BAB 12 – Dilema di Persimpangan
Malam itu aku tidak langsung tidur. Surat Damar masih tergeletak di meja. Aku sudah membacanya sampai selesai. Namun anehnya, justru setelah selesai membaca, kepalaku terasa semakin penuh. Dulu aku ingin tahu alasan kepergiannya. Sekarang alasan itu ada di tanganku. Tapi mengapa aku masih gelisah?
Aku memejamkan mata. Pertanyaan lama kembali muncul. Apa yang kurang dariku? Aku membuka mata. Lalu menggeleng pelan.
Tidak.
Pertanyaan itu bukan lagi milik Damar. Itu pertanyaan yang selama berbulan-bulan kuberikan kepada diriku sendiri. Dan mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari jawaban dari orang yang sudah pergi.
Keesokan paginya, langkahku kembali membawaku ke taman. Tempat yang belakangan ini terasa seperti rumah kedua. Aku duduk di bangku yang sama. Menatap jalan setapak di depanku. Tidak lama kemudian sebuah bayangan jatuh di atas bukuku.
“Kau terlihat seperti seseorang yang sedang memikirkan masalah negara.”
Aku menoleh.
Aksara berdiri di sana dengan dua cone es krim. Seperti biasa.
Aku tersenyum tipis. Namun rupanya tidak cukup meyakinkan.
Ia duduk di sampingku. “Ada apa?”
“Tidak ada.”
“Kebohongan yang buruk.”
Aku menghela napas. “Aku mendapat surat.”
Aksara terdiam.
“Dari seseorang yang dulu pernah sangat berarti.”