Sembilan Detik Terakhir

kholid alamsyah
Chapter #7

BAB 7: Pelarian Kilat

Ruangan itu mendadak terasa begitu sempit. Jarak antara meja kerja Rayhan dan pintu utama tidak sampai lima meter, tapi jalur itu kini telah diblokir sepenuhnya oleh sesosok pria berjas hujan hitam. Bau amis logam dan kelembapan air hujan langsung menguar tajam, mengusik indra penciuman Rayhan di tengah ketegangan yang mencekat leher.

Pria itu berdiri tegak tanpa suara. Tudung jaketnya ditarik rendah, menyembunyikan separuh wajahnya dalam bayangan gelap, sementara tangannya menggenggam linggis kecil yang ujungnya berlumuran noda merah kehitaman.

"Siapa kau?!" bentak Rayhan, suaranya bergetar hebat di antara rasa takut dan amarah yang meluap. Kakinya meraba lantai, mencari benda apa pun yang bisa digunakan untuk membela diri.

Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, lalu melangkah maju perlahan. Satu, dua langkah. Suara sol sepatunya menghantam lantai keramik dengan ketukan berat yang berirama konstan—persis seperti dentang jarum jam kematian.

Panik mengambil alih. Rayhan tidak punya waktu untuk berpikir dua kali.

Lihat selengkapnya