Sembuh Bukan Berarti Harus Melupakan

Bias Divhanka
Chapter #3

Setelah Runtuh

BAB 3 – Setelah Runtuh


Aku tidak ingat bagaimana akhirnya bisa sampai di rumah.

Yang kuingat hanya hujan.

Hujan yang kembali turun ketika aku meninggalkan kafe. Membasahi jalanan, pakaian, dan mungkin juga air mata yang sejak tadi kutahan.

Ponsel di dalam tas terus bergetar. Berkali-kali.

Aku tidak perlu melihat layarnya untuk tahu siapa yang menelepon. Karena pada saat itu hanya ada satu orang yang sedang mencari pembenaran. Damar.

Aku menghentikan langkah di depan rumah. Ponsel kembali bergetar. Kali ini lebih lama.

Panggilan ketujuh belas.

Nama yang selama tiga tahun terakhir selalu mampu membuatku tersenyum kini hanya membuat dadaku terasa sesak.

Panggilan itu terputus. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.

‘Aruna, dengarkan aku dulu.’

‘Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan.’

‘Tolong angkat teleponku.’

Aku tertawa kecil.

Pahit.

Kalimat itu lagi.

‘Tidak seperti yang kau pikirkan.’

Jika bukan seperti yang kupikirkan, lalu seperti apa?

Bukankah aku melihatnya sendiri?

Tanganku berhenti di atas layar ketika pesan berikutnya muncul.

‘Aku bisa menjelaskan semuanya.’

Menjelaskan.

Ada hal-hal yang tidak membutuhkan penjelasan ketika kenyataannya sudah berdiri tepat di depan mata.

Aku mematikan layar.

Malam itu, tidak satu pun pesannya kubalas.

---

Rumah terasa lebih sepi dari biasanya


Dulu, sebelum tidur, aku selalu menelepon Damar. Menceritakan pekerjaan, buku yang sedang kubaca, atau bahkan menu makan malam yang gagal kumasak.

Hal-hal kecil.

Hal-hal yang dulu terasa cukup karena ada seseorang di ujung telepon yang mendengarkan.

Kini tidak ada siapa-siapa.

Aku duduk di tepi ranjang. Sebuah foto berbingkai di atas meja menarik pandangan.

Foto kami.

Diambil setahun lalu saat liburan.

Kami tersenyum ke arah kamera.

Aku meraihnya dan mengusap permukaannya dengan ibu jari.

Air mata jatuh sebelum sempat kutahan.

Satu.

Kemudian yang lain.

Di dalam foto itu, ada masa depan yang pernah kuanggap nyata.

Rumah kecil.

Pernikahan.

Anak-anak yang berlarian di ruang tamu.

Menjadi tua bersamanya.

Semuanya terasa begitu dekat ketika foto itu diambil.

Lihat selengkapnya