BAB 11 – Surat dari Masa Lalu
Langit sore mulai berubah jingga ketika aku tiba di rumah. Setelah berpisah dengan Aksara, langkahku terasa lebih ringan dari biasanya. Aneh. Hidupku sebenarnya belum berubah. Aku masih tinggal di rumah yang sama. Masih menjalani pekerjaan yang sama. Masih menjadi Aruna yang sama. Namun beberapa waktu terakhir, aku mulai bisa menjalani hari tanpa terus menghitung seberapa jauh aku sudah melupakan Damar.
Mungkin itu kemajuan.
Atau mungkin aku hanya mulai lelah melawan sesuatu yang sudah terjadi.
Aku membuka pagar rumah lalu berjalan menuju teras. Saat itulah pandanganku tertuju pada kotak surat di samping pintu.
Ada sebuah amplop putih di dalamnya.
Aku mengernyit. Sudah lama tidak ada surat yang datang ke rumahku.
Perlahan aku mengambilnya.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya namaku yang tertulis rapi.
Aruna.
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Aku bahkan belum membukanya, tetapi tubuhku seolah sudah tahu siapa yang mengirim.
Aku masuk ke rumah. Duduk di sofa. Amplop itu masih berada di tanganku. Beberapa detik aku hanya memandanginya. Lalu kubuka. Dan saat melihat nama di bagian bawah surat itu, napasku tertahan. Damar.
Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali aku melihat namanya. Berbulan-bulan sejak aku memblokir semua akses yang bisa menghubungkanku dengannya. Namun satu nama ternyata masih mampu membuat masa lalu terasa begitu dekat.
Aku membaca kalimat pertama.
“Aruna. Aku tahu mungkin kau tidak ingin membaca surat ini. Mungkin kau bahkan ingin membuangnya sekarang juga. Kalau itu yang kau lakukan, aku mengerti. Namun izinkan aku menjelaskan sesuatu yang gagal kujelaskan waktu itu.”