BAB 13 – Pertemuan yang Tertunda
Beberapa hari kemudian, aku kembali membaca surat itu untuk kedua kalinya. Aneh. Kali ini aku tidak marah. Tidak sesak. Tidak juga ingin menangis. Aku hanya merasa lelah. Bukan lelah karena Damar. Melainkan lelah menjadi seseorang yang terus meminta masa lalu menjelaskan dirinya sendiri.
Aku mengambil ponsel. Pesan Damar masih ada: “Terima kasih sudah mau bertemu.”
Pertemuan itu terjadi tiga hari kemudian. Aku memilih sebuah kafe kecil yang jauh dari tempat-tempat yang dulu sering kami datangi.
Tempat netral.
Tidak menyimpan kenangan.
Saat tiba, Damar sudah duduk di sana. Sendirian.
Untuk beberapa detik aku hanya memandanginya. Wajah itu masih sama. Namun tidak lagi terasa seperti rumah.
Damar berdiri ketika melihatku.
“Aruna.”
Aku mengangguk.
“Halo.”
Kami duduk berhadapan.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Sampai akhirnya ia berkata,
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.” katanya.
“Mulailah dari kejujuran.” jawabku.
Damar menunduk.
“Aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Aku menyakitimu.”
“Iya.”