Sembuh Bukan Berarti Harus Melupakan

Bias Divhanka
Chapter #4

Belajar Bernapas Lagi

BAB 4 – Belajar Bernapas Lagi


Hari-hari berikutnya berjalan lambat.

Aku berhenti datang ke kafe tempat semuanya berakhir. Percakapan lama dengan Damar tidak lagi kubuka. Tiga minggu kemudian, akhirnya nomor itu kublokir.

Kupikir semuanya akan menjadi lebih mudah setelahnya.

Ternyata tidak.

Memblokir seseorang rupanya tidak serta-merta menghapus keberadaannya dari kepala.

Damar masih muncul di tempat-tempat yang tidak pernah kuminta.

Di lagu yang tanpa sengaja terdengar dari kafe.

Di rak buku yang pernah kami susun bersama.

Di foto-foto lama yang sesekali muncul sebagai kenangan. Bahkan dalam kebiasaan kecil yang belum sempat hilang sekali pun. Seperti memesan dua sedotan ketika membeli minuman. Atau menoleh ke kursi sebelah ketika menemukan sesuatu yang lucu. Lalu baru teringat bahwa kursi itu sudah lama kosong.

Di momen-momen itu aku tak pernah sendiri. Raina sering datang. Kadang membawa makanan. Kadang membawa film yang katanya bisa menyembuhkan patah hati. Meski sejauh yang kulihat, sebagian besar film pilihannya justru membuatku menangis karena tokoh utamanya ikut ditinggalkan.

“Setidaknya kau menangis karena orang lain sekarang,” katanya suatu malam.

“Apa bedanya?”

“Itu kemajuan.”

Aku tertawa kecil.

Raina memang selalu punya cara aneh untuk membuat sesuatu terasa sedikit lebih ringan. Tetapi tidak setiap malam bisa diselamatkan olehnya.

Lihat selengkapnya