Tina berumur delapan tahun ketika ia pertama kali sadar bahwa ada perbedaan antara dirinya dan Rani, sepupunya yang seumuran.
Itu terjadi di rumah Nenek, siang hari sepulang sekolah, ketika ibu-ibu berkumpul di dapur sambil memasak untuk acara tahlilan tetangga. Tina dan Rani sedang bermain congklak di teras, dan entah bagaimana biji-biji congklaknya tumpah, berserakan di lantai semen.
“Astaga, Tina! Kamu tuh ya, main aja nggak becus. Ayo cepat beresin!” suara Ibu langsung keras dari dapur, meski jarak antara dapur dan teras cukup jauh untuk membuat orang bertanya-tanya bagaimana Ibu bisa tahu itu ulah Tina, bukan Rani.
Padahal yang menyenggol papan congklak itu Rani.
Tina tidak membantah. Ia sudah belajar, bahkan di umur delapan tahun, bahwa membantah hanya akan membuat suara Ibu makin keras. Ia memungut biji-biji itu satu per satu, sementara Rani duduk diam di sampingnya, ikut membantu sedikit dengan wajah agak bersalah, tapi tidak berkata apa-apa untuk membela Tina.
“Rani anteng banget ya main sama Tina,” kata Bulik Ratna dari dalam dapur, separuh bercanda. “Untung Tina nggak nular nakalnya ke Rani.”
Tina ingat menahan napas mendengar itu. Bukan karena kata-katanya keras, tapi karena nadanya begitu ringan, begitu biasa, seolah menyebut dirinya “nakal” di depan orang lain adalah hal yang wajar diucapkan sambil mengaduk sayur.
Ibu tidak membelanya. Ibu malah tertawa kecil. “Iya nih, dari kecil emang aktif banget, susah diatur. Beda sama kakaknya dulu, anteng.”
Tina tidak punya kakak. Yang Ibu maksud adalah sepupu Tina yang lain, anak dari Bude, yang sering dijadikan pembanding sejak Tina masih balita. Tina tidak ingat persis sejak kapan perbandingan itu dimulai—rasanya sudah ada sejak sebelum ia cukup besar untuk mengerti bahwa itu menyakitkan.
Rumah masa kecil Tina bukan rumah yang penuh teriakan atau kekerasan fisik. Tidak ada yang memukul. Tidak ada yang benar-benar membentak sampai tetangga dengar. Kalau ditanya orang luar, keluarga Tina akan terlihat baik-baik saja—rumah sederhana, Ayah kerja, Ibu mengurus rumah dan sesekali jualan kue kering untuk tambahan, dua orang tua yang tidak pernah bertengkar di depan umum.