Sembuh Bukan Berarti Harus Melupakan

Bias Divhanka
Chapter #16

Takut Kehilangan Lagi

BAB 16 – Takut Kehilangan Lagi


Setelah pagi itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan Aksara. Bukan hanya tentang Nadira. Bukan pula tentang kehilangan yang selama ini ia simpan sendirian. Melainkan satu kalimat yang terus terngiang di kepalaku.

“Aku merasa tidak harus memikul semuanya sendirian.”

Aku menatap layar laptop di meja kerja. Dokumen yang sejak tadi kubuka belum bertambah satu kalimat pun. Pikiranku terus kembali ke taman. Ke bangku itu. Ke seseorang yang selalu membawa dua es krim.

“Aku curiga.”

Aku mendongak. Raina berdiri di depan meja sambil menyipitkan mata.

“Apa?”

“Kau tersenyum sendiri.”

Aku langsung menegakkan badan.

“Tidak.”

“Ya.”

“Tidak.”

“Ya.”

Aku mendesah.

Raina tertawa puas.

“Lalu siapa?”

“Tidak ada siapa-siapa.”

“Kalau begitu kenapa wajahmu seperti orang yang baru menang undian?”

Aku memejamkan mata.

Sepertinya salah besar mengajaknya makan siang di ruangan ini.

“Namanya Aksara?”

Aku hampir tersedak minuman.

Raina langsung tertawa.

“Nah.”

“Aku tidak bilang apa-apa.”

“Tapi ekspresimu bilang semuanya.”

“Raina.”

“Apa?”

“Kau menyebalkan.”

“Terima kasih.”


---


Sabtu pagi kembali datang. Aku tiba lebih awal dari biasanya. Bangku taman masih kosong. Aku duduk dan menunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Aku mulai melirik jam tangan.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Aksara belum datang.

Awalnya aku mencoba tenang.

Mungkin terlambat.

Lihat selengkapnya