Darah di kepala Rayhan rasanya tersedot habis. Di layar monitor Dio, sesosok bayangan berbalut jaket kulit hitam legam itu bergerak pelan di dalam kamarnya sendiri. Gerakannya tenang, nyaris santai, seolah si penyusup itu sedang berjalan-jalan di rumahnya sendiri tanpa ada rasa takut tertangkap.
"Itu... apartemenku," bisik Rayhan, suaranya tercekat di kerongkongan. Tangannya mencengkeram tepi meja Dio kuat-kuat hingga buku-buku jarinya menonjol putih.
"Sialan, dia punya kunci duplikat atau berhasil membongkar selot pintumu," maki Dio, jemarinya beringas menghantam kibor untuk mencoba memotong akses kamera tersembunyi itu. "Aku lagi coba nge-lock server rekamannya, tapi sistem kita malah di-feed balik sama sinyal mereka!"
Di layar, sosok berperawakan jangkung itu berhenti tepat di depan meja kerja Rayhan. Si penyusup menunduk, mengamati buku catatan hitam milik Rayhan yang terbuka di atas meja, lalu perlahan mendongak menatap tepat ke arah lensa kamera tersembunyi yang terpasang di ventilasi.
Walaupun wajahnya tertutup tudung jaket dan bayangan gelap, Rayhan bersumpah ia bisa merasakan tatapan mata dingin itu menembus layar monitor, seolah sedang menatap langsung ke bola matanya di ruangan Dio saat ini.
Bbzzzt!
Layar monitor mendadak mati total, menyisakan warna hitam legam dengan satu kedipan kursor putih di sudut kiri atas.
"Koneksi diputus paksa dari luar," napas Dio memburu, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia melepas kacamatanya, mengusap wajahnya dengan kasar. "Ray, rumahmu nggak aman lagi. Mereka udah nandain lo."
Rayhan tidak menjawab. Otaknya berputar keras, mencerna situasi yang makin di luar nalar. Ini bukan lagi soal gangguan digital atau iseng-iseng berhadiah dari anak