Sembuh Bukan Berarti Harus Melupakan

Bias Divhanka
Chapter #18

Bagian dari Masa Depan

BAB 18 – Bagian dari Masa Depan


Seminggu setelah aku menjenguk ibu Aksara, kami kembali bertemu di taman.

Bangku yang sama.

Pohon yang sama.

Dua es krim yang sama.

Namun rasanya tidak lagi sama.

Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.

Cara ia tertawa.

Cara ia mengernyit ketika berpikir.

Cara ia memandangi langit ketika sedang mengingat sesuatu.

Aku mulai mengenal seseorang yang sebelumnya hanya kukenal dari pertemuan-pertemuan singkat di taman. Dan semakin banyak yang kukenal, semakin sulit bagiku menganggap semua ini hanya persahabatan.

Pagi itu taman tidak terlalu ramai. Aku dan Aksara duduk berdampingan. Tidak banyak berbicara. Diam di dekatnya masih terasa nyaman. Namun ada sesuatu yang mengganjal pikiranku.

“Aku punya pertanyaan.”

Suara Aksara memecah keheningan.

“Apa?”

Ia menatap lurus ke depan.

“Menurutmu... apakah seseorang bisa mencintai lagi setelah kehilangan?”

Aku menoleh kepadanya.

Pertanyaan itu terasa lebih berat daripada biasanya.

“Kupikir bisa.”

Aksara diam.

Aku memandang es krim di tanganku.

“Dulu aku pikir kalau aku bahagia lagi, berarti aku mengkhianati rasa sakit yang pernah kualami.”

“Sekarang?”

Aku menarik napas. “Sekarang aku tidak tahu.”

Aksara menoleh.

Aku tersenyum kecil.

Lihat selengkapnya