Sembuh Bukan Berarti Harus Melupakan

Bias Divhanka
Chapter #17

Sisi yang Tidak Pernah Kulihat

BAB 17 – Sisi yang Tidak Pernah Kulihat


Dua hari setelah pesan itu, aku masih memikirkan Aksara. Beberapa kali aku membuka ruang obrolan kami. Mengetik sesuatu. Lalu menghapusnya lagi.

“Bagaimana keadaan ibumu?”

Terlalu formal.

“Semoga cepat sembuh.”

Terlalu kaku.

Pada akhirnya aku hanya menghela napas dan meletakkan ponsel. Rasa khawatir itu tetap ada.


Sabtu pagi kembali tiba. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Aksara, aku tidak menuju taman. Sebaliknya, aku berdiri di depan sebuah rumah sakit sambil membawa sekantong buah.

Aku menatap gedung di hadapanku. Lalu pesan yang kukirim semalam.

“Aku boleh menjenguk.”

Balasannya baru datang beberapa menit kemudian.

“Kalau kau tidak keberatan melihatku dalam keadaan berantakan.”

Aku tersenyum kecil. Lalu melangkah masuk.

Aku menemukan Aksara di ruang tunggu. Untuk beberapa detik aku hampir tidak mengenalinya.

Rambutnya sedikit berantakan. Matanya lelah. Kemejanya kusut. Tidak ada senyum santai yang biasa kulihat di taman. Tidak ada candaan tentang es krim. Hanya seorang laki-laki yang terlihat kelelahan karena beberapa malam kurang tidur. Namun saat melihatku, matanya sedikit melembut.

“Kau benar-benar datang.”

“Aku sudah sampai di sini. Masa pulang lagi?”

Aksara tertawa pelan.

Entah kenapa, aku merasa lega mendengarnya.

“Ibumu bagaimana?”

“Sudah lebih baik.”

“Lega mendengarnya.”

Untuk sesaat kami terdiam. Kemudian Aksara berkata,

“Terima kasih.”

Lihat selengkapnya