Sembuh Dalam Sunyi

Syifa Aulia
Chapter #1

Chip Memori Itu Membekas #1

"Baba, aku mau peluk baba" kataku sambil beruraian air mata bersama adikku. Kami datang di tempat yang tidak semestinya. Hari ini aku dan adikku datang ke persidangan perceraian kedua orang tuaku. Aku diajak oleh ibuku dan pamanku bersama 3 (tiga) pengacara lainnya. Saat ini aku berusia 10 tahun dan adikku 7 tahun. Aku baru saja lulus SD (Sekolah Dasar) dan harus mendaftar SMP (Sekolah Menengah Pertama). Sementara adikku Delisa masih kelas 3 SD (Sekolah Dasar), namun jika hak asuh kami dialihkan ke ibu kami. Maka pendidikan kami harus disesuaikan dengan domisili ibu kami tinggal.

"Aku benci sekali melihat penyihir itu" ucapku ke pamanku sambil menatap sinis perempuan yang telah menghancurkan keluargaku. "Sabar yaa nak, kamu pasti kuat" jawabnya sambil menepuk pundakku. Kami semua sambil menunggu proses persidangan perdana ini selesai. Proses ini diawali dengan langkah mediasi kedua orang tuaku. Namun nampaknya ibuku menolak. Baba (ayahku) nampaknya ia menyesali perbuatannya yang kini merusak keluarganya.

Kemudian lanjut proses persidangan akan dimulai, aku menyimak prosesnya dari ruang tunggu. Aku sambil mengingat sumber masalah yang menjadi pemicu hadirnya kami semua di Pengadilan Agama. Diawali hal pertama dari memori saat aku usia TK (Taman Kanak-Kanak) yang pernah dibawa ke Kantor Polisi, sebagai saksi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialami ibuku, saat ia sedang mengandung. Ia di dorong dan dilempar cangkir oleh Baba. Usiaku saat itu masih 4 tahun namun chip memoriku tertanam tentang kisah yang kelam. Diusia itu aku sudah mahir membaca, aku membaca sebuah Surat Pernyataan Permohonan Maaf dari Baba untuk Ibuku agar masalah itu diselesaikan secara kekeluargaan. Ibuku menerima maaf tersebut, mungkin saat itu beliau masih memberikan harapan perubahan.

Kemudian hal kedua, mereka (kedua orang tuaku) tidak pernah harmonis. Suasana dirumah tak pernah hangat. Rasanya dingin bagaikan kutub utara. Peran pemimpin keluarga pun tak nampak di ingatan kami, qawwam kami tak pernah bertanya ataupun bersenda gurau dengan kami. Ia hanya sibuk dengan dunianya dan teman-temannya. Sesekali bicara hanya menyuruh kami. Pernah aku minta diajarinya untuk menyelesaikan PR ku, namun bentakan dan suara keras selalu yang ku terima.

Lihat selengkapnya