BAB 19 – Belajar Berjalan Bersama
Hubungan yang baru ternyata tidak selalu dipenuhi bunga-bunga dan langit cerah. Setidaknya itulah yang mulai kusadari beberapa minggu setelah hari di taman itu. Hari ketika aku dan Aksara sama-sama memilih untuk tidak lagi berjalan sendiri.
Awalnya semuanya terasa menyenangkan. Kami lebih sering bertemu. Lebih sering bertukar pesan. Lebih sering berbagi cerita tentang hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak pernah kami ceritakan kepada siapa pun. Namun justru di situlah aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kusangka.
Luka lama ternyata tidak selalu hilang begitu saja. Kadang ia hanya tertidur. Lalu bangun kembali saat kita mulai peduli pada seseorang.
Malam itu aku sedang menunggu pesan dari Aksara. Biasanya ia selalu mengabariku setelah pulang bekerja. Namun hingga pukul sembilan malam, tidak ada pesan apa pun.
Pukul sepuluh. Masih tidak ada.
Aku mencoba menenangkan diri.
Mungkin ia sedang sibuk.
Mungkin ponselnya kehabisan baterai.
Mungkin ada pekerjaan mendadak.
Namun semakin malam berlalu, pikiranku justru semakin liar. Tanpa sadar aku mulai mengingat masa lalu. Saat Damar perlahan berubah. Saat pesan-pesan mulai jarang datang. Saat alasan demi alasan mulai bermunculan. Dan sebelum aku sadar, ketakutan lama itu kembali muncul.
Bagaimana jika semuanya terulang?
Bagaimana jika suatu hari Aksara juga pergi?
Ponselku akhirnya bergetar menjelang tengah malam. Nama Aksara muncul di layar. Aku langsung mengangkatnya.
“Hallo?”
Suaranya terdengar lelah.
“Maaf.”
Hanya satu kata. Namun cukup membuat seluruh kekhawatiranku runtuh.
“Aku baru keluar dari rumah sakit.”
Aku langsung duduk tegak.