Meja makan itu selalu penuh sebelum acara dimulai—penuh piring, penuh suara, penuh orang-orang yang saling bertanya kabar dengan nada riang yang menurut Tina tidak pernah benar-benar tulus. Lebaran tahun ini diadakan di rumah Bude Sri, dan seperti biasa, rumah itu dipenuhi tawa yang datang dan pergi seperti ombak.
Tina duduk di sudut, dekat rak sepatu, memegang gelas sirop yang sudah tidak dingin lagi. Ia baru datang dua jam lalu setelah tiga jam perjalanan dari kosnya, dan sejak turun dari motor Ayah, ia sudah menghitung mundur kapan bisa pulang lagi.
“Tina makin kurus, ya?” tanya Tante Wati, sambil mencubit pelan lengan Tina. “Kenapa kerja sih di kota? Kok jarang pulang? Padahal enak tinggal kuliah doang.”
Tina tersenyum—senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Kerja sampingan biasa, Tante. Suka lembur aja.”
“Lah, kalau lembur terus, kapan nikahnya?” Tawa pecah di ruangan itu, ringan, seperti bercanda soal cuaca.
Ibu, yang duduk tak jauh dari situ sambil mengupas rambutan, ikut menimpali tanpa menoleh. “Ya gitu, Wati. Anaknya keras kepala. Dibilangin nggak pernah nurut. Dari kecil emang udah males diatur.”
Tina menatap ibunya sekilas. Ada jeda kecil di dadanya, seperti napas yang tertahan setengah detik lebih lama dari biasanya. Tapi ia sudah tahu polanya. Ia tahu persis ke arah mana obrolan ini akan berjalan, karena ia sudah menontonnya berkali-kali, di meja makan yang berbeda-beda, sejak ia SD.
“Iya, Wati, dari dulu emang gitu,” sambung Bude Sri, sambil menyodorkan piring kerupuk. “Kalau dibilangin diem aja, tapi nanti ngambek sendiri. Untung sekarang udah gede, ya, Bu Ika? Coba dulu, mikirin dia aja bikin capek.”
Ibu tertawa kecil, seolah itu lelucon yang menyenangkan untuk diceritakan berulang-ulang. “Iya, capek. Untung sekarang jauh, jadi nggak kedengeran ngomel-ngomelnya.”