BAB 14 – Selamat Tinggal yang Sebenarnya
Kami masih duduk di sana. Namun sesuatu dalam diriku sudah selesai jauh sebelum percakapan itu berakhir.
Damar masih berbicara. Tentang penyesalan. Tentang malam-malam ketika ia mengingat hubungan kami. Tentang betapa seringnya ia ingin menghubungiku tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.
Aku mendengarkan.
Bukan karena aku ingin kembali.
Bukan juga karena aku ingin membuatnya merasa bersalah.
Aku hanya mendengarkan. Karena dulu aku pernah berharap suatu hari ia akan menjelaskan semuanya. Dan ternyata, setelah semua penjelasan itu datang, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.
Aku tidak lagi membutuhkan penjelasannya untuk mengetahui bahwa aku layak dicintai.
Damar mengusap wajahnya. “Aku minta maaf, Aruna.”
Aku mengangguk. “Aku tahu.”
“Aku benar-benar menyesal.”
“Aku tahu.”
Ia menatapku. “Tidak ada kesempatan untuk kita?”
Pertanyaan itu membuatku diam.
Dulu, mungkin pertanyaan itu akan membuat seluruh tubuhku gemetar. Sekarang tidak.
Aku menatap pria yang pernah menjadi bagian terbesar dalam hidupku.
“Aku tidak tahu apakah kau pantas mendapat kesempatan kedua atau tidak.”
Damar terdiam.
“Tapi aku tahu aku tidak ingin mengulang hidup yang sama.”