudut-sudut kamar.

Namun, terbitnya sang fajar sama sekali tidak memberikan penghiburan atau perasaan lega bagi Rayhan. Justru sebaliknya, rasa cemas bertambah berkali-kali lipat mencengkeram dadanya hingga membuatnya sesak. Berdasarkan cap waktu (timestamp) pada file audio “Unassigned_Track_09.wav” yang tersimpan di memori ingatannya, hitungan mundur telah dimulai sejak semalam. Hari ini—tepatnya malam nanti pukul 23.45 WIB—adalah titik takdir di mana suara jeritannya di dalam rekaman itu akan berubah menjadi kenyataan.

Rayhan bangkit dari tempat tidur. Kedua kakinya terasa lemas, namun kepalanya dipaksa berputar keras oleh insting bertahan hidup.

Ia melangkah gontai menuju meja kerja di dekat jendela apartemennya, menggeser tumpukan majalah lama, dan mengambil sebuah buku catatan kecil ber-sampul hitam beserta sebatang pena. Sebagai seorang editor audio profesional, cara terbaik baginya untuk memproses sebuah masalah adalah dengan menguraikan datanya secara sistematis.

Lihat selengkapnya