BAB 5 – Pertemuan Kedua
Sabtu pagi itu taman terasa lebih ramai dari biasanya. Aku duduk di bangku yang sama seperti beberapa minggu lalu. Buku catatan berada di pangkuanku.
Sejak kejadian dengan Damar, menulis menjadi salah satu cara untuk membuat isi kepala sedikit lebih tenang.
Kubuka halaman baru.
Lalu mulai menulis.
«Aku tidak perlu melupakanmu untuk bisa sembuh.
Aku hanya perlu mengingatmu sebagai pelajaran, bukan sebagai alasan untuk terus tenggelam dalam duka yang tak berkesudahan.»
Aku berhenti.
Membaca ulang kalimat itu.
“Bagus.”
Aku menoleh.
Seseorang berdiri di samping bangku sambil membawa dua cone es krim.
Lagi.
Aku memandangi pria itu beberapa detik.
Kemudian es krim di tangannya.
Lalu kembali menatap wajahnya.
“Kau memang punya kebiasaan aneh, ya?”
Ia tersenyum.
“Aku menganggap itu pujian.”
“Aku tidak sedang memuji.”
“Sayangnya aku tetap menerimanya sebagai pujian.”
Aku menggeleng.
Entah kenapa, melihatnya lagi tidak terasa seasing pertemuan pertama.
“Kali ini rasa cokelat dan stroberi,” katanya sambil menyodorkan salah satu es krim.
“Aku tidak meminta.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa membawanya?”
Ia mengangkat bahu.
“Karena kemarin aku membeli dua.”
Aku menatapnya.
“Dan?”
“Dan ternyata aku tidak sanggup menghabiskan dua.”
Aku hampir tertawa.
“Kau bisa saja bilang ingin memberiku.”
“Aku baru sadar setelah sampai sini.”
“Alasan yang buruk.”
“Aku memang tidak terlalu pandai membuat alasan.”
Aku menerima es krim itu.
“Terima kasih.”
“Nah, sekarang baru terasa seperti pertemuan kembali.”
Aku mengernyit.
“Pertemuan kembali?”
“Iya.”
“Kita baru bertemu sekali.”
“Kalau begitu ini pertemuan kedua.”
Aku menggeleng sambil tersenyum kecil.