Kamar kos Tina hanya sembilan meter persegi, dengan satu jendela kecil menghadap gang sempit, satu kasur lipat, satu meja belajar yang catnya sudah mengelupas di sudut, dan lemari plastik tiga susun yang berderit setiap kali dibuka. Tidak ada yang istimewa dari kamar ini. Tapi bagi Tina, ruangan sempit itu terasa lebih luas daripada rumahnya sendiri.
Ia masih ingat hari pertama pindah, delapan bulan lalu. Ayah yang mengantar dengan motor, membawa satu kasur lipat dan dua kardus berisi baju serta buku, lalu pamit setelah setengah jam saja karena harus kerja. Ibu tidak ikut. “Ngapain jauh-jauh nganter, nanti juga pulang lagi tiap bulan,” katanya waktu itu, sambil melipat baju yang akan dibawa Tina, tanpa menatapnya.
Tina tidak protes. Ia justru diam-diam lega.
Malam pertama di kamar kos itu, ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, mendengarkan suara motor lewat dari jalan raya di kejauhan, suara tetangga kos memutar lagu dari ponsel, suara air dari kamar mandi bersama di ujung lorong. Bukan suara-suara yang menenangkan, sebenarnya. Tapi tidak ada satu pun dari suara itu yang menyalahkannya.
Ia menangis malam itu. Bukan karena sedih. Ia sendiri butuh waktu lama untuk mengerti bahwa itu bukan tangis sedih—itu tangis lega, jenis tangis yang keluar setelah bertahun-tahun menahan napas tanpa sadar, dan akhirnya boleh bernapas normal.
Delapan bulan kemudian, kamar itu sudah terasa seperti miliknya. Ada rak kecil berisi buku-buku kuliah dan dua novel yang ia beli dari uang kerja sampingannya semester lalu. Ada tempelan jadwal kuliah di dinding, ditulis rapi dengan spidol warna. Ada satu foto—hanya satu—yang ia tempel di dekat meja belajar: foto dirinya dan Kala saat acara ospek jurusan, tertawa lepas dengan atribut mahasiswa baru yang konyol.
Tidak ada foto keluarga.
Bukan karena ia sengaja menghindar. Ia hanya tidak punya foto yang ingin ia lihat setiap hari.
Pagi itu, ponselnya berbunyi. Notifikasi grup WhatsApp kelas. Lalu satu pesan masuk lagi, dari nomor yang tersimpan sebagai “Ibu”—singkat, seperti biasa.
“Udah transfer kost bulan ini”
Chat singkat. Tanpa sapaan. Tina membalas, “Iya Bu, nanti aku cek rekening ya,” lalu meletakkan ponsel di meja dan bersiap kuliah.
Ia sudah terbiasa dengan pola ini. Komunikasi dengan rumah hanya terjadi seputar tiga hal: uang UKT, uang bulanan, dan uang kos. Kadang ditambah ucapan singkat saat lebaran atau ketika ada anggota keluarga yang ulang tahun—itu pun biasanya Tina yang memulai.
Ia berjalan ke kampus melewati gang kos, menyapa Bu Yuk penjual gorengan di ujung jalan, lalu naik angkot bersama beberapa mahasiswa lain yang sudah ia kenal wajahnya meski tidak tahu namanya. Rutinitas kecil seperti ini—sapaan singkat, wajah-wajah yang familier tapi tidak menuntut apa pun darinya—terasa jauh lebih menenangkan daripada rumah yang penuh orang yang katanya menyayanginya.