Sepeda motor Rayhan meluncur liar membelah jalanan aspal ibukota yang mulai basah oleh gerimis tipis. Jarum speedometer menunjuk angka yang tidak wajar, namun ia tidak peduli. Di dalam kepalanya, suara isak tangis Nadia yang berteriak meminta tolong terus berputar-putar tanpa henti, beradu dengan suara deru mesin yang meraung memekakkan telinga.
Pikirannya kalut. Kepanikan merasuk hingga ke sumsum tulang, membuat sekujur tubuhnya terasa dingin meski keringat dingin terus mengucur deras dari pelipisnya.
Tujuan utamanya saat ini hanya satu: rumah kontrakan Nadia yang terletak di kawasan perumahan pinggiran kota, agak jauh dari pusat distrik utara. Tempat itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia pikirkan. Walaupun ia tahu bahaya mungkin sedang mengintai di sana, ia tidak punya pilihan lain. Meninggalkan adiknya sendirian di tangan orang-orang berjas hujan hitam itu sama saja dengan membiarkan nyawa Nadia melayang tanpa perlawanan.
Dua puluh menit kemudian, ia tiba di depan gerbang kompleks perumahan Nadia. Ia mematikan mesin motornya jauh dari blok rumah adiknya, lalu berjalan kaki mengendap-endap di balik pagar tanaman warga agar kehadirannya tidak mencolok.
Suasana kompleks itu tampak sepi. Rumah-rumah berpagar rendah tertutup rapat, menyisakan beberapa kendaraan terparkir di carport. Langkah kaki Rayhan semakin cepat saat ia berbelok ke gang kecil tempat kontrakan Nadia berada.
Jantungnya langsung mencelos begitu melihat kondisi pintu depan rumah Nadia.
Gembok kecil yang biasa menggantung di teralis besi terlihat hancur berkeping-keping. Pintu kayu berwarna putih itu terbuka lebar, memperlihatkan bagian dalam rumah yang tampak berantakan porak-poranda. Kursi ruang tamu terguling, bingkai foto keluarga berserakan di lantai, dan lampu gantung kecil berdengung lemah dalam ruangan yang kosong.
"Nadia!" teriak Rayhan histeris, berlari menerobos masuk ke dalam rumah.