Tulisan tinta merah di balik foto polaroid itu mendadak terasa seperti sengatan listrik di ujung jari Rayhan. Kalimat ancaman itu bukan lagi sekadar teror abstrak di dunia maya atau suara rekaman masa depan; ancaman itu sudah wujud fisik, nyata, dan berdiri sangat dekat dengan ruang hidupnya.
Ia baru saja dari ruko Dio sepuluh menit yang lalu. Artinya, orang yang memotretnya tadi bergerak lebih cepat daripada laju sepeda motornya di jalanan kota.
"Sialan..." desis Rayhan pelan, rahangnya mengeras menahan amarah yang bercampur ngeri.
Tanpa pikir panjang, ia mencabut flashdisk hitam dari atas foto polaroid tersebut. Insting profesionalnya sebagai editor audio berteriak bahwa jawaban dari semua kekacauan ini tersimpan di dalam memori kecil berkapasitas 32 gigabita itu.
Ia menyambar laptop kerjanya dari atas meja, membuka penutupnya dengan gerakan cepat, dan mencolokkan flashdisk tersebut ke port USB.
Layar laptop menyala terang. Jendela folder otomatis terbuka, menampilkan satu file tunggal berukuran cukup besar dengan format arsip terkompresi. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Rayhan mengeklik dua kali file tersebut, lalu memasukkan password acak yang tertera di balik foto polaroid sebagai kunci dekripsi.
Loading... 10%... 50%... 100%.