Sembuh Bukan Berarti Harus Melupakan

Bias Divhanka
Chapter #1

Pria dengan Dua Es Krim

Sembuh Bukan Berarti Harus Melupakan

BAB 1 – Pria dengan Dua Es Krim


Sudah enam bulan berlalu sejak semuanya berakhir. Enam bulan sejak seseorang yang kuanggap rumah memilih pergi tanpa menoleh.

Aku mengira waktu akan membuat semuanya lebih mudah. Namun ternyata tidak.

Ada luka yang semakin lama bukan semakin hilang, melainkan semakin pandai bersembunyi.

Ada hari-hari ketika aku merasa sudah baik-baik saja, sampai sebuah kenangan datang tanpa permisi dan membuat semuanya terasa seperti baru saja terjadi.

Sore itu, aku duduk sendirian di bangku taman. Buku catatan kecil berada di pangkuan. Pena bergerak perlahan, menuliskan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak yakin ingin kubaca kembali.

“Kalau terus menulis dengan wajah sesedih itu, bukunya bisa ikut depresi.”

Aku menoleh. Seorang pria berdiri di depanku sambil membawa dua cone es krim.

Aku mengernyit. “Apa?”

Dia tersenyum. “Aku beli dua. Sayang kalau satunya meleleh.”

Lalu tanpa menunggu jawaban, dia menyodorkan satu es krim itu kepadaku.

Aku tidak mengenalnya.

Tidak tahu siapa namanya.

Tidak tahu dari mana asalnya.

Aku menatap es krim yang masih terulur di depanku, lalu menatap pria itu.

“Kalau aku bilang tidak mau?”

Pria itu mengangkat bahu. “Ya sudah. Aku makan sendiri.”

“Kenapa memberikannya padaku?”

“Kebetulan kau ada di sini.”

Aku kembali mengernyit.

“Itu alasan yang aneh.”

“Memang.”

Jawabannya membuatku kehilangan bahan untuk membantah. Sesaat kemudian aku menerima es krim itu.

“Terima kasih.”

“Nah, begitu lebih baik.”

Aku tidak langsung memakannya. Entah kenapa masih ada sedikit rasa curiga.

Mungkin karena beberapa bulan terakhir mengajariku bahwa tidak semua orang datang membawa niat baik.

Pria itu seolah bisa membaca pikiranku.

“Tenang saja. Aku bukan penculik.”

Aku hampir tersedak oleh udara.

“Aku juga tidak berpikir sejauh itu.”

“Tapi kau curiga.”

Lihat selengkapnya