Sementara untuk Kembali

Sifah Nur
Chapter #7

7. Ada Kami di Masa Lalu

“Maksudnya?”

Surya naik darah. Sentuhan tangan Pak Galih membakar amarahnya. Bagaimana bisa pria tua itu memanggil bahkan memberikan sentuhan kepada istrinya dengan sebegitunya.

“Saya tahu siapa kamu. Jadi tolong jangan menghindar.”

Sama sekali tidak ada perlawanan dari Nabila. Tangannya pun masih nyaman terkekang oleh cengkraman Pak Galih. Dan, ya. Mereka saling membalas tatapan satu sama lain. Tanpa memedulikan ada Radit, Faiz, bahkan Surya di antara mereka. Tujuan malam ini adalah melapor kehadiran sebagai warga yang baik. Seketika berubah membalik keadaan menjadi niat terselubuh Pak Galih semata.

Sebagai anak, Faiz takut jika sang ayah membuat keributan dengan tentangga mereka sendiri. Ayahnya adalah pimpinan di wilayah ini, tidak lucu kalau muncul hal yang bahkan menyulut kericuhan.

“Lepas, Yah. Kasihan Nabila,” pinta Faiz. Pak Galih mengalah dan melepas Nabila perlahan. Pak Galih sadar sikapnya tidak harus berlebihan.

Kini tidak ada yang perlu untuk ditutupi lagi, “Saya pikir, pertemuan malam ini memanglah untuk kepentingan administrasi warga. Tapi sepertinya,” Radit menekan tombol merah di layar ponselnya. Panggilan Anggi ia hiraukan.

Rencana telah gagal.

Radit mulai mengerti. Upaya mendatangkan mereka ke kediamannya adalah semata-mata rencana Pak Galih.

“Maafkan saya, Pak Radit. Saya hanya memastikan bahwa insting saya tidak salah terhadap mereka,” Ujarnya. Ketenangan di diri Pak Galih masih saja terlihat. Bahkan aura kebahagiaan begitu terpancar dari solah tubuhnya.

“Tolong, saya tidak paham dengan apa yang terjadi sekarang. Dengan segala hormat, Pak Galih. Ada apa sebenarnya antara anda dan istri saya?”

“Mas.”

Nabila takut. Suaminya dalam kondisi tidak nyaman.

“Saya bisa lihat, Nabila. Bagaimana caramu menatap pria ini. Sepanjang saya mengenal kamu, tidak ada sekalipun kamu menatap orang lain seteduh itu. Bahkan kepadaku, kepada putra kita juga tidak.”

Mereka sibuk dengan pertanyaan di kepala masing-masing. Faiz memilih menyimpan makanannya di dapur sambil terus berpikir. “Ayah juga sama. Ayah tidak pernah menatap orang lain dengan pandangan seteduh itu. Bahkan ke mendiang ibu juga tidak.” Batin Faiz.

Radit semakin tidak percaya.

“Pak Galih, saya mohon maaf atas kekacauan malam ini. Untuk perihal laporan warga saya kira tidak perlu untuk dilanjutkan. Bapak jauh lebih tahu tentang mereka.” Radit bersiap untuk undur diri.

“Baik, Pak Radit. Saya juga minta maaf atas ketidaksopanan saya. Jadi, saya anggap—“

“Tidak.”

Surya menahan Nabila agar tidak bergerak, “Saya belum mendapat jawaban dari Anda, Pak Galih.”

Masalah baru dimulai. Waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul delapan malam. Sebagaimana rencana semula, mereka akan berusaha menyelesaikan masalah kunjungan itu tidak lebih dari pukul delapan. Jika lebih dari target, sebuah rencana penyelamat telah dipersiapkan.

Anggi akan muncul.

“Assalamualaikum, permisi.”

Benar saja, Anggi muncul dengan tugasnya. Ia berharap tidak kedatangannya sebagi bentuk menjalankan tugas dengan baik. Sayangnya, itu sudah tidak diperlukan lagi.

Faiz membukakan pintu dan mempersilakan Anggi membawa Adit masuk, “Mereka masih di dalam, Bu Anggi,” Ujar Faiz sopan. Anggi panik.

Empat orang di sana tidak saling bicara. Duduk di sofa saja tidak. Jelas ada ketegangan meski tidak kentara. “Mas Radit.” Anggi angkat bicara.

Ringikan dan gumaman Adit ikut menjadi pengalih perhatian.

“Kemari, Nak. Ikut Bapak.” Surya mengambil Adit dalam diam. Anggi pun sama. Ia bingung memulainya dengan apa.

“Bagaimana, Pak Galih? Apa saya boleh mengetahuinya?”

Si kecil Adit merasakan kegelisahan Surya. Anak itu masihlah bersih. Amat sangat perasa dengan seseorang yang ada di dekatnya.

Pak Galih tidak menjawab. Nabila pun sama. Semetara Radit meminta Anggi mendekat. “Ada apa ini, Mas?” Tanya Anggi. Sedikit jinjit ia agar lebih dekat ke telinga suaminya.

“Sepertinya, sulit juga menjelaskannya. Saya juga tidak memaksa. Karena tiba-tiba saya ingat akan sesuatu. Menyadari kalau semua ini bisa saja terjadi. Nabila dulu sudah pernah bercerita. Dulu sekali. Meski saya tidak tahu siapa, melihat kejadian ini semuanya ... rasanya jadi masuk akal.”

Sesekali Surya mendesis menenangkan Adit. Anak itu mulai mengantuk dan juga kelaparan ingin menyusu.

Surya melemparkan senyumnya, mencoba bersikap lebih dewasa.

“Adit sudah mengantuk. Saya pamit.”

Pasrah sudah. Ia lantas mengambil langkah pergi dari ruangan itu. Radit sedih membiarkan Surya pergi. Pria itu membutuhkan ruang untuk berpikir.

“Mas Surya,” panggil Nabila memohon, “Nabila mohon, Mas.”

Surya mengangguk pelan memberi izinnya. “Bukankah ini yang kamu mau? Kamu sudah mendapatkan kesempatan itu. Manfaatkanlah. Saya tidak apa-apa,” bisiknya.

“Tapi, Mas.”

“Kamu akan mati merana kalau urusan hati tidak selesai.”

Dan Surya pun pergi. Lima langkahnya menuju pintu depan seketika dihentikan oleh pernyataan tiba-tiba dari Pak Galih.

“Memang pernah ada kami di masa lalu.”

Dengan tenangnya Surya tetap diam. Tidak berbalik atau sekadar merespon pernyataan itu. Yang ia lakukan hanya terus memeluk Adit dan menciumi putra semata wayangnya. Anak itu menjadi penguat bagi Surya. Memberi marka bahwa darah lebih kental dari air, dan Adit adalah segalanya di hidupnya serta Nabila yang orang lain tak punya.

Sekali pun pria yang bernama Galih itu.

***

Radit dan Pak Galih membiarkan Nabila dibawa pulang oleh Anggi sembari diantar Faiz. Putra bungsu Pak Galih masih tahu diri. Sepanjang jalan ia meminta maaf atas nama ayahnya.

Sepulangnya Surya yang membawa Adit, Nabila terisak. Badannya bergetar. Pak Galih memberikan kesempatan mereka untuk kembali pulang dan melupakan rencana laporan warga itu. Pak Galih percaya sepenuhnya apalagi dengan sebuah rahasia yang ia ketahui.

“Saya tidak tahu kalau sebenarnya Pak Galih adalah masa lalu Nabila, ibu saya.”

Ya, mereka tahu siapa Nabila, Surya, dan Adit. Pak Galih tersenyum mendengar pengakuan Radit tentang Nabila.

“Lucu, bukan? Seseorang dari masa lalu bisa datang ke masa depan.”

“Anda percaya dengan ini semua?”

Pundak Pak Galih naik sekali. “Paradoks,” sebutnya.

“Saya sudah pusing mendengarnya, Pak. Itulah kenapa saya ogah pilih belajar sains. Padahal dulu saya dapat emas di olimipade IPA waktu SMP.”

Radit dan Pak Galih mengambil posisi lebih nyaman di teras. Mereka mengamati jalanan depan yang lengang sambil membicarakan tentang masalah yang sebelumnya mereka tahu dari film saja.

“Meski saya sibuk mengurus fisika dan teman-temannya. Sekalipun saya tidak punya ide segila itu untuk mencari tahu cara kerja mesin waktu.”

Pak Galih menyerahkan lembar laporan itu. Sejak awal, kertas itu tidak dibutuhkan. Tulisan Nabila tercetak di sana.

“Empat Maret 1958. Itu yang harusnya dia tulis di sebelah namanya,” tunjuk Pak Galih di salah satu kolom.

“Itu tanggal kelahiran ibu saya.”

Radit menyerah dengan satu persatu kenyataan. Pak Galih tahu bahkan hapal.

“Saya baru tahu tanggal lahir ibu saat saya harus mengisi data diri ketika mendaftar SMA. Sejak dulu, Om saya yang mengurusnya. Satu identitas dari orangtua saya pun tidak tahu.”

Seumur hidupnya, Radit pernah sangat sakit hati dengan seseorang, Om Sabda. Pria yang merawatnya sejak bayi itu telah menyembunyikan identitas orangtuanya selama bertahun-tahun.

Radit lantas berkisah jika jarak usia ibu dan ayahnya hanya selisih satu tahun. “Mereka menikah lalu memiliki saya,” imbuhnya. Pak Galih menepuk pundak Radit.

“Akhirnya, kalian bertemu lagi.”

“Ya, mereka yang saya inginkan. Bukankah anda juga demikian, Pak Galih?”

Pak Galih menyerahkan lembaran itu. “Saya takut mengatakannya. Tapi saya tidak bisa pungkiri. Melihat Nabila dengan kondisi yang tidak jauh berbeda dari terakhir saya meninggalkannya, jujur buat saya bahagia.” Lirih, suasana haru terasa dari kalimat yang ia ucapkan.

"Kembali ke memori masa lalu."

“Anda mencintai ibu saya, Pak Galih?” Tanya Radit tiba-tiba. Sebelum pulang, ia ingin memperjelas semuanya.

“Ya.” Pak Galih menyalami tangan Radit sebagai salam perpisahan. “Saya sangat mencintai Nabila.”

***

Agaknya, Bude tahu diri atas kejadian yang baru saja menimpa keluarga tuannya. Setelah satu persatu anggota keluarga pulang membawa air mata, Bude menyambut kedatangan Radit saat pukul setengah sepuluh malam.

“Sudah pada ke kamar, Pak Radit. Kata Bu Anggi kalau bapak pulang, langsung diminta ke kamar. Katanya ada yang mau dibicarakan dengan bapak.”

“Terima kasih, Bude. Oh, ya. Nanti minta tolong dicek semua pintunya. Pintu depan dan jendela sudah saya kunci. Minta tolong untuk diperiksa seperti biasa, ya.”

Malam yang berat. Radit ingin sekali langsung melepas kepenatan di atas ranjangnya. Kepalanya menerima banyak sekali hal tidak masuk akal dalam satu jam terakhir. Pusing dan mual sampai dirasanya jadi satu. Tangannya tidak mampu lagi menggenggam sesuatu dengan kuat. Tremor yang tidak tahu waktu.

Saat berjalan menuju kamar, pandangannya beralih ke pintu di dekat tangga utama. Kamar tamu yang berisi sepasang suami istri bersama putra kecil mereka. Ingin sekali Radit memanggil dengan sebutan Bapak dan Ibu. Hanya saja, masih sulit sekal ia lakukan. Bahkan setiap Nabila mulai memanggilnya dengan sebutan Pak Radit, hilang sudah tekadnya. Raib. Hancur.

Nabila masih sangat naif. Tidak bisa hatinya dengan mudah melupakan Galih sebegitu mudahnya. Pria yang kala itu menghadirkan rasa nyaman dengan caranya sendiri. Sederhana nan indah. Tuturnya yang teduh laksana segelas es jeruk peras di siang terik. Mas Galih, begitu ia memanggilnya. Nabila tidak akan pernah lupa hangatnya pelukan pria itu. Senyumannya yang mujarab pengobat segala lara.

Jujurnya hati Nabila bisa berkata, Galih bukan pria biasa.

“Selama ini, saya tahu kamu masih memikirkan dia.”

“Sejak kapan?”

Nabila dan Surya berbaring dengan Adit tertidur pulas di antara mereka.

“Kita sudah menikah selama hampir dua tahun, Nabila.” Surya menindih jemari tangan kanannya di atas pipi kirinya. Dingin cincin pernikahan di jari manisnya merambat naik sampai ke ubun-ubun.

Dingin seperti hubungan mereka.

“Itu bukan waktu yang sebentar untuk mengenal seseorang. Kita hidup di bawah satu atap. Satu ranjang. Satu ruang dengan dimensi yang sama.”

Mau bagaimana lagi, Surya memang benar. “Dia Galih yang sama, Mas.”

Dipejamkannya mata itu. Berusaha mengulang kembali tentang kisah Galih yang pernah dituturkan Nabila. Sebelum mereka menikah dulu, separuh hari-hari kebersamaan mereka terisi dengan Galih dan semua romansanya. Dulu, Surya bahkan menjuluki pria bernama Galih itu sebagai panutan mengaet hati seorang Nabila Ayuningtyas. Ia hanya menganggap Galih sebagai kisah pengantar hubungan mereka menjadi lebih baik. Surya bisa mengenal siapa Nabila sebenarnya.

“Sangat pas dengan semua ceritamu tentang dia.”

“Mas Surya tidak nyaman dengan Mas—Pak Galih?”

“Apa harus dijelaskan juga tentang perasaan Saya sekarang, Nabila? Selengkap yang kamu pernah ceritakan tentang Galih kepada saya selama ini?” Surya masih memejamkan matanya. Enggan sedikit pun menatap mata Nabila.

Nabila memohon. Tapi suaranya seperti tercekat.

Lihat selengkapnya