Sembilan Detik Terakhir

kholid alamsyah
Chapter #9

BAB 9: Jejak Frekuensi Rendah

Langit di atas distrik utara berubah kelabu pekat, menumpahkan butiran air hujan yang semakin lebat seiring bergesernya siang menuju senja. Udara dingin berbau garam dan lumpur pesisir meresap menembus jaket Rayhan, menghadirkan rasa nyeri yang menusuk tulang di sekujur tubuhnya yang kelelahan.

Ia melajukan sepeda motornya perlahan menyusuri jalanan sempit di kawasan pelabuhan lama. Di sisi kiri dan kanannya, jejeran gudang kontainer raksasa berdiri membisu seperti batu nisan raksasa yang berkarat dimakan usia. Tidak ada aktivitas manusia di sini; tempat ini telah lama mati, ditinggalkan oleh hiruk-pikuk bongkar muat sejak pemerintah memindahkan pusat logistik ke dermaga baru sepuluh tahun lalu.

Tepat di ujung jalan buntu yang dikelilingi tumpukan peti kemas tua, bangunan yang dicarinya akhirnya muncul.

Gereja Tua Santo Lukas.

Struktur bangunan bergaya gotik itu berdiri terisolasi dalam kondisi memprihatinkan. Dinding batunya yang dulunya putih kini ditumbuhi lumut hitam pekat dan akar liar. Atapnya sebagian runtuh, menyisakan kerangka kayu lapuk yang mencuat ke langit kelabu. Namun, yang paling menarik perhatian Rayhan bukanlah arsitektur tuanya, melainkan sebuah mobil van hitam tanpa plat nomor yang terparkir tersembunyi di balik bayangan dinding samping gereja.

Rayhan mematikan mesin motornya jauh di balik tumpukan kontainer, lalu turun dengan langkah sepelan mungkin. Ia mencabut kunci kontak, meraba saku jaketnya untuk memastikan pisau lipat kecil miliknya masih berada di tempat yang aman.

Lihat selengkapnya