BAB 9 – Cerita yang Akhirnya Diceritakan
Minggu berikutnya aku kembali datang ke taman. Entah karena kebiasaan. Atau karena seseorang yang kini selalu kucari keberadaannya.
Aku duduk di bangku yang sama. Membuka buku catatan yang sama. Namun sejak kejadian di pemakaman itu, pikiranku sulit tenang. Nama itu terus muncul. Nadira.
Aku bahkan tidak tahu seperti apa suaranya. Tidak tahu bagaimana ia tertawa. Tidak tahu apa yang membuat Aksara jatuh cinta kepadanya.
Tapi aku tahu satu hal: Aku sedang berhadapan dengan seseorang yang pernah menjadi bagian besar dari hidup Aksara.
Dan yang lebih sulit, perempuan itu tidak mungkin datang untuk mengambil tempatnya kembali. Karena ia sudah tidak ada.
“Aku terlambat?”
Suara dari belakang membuatku menoleh.
Aksara berdiri di sana.
Membawa dua cone es krim.
Seperti biasa.
Entah kenapa, melihatnya kembali membuatku lega. Dan rasa lega itu justru membuatku kesal pada diriku sendiri.
“Aku tidak sedang menunggumu.”
Aksara terkekeh. “Tentu saja.”
Ia duduk di sampingku.
Untuk beberapa saat kami hanya diam. Biasanya diam di antara kami terasa ringan. Pagi itu tidak. Ada sesuatu yang menggantung di antara kami.
Aksara mungkin merasakannya juga. Karena akhirnya ia berkata,
“Ada yang ingin kau tanyakan?”
Aku menatapnya.
Lama.
“Aku melihatmu minggu lalu.”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Di pemakaman.”
Aksara tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke hamparan rumput di depan kami.
“Aku tidak sengaja melihatnya,” kataku cepat. “Aku tidak bermaksud mengganggu.”
“Aku tahu.” Jawabannya pelan.
Aku menggigit bibir bawah.
Masih ada keraguan untuk bertanya. Namun akhirnya nama itu keluar juga.
“Nadira siapa?”
Aksara terdiam.
Cukup lama.
Ia menatap es krim di tangannya yang mulai mencair sebelum akhirnya berkata,
“Nadira adalah tunanganku.”
Aku tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu terasa begitu berat.