BAB 15 – Perempuan yang Tetap Tinggal
Aku menemukan Aksara di taman pada Sabtu pagi berikutnya. Seperti biasa.
Bangku yang sama.
Pohon yang sama.
Dan tentu saja...
Dua es krim.
“Aku mulai yakin kau benar-benar punya saham di toko es krim.”
Aksara tertawa. “Kau sudah mengucapkan itu tiga kali.”
“Karena sampai sekarang aku belum mendapat jawaban yang memuaskan.”
“Karena memang tidak ada.”
Aku menggeleng pelan, lalu menerima es krim yang ia sodorkan. Anehnya, pagi itu terasa berbeda.
Lebih ringan.
Aksara memperhatikanku beberapa saat.
“Kau terlihat lebih damai.”
Aku tersenyum kecil. “Mungkin karena aku akhirnya bertemu Damar.”
Aksara tidak terlihat terkejut. Seolah sudah menduga.
“Dan?”
“Tidak terjadi apa-apa.” Aku tertawa kecil. “Dulu aku membayangkan pertemuan itu akan menghancurkanku.”
“Lalu?”
“Ternyata tidak.”
Aksara mengangguk pelan.
Aku menatap langit yang cerah.
“Aku memaafkannya.”
Untuk beberapa detik Aksara tidak berbicara. Kemudian sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
“Bagus.”
“Aku juga melepaskannya,” lanjutku.
Senyum itu masih ada. Namun matanya berubah. Lebih dalam. Seolah kalimatku menyentuh sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri.
“Aksara?” panggilku pelan.
“Hm?”
Aku ragu beberapa saat.
“Apakah kau pernah melakukan hal yang sama?”
Ia menoleh.