Sembilan Detik Terakhir

kholid alamsyah
Chapter #4

BAB 4: Bayangan di Balik Jendela

Cahaya pagi yang muram menyusup makin jauh ke dalam apartemen Rayhan, memantul samar pada cermin retak di kamar mandi yang masih berdiri sebagai pengingat bisu atas teror semalam. Dengan napas yang masih terasa sesak dan berat, Rayhan menyampirkan tas punggungnya. Ia sadar, menghadapi situasi semacam ini seorang diri di dalam kamar terisolasi hanya akan mempercepat kejatuhannya.

Ia butuh bantuan ahli. Dan satu-satunya orang yang bisa ia percaya dalam urusan sistem digital, pelacakan jaringan, serta integritas data server adalah Dio.

Dio adalah teman lamanya sejak masa kuliah—seorang teknisi IT independen dan peretas etis yang bekerja di sebuah kantor servis keamanan siber kecil di lantai dua sebuah ruko tua kawasan Cikini. Dio bukan sekadar ahli komputer biasa; pria itu memiliki sifat paranoid yang hampir setingkat dengan Rayhan dalam hal privasi data, membuatnya menjadi sosok yang tepat untuk diajak membedah anomali ini.

Sepeda motor Rayhan membelah lalu lintas pagi kota yang mulai padat oleh kepulan asap knalpot dan dentuman klakson kendaraan yang saling bersahutan. Sensasi bising jalanan yang biasanya mengganggu indra pendengarannya kini justru menjadi pelindung sementara—sebuah lapisan bising putih (white noise) yang menutupi ketakutan di dalam dadanya.


Tiba di ruko tempat Dio bekerja, Rayhan langsung menaiki tangga kayu yang berderik pelan menuju ruangan kerja Dio. Ruangan itu berbau kombinasi kopi hitam pekat, asap rokok tipis, dan udara dingin yang dihembuskan AC tua yang berbunyi desing konstan. Di tengah ruangan, Dio duduk mengangkang di atas kursi beroda, dikelilingi oleh empat layar monitor besar yang menampilkan jajaran baris kode dan grafik lalu lintas jaringan yang bergerak cepat.

"Ray? Tampangmu persis seperti mayat yang baru bangkit dari kubur," seloroh Dio tanpa memalingkan pandangan dari layarnya ketika mendengar langkah kaki Rayhan. "Ada apa? Proyek podcast-mu kebobolan virus lagi?"

Rayhan tidak membalas gurauan itu. Ia menarik kursi kayu di dekat meja Dio, duduk dengan gerakan kaku, lalu meletakkan ponsel dan buku catatan hitamnya di atas meja.

"Aku tidak bercanda, Dio. Aku butuh bantuanmu memeriksa log server kantor SoundWave Pods dan jaringan ponselku," kata Rayhan dengan suara berat dan parau. "Seseorang telah meretas akun kerjaku dan mengirim berkas audio terenkripsi yang mustahil ada."

Dio memutar kursinya, menatap Rayhan melalui bingkai kacamata tebalnya. Ekspresi santainya perlahan luntur saat melihat lingkaran hitam pekat di sekitar mata Rayhan serta jemari sahabatnya yang tak pernah berhenti gemetar.

"Oke... tenang dulu. Jelaskan pelan-pelan," ujar Dio sambil menegakkan posisi duduknya. "File apa yang kau maksud? Pembajakan hak cipta? Teror spam?"

Rayhan menarik napas panjang, menceritakan secara detail apa yang terjadi pada pukul 02.14 pagi di studio: berkas “Unassigned_Track_09.wav”, durasi sembilan detik, teriakan suaranya sendiri, cap waktu untuk nanti malam pukul 23.45 WIB, panggilan telepon dari nomornya sendiri, hingga pola retakan cermin yang meniru bentuk gelombang suara tersebut.

Lihat selengkapnya