Sementara untuk Kembali

Sifah Nur
Chapter #8

8. Apa Kabar, Mbak?

“Terus saya ini nanti tidur di mana, Bude? Waduh!”

Bude panik menyaksikan pemandangan siang ini. Saat enak-enak menikmati series Korea kesukaannya, suara mobil yang entah terdengar asing di telinganya tiba-tiba masuk ke area rumah. Seseorang yang lama tidak lagi Bude temui. Seingatnya lebih dari dua tahun lalu.

Dua koper dan satu paper bag bermotif batik di ruang tamu belum dipindahkan. Pak Sugeng sendiri sedang keluar membeli pupuk untuk tanaman di halaman belakang. Benar-benar hanya ada Bude dan aktor Korea yang kini sedang dalam adegan romantisnya.

Hari yang sial bagi Bude.

“Astagfirullah! Bude nonton apa itu?”

Dua karakter yang saling berbalas ciuman di layar televisi mengejutkan keduanya. Bude sigap menekan salah satu tombol pada remot untuk mematikan tayangan itu. Agak sedikit lama sebab Bude menontonnya melalui akses menonton berbayar.

“Nganu, itu drama Korea. Bude juga enggak tahu ada begitunya.”

Om Sabda berkeliling melihat area dapur lalu berpindah ke tempat bermain anak-anak. “Radit dan istrinya kemana? Anak-anak?” Om Sabda ikut celingak-celinguk. Sebotol jus jeruk dikeluarkan Bude niatnya untuk suguhan selamat datang. Ala-ala di hotel begitu niatnya Bude.

Mata Om Sabda memicing.

“Saya minum air putih saja, Bude,” titah Om Sabda. Sebenarnya lebih tepat ke mengingatkan. Semua orang tahu jika Om Sabda mengidap diabetes dan sejak didiagnosa, ada batasan gula untuk segala macam makanannya.

“Oh, iya. Lupa. Maaf.”

Sumpah, Bude gugup sekali.

Kamar yang biasa ditempati Om Sabda sudah ditempati Surya dan Nabila bersama Adit. Om Sabda diberi tahu jika ada tamu sejak beberapa hari lalu dan menempati kamar tamu tersebut. Karena penasaran, Om Sabda mengamati terus kamar itu dari arah dapur bersih rumah Radit. Sebelumnya ia tidak sengaja mengintip masuk. Beberapa mainan bayi, kemeja pria dan terusan perempuan tertata di sana. Satu yang membuatnya terkejut, sebuah box bayi terpasang di dalam. Dari sanalah Om Sabda menarik kesimpulan jika mereka satu keluarga.

“Tamunya bawa bayi, ya?”

“Iya, Abah.” Panggilan Bude untuk Om Sabda. “Anaknya laki-laki, sebesar Dek Sasa,” tuturnya. Bude ingin sekali mendapat kabar tentang dua majikannya. Sempat dirinya mengirim pesan singkat ke Radit. Keponakannya itu juga sudah membalasnya. Itu belum cukup membuatnya tenang. Hingga Radit mengatakan akan segera pulang di sambungan telepon terakhirnya.

Bude lega.

Satu yang sangat Bude harapkan jika ada kejelasan tentang kepulangan majikannya secepatnya. Pesan terakhir yang dikirim Radit adalah alihkan perhatian Om Sabda selama mungkin untuk tidak menanyakan apapun tentang Surya dan Nabila.

Beres, Bude paham.

Misi Bude kini mengajak Om Sabda berkeliling di halaman belakang. Ya, setidaknya meminta Om Sabda untuk menjaga jarak berada di tempat lain. Tidak enak juga. Pasalnya, hanya ada mereka berdua di rumah. Seorang janda paruh baya dan duda pemilik yayasan pondok pesantren di satu ruangan berduaan. Bisa jadi skandal yang menarik, bukan?

"Saya ke belakang mau lihat-lihat dulu. Heran, Radit itu orang sibuk masih sempatnya ngurusin tanaman sebanyak ini. Untung istrinya telaten.”

Sejalan dengan keputusan Om Sabda yang memilih menikmati udara segara di belakang, ini jadi kesempatan Bude kembali menghubungi Radit.

“Assalamualaikum, Bude. Om Sabda bagaimana?”

“Pak, Abah lagi di belakang rumah. Saya sendirian. Pak Sugeng lagi keluar.” Suaranya berusaha dipelankan. Bude bahkan harus bergegas berjalan menjauh menuju bawah tangga.

“Bude, Om Sabda datang sama siapa? Adi? Atau Bani?” Radit menyebut dua sepupunya. Dua nama itu yang biasanya akan datang mendampingi Om Sabda setiap datang ke kediamannya. Kalau sedang dalam urusan santai, biasanya Om Sabda akan berkunjung dengan dua putranya itu. Beda lagi jika Mila ikut datang. Putri sulung Om Sabda itu telah menikah dan tinggal jauh di pulau seberang. Hanya beberapa kali saja pulang saat momen tertentu.

Bude berkata jika Om Sabda hanya seorang diri. Beliau datang dengan taksi daring. “Katanya habis ada urusan di Tuban. Mampir ke sini sebelum pulang ke Malang.”

Hanya sebatas itu yang diketahui Bude.

“Ya sudah, Bude terus pantau Om Sabda, ya. Jangan sampai—“

“Abah sempat tanya soal tamunya, Pak.”

Radit mengerem mendadak. Tangannya gemetar memegang kemudi. “Katanya, Abah kenal waktu lihat bajunya Nabila. Tapi terus diam saja, Pak.”

Bude memejamkan matanya takut. Di sisi lain, Radit dan Surya juga sama kalutnya.

“Pak Radit. Pak Radit baik-baik saja?” Surya kaget bukan main. Ia mendapati Radit kembali menekan pelipis dekat matanya. Sesekali mendesis pelan. Lepas dari panggilan Bude, Radit mencoba melihat keadaan tiga putranya di bangku tengah.

Aby berbisik ke Reza. Anak itu menyadari sikap Papanya berbeda dari biasanya. “Papa sakit ya, Bang?” Si perasa yang begitu peka. Aby jelas mengkhawatirkan Papanya.

“Om Surya bisa nyetir? Gantiin Papa bisa nggak?” Reza memohon begitu juga si kembar. Surya ikut memohon. Mungkin ia belum pernah mengendarai mobil sejenis itu sebelumnya, tapi setidaknya dasar menyetirnya sudah sangat baik.

Radit menoleh sebentar untuk menyampaikan dirinya baik-baik saja. Ia janji akan merasa kembali baik. Radit mengatakan nanti ia akan coba meneteskan obat mata jika sudah sampai rumah.

“Hanya sakit biasa, kok. Kalian tenang, ya. Papa akan pelan-pelan nyetirnya.” Radit masih sempat tersenyum di tengah menahan ketidaknyamanan. Rasa berat di mata dan tremor di tangannya.

“Itu tangan Papa getar.” Uqy menunjuk tangan Radit ragu.

Apa yang dilihat Uqy sama dengan yang dilihat oleh Surya, Reza, dan Aby. Seketika Radit cepat berusaha menangkupkan tangannya. Radit menarik napas dalam dan melepaskannya perlahan. Ia menyerah. Ia sedang tidak baik-baik saja.

“Tolong, ya,” Radit tidak sanggup.

Menyerah.

“Begitu, dong. Jadi orang yang nurut.”

Radit tersenyum kecil. Hati kecilnya berkata, oh begini rasanya dimarahi oleh Bapak sendiri. Sepakat, Radit keluar dan berganti posisi dengan Surya. Tiga anak di belakang bersorak senang sekaligus penasaran. Bisakah orang kuno ini mengendalikan mesin besar yang mereka tumpangi.

“Pak Radit, tolong jelaskan sedikit, ya. Kok, banyak sekali yang beda sama mobil saya di rumah.”

Tipe mobil SUV yang mendapat julukan Pipi oleh anak-anak ini jadi benda asing kedua yang pernah dipegang oleh Surya setelah ponsel pintarnya. Meski terlihat jauh sangat berbeda dengan mobil yang biasa ia kendarai, mobil Radit ini masih bisa ia pahami cara kerjanya. Tidak banyak berbeda. Ditambah ia sudah memiliki kemampuan menyetir yang lumayan. Surya mengaku paling canggih mobil ia kendarai adalah mobil bosnya saat membantu mengantarkan barang.

“Asal kita taat aturan, tidak ada polisi yang berani tilang.”

Radit mengkhawatirkan masalah itu. Andai saja ada pemeriksaan dadakan, bisa gawat. Bagaimana jika ada polisi yang menghadang dan menanyai SIM milik Surya sebagai pengemudi? Bisa kacau semuanya.

Mobil bergerak lancar. Beberapa meter telah dilampauinya.

“Saya sudah jago, kan?” Ujar Surya setelah berhasil menggerakkan mobil itu melewati tikungan. Mereka melaju di sepanjang jalan utama dengan panduan Radit dari bangku penumpang.

Anak-anak juga mulai tenang. Reza masih terjaga bermain ponselnya sementara si kembar sudah terlelap di bangku masing-masing. “Bapak harus periksa ke rumah sakit, Pak. Sepertinya—ya, maaf. Bukan maksud hati menakut-nakuti, kondisi mata Pak Radit harus cepat diperiksa. Takutnya kalau lama-lama bisa jadi lebih parah.” Tepat di lampu merah, Surya memeriksa keadaan Radit yang bersandar lemas di bangkunya.

"Takutnya kena katarak."

Radit mendelik, "Saya tidak setua itu, ya."

Surya minta ampun. Mulutnya terkadang suka berlebihan.

“Om Sabda di rumah. Saya bingung harus bilang apa.”

“Saya juga tidak tahu, Pak.”

Perbincangan dua orang dewasa di depan terdengar oleh Reza. Tanpa sengaja ia ikut berusul, “Papa tinggal bilang saja apa adanya,” kata Reza santai. Suara kemenangan dari permainan onlinenya menggema.

“Bang,” Radit terkejut bukan main. Bukan karena ia tidak sadar Reza masih bangun, tapi dengan pernyataan anak itu tadi. Ada hal yang membuat Radit sadar.

Reza sudah tahu semuanya.

“Aku minta maaf sama Om Surya. Aku sempat dengar Om Surya ngobrol sama Tante Nabila soal ...," Surya ikut terdiam mendengar penuturan Reza.

Reza menatap Papanya dengan pandangan memelas. Reza sudah cukup besar mengetahui tentang banyak hal dan menyangkutpautkan dengan sebuah kebetulan. Tentang nama orangtua Papanya yang sama dengan Surya dan Nabila. Nama bayi kecil yang sejak awal tiba dipanggil sama dengan nama Papanya sendiri.

“Paling masuk akal, ya, tentang Kakek Sabda. Aku senang waktu tahu kalau Papa akhirnya bisa bertemu dengan ...," Reza menarik napas sebelum melanjutkan, "aku juga mau suatu saat ada dua orang yang datang dan bilang ke aku kalau mereka adalah ...."

“Abang,” Radit memanggil putranya itu dengan sangat halus, “Abang mau tidak janji ke Papa?” Putusnya segera.

“Apa itu, Pa?” Suara Reza bergetar.

“Abang janji, jangan pernah tinggalin Papa. Jangan pernah lupakan Papa."

Air mata Radit tiba-tiba turun di sisi matanya yang nyeri. Reza tahu itu. Banyak orang yang menyebut nasib mereka itu sama. Kehilangan orangtua sejak usia balita. Diasuh oleh mereka yang sangat memberikan perhatian luar biasa. Sejak memorinya belum bisa dibuat untuk mengingat satu nama pun. Reza dan Radit tumbuh menjadi manusia yatim piatu kuat. Mereka tahu rasanya tidak mengenal orangtua kandung mereka. Cita-cita mereka juga sama, ingin bertemu kembali dengan orangtua kandung mereka.

Radit berhasil. Sedangkan Reza entah.

Radit dengan Om Sabda. Sedangkan Reza dengan Radit itu sendiri. Radit bersyukur ia memiliki Om Sabda. Kehadiran Om Sabda dalam hidupnya menciptakan satu energi besar. Radit tidak mau ada anak yang bernasib sama dengannya, harus menjadi seorang diri.

Oleh sebab itu Reza adalah jawabannya. Reza adalah tanggung jawabnya. Reza mau terus menjadi putranya.

“Papa tetap jadi Papa aku. Janji, Pa. Papa tenang, ya. Semua akan baik-baik saja. Benar begitu kan—Kakek Surya?”

Radit genggam tangan Reza begitu erat. Reza memanglah bukan darah dagingnya, tapi ikatan batin mereka jauh lebih kuat dibandingkan apapun. Reza telah mewakili yang selama ini sulit sekali Radit sampaikan.

“Papa panggil, dong. Kakek pasti mau dengar,” liriknya ke arah Surya.

Permintaan Reza bertepatan dengan ponselnya berbunyi. Bukan panggilan atau pesan singkat dari Bude, tapi dari Doni.

Positif, Dit. Cocok semua.

Tulis Doni dengan satu lampiran dokumen. Hasil laboratorium pemeriksaan DNA yang sempat diminta Radit.

Tangis Radit pecah sudah. Reza ikut terisak melihat Papanya menangis. Anak itu benar, sudah saatnya Radit bisa memanggil dengan sebutan yang seharusnya.

“Pa, ayo panggil! Dan keinginan Papa akhirnya terwujud juga," ajak Reza lagi.

Dengan satu tarikan napas, Radit berkata, “Terima kasih, Bapak,” ucapnya pada Surya.

Surya mengangguk. Hatinya menghangat.

***

Sambil melipat tangannya di depan dada, siapapun yang melihat Anggi sekarang pasti akan bertanya-tanya. Ada apa gerangan seorang wanita dengan botol susu di saku blazernya berdiri seorang diri dengan tangan terlipat sedemikian rupa. Wajahnya tidak menandakan ada ketenangan. Kesan yang dapat dilihat oleh mata siapapun adalah wanita atau lebih tepatnya ibu-ibu yang kapan saja siap menerkam siapapun yang berani mengusiknya.

“Coba ditelepon saja, Bu."

“Jangan, Mas Radit kalau sedang banyak pikiran jangan terlalu banyak diberi tekanan. Emosinya bisa tidak terkendali.”

Dari terakhir titik yang diberikan oleh Radit, diperkirakan mereka sampai tidak lama lagi. “Saya kirim pesan ke Mas Surya juga tidak dibalas, Bu,” kata Nabila dari dalam mobil. Ia menemani dua anak kelelahan di dalam. Shanum dan Adit tertidur di atas car seat masing-masing.

Nabila masih dengan sabar memandang layar ponselnya. Pesan itu tidak kunjung tiba. Biasanya, apapun yang datang dari dirinya, Surya tidak akan memberikan kesempatan Nabila menunggu lama.

“Kamu benar-benar marah, Mas?” Gumamnya.

Sepanjang pernikahannya bersama Surya, baru kali ini Nabila takut. Takut untuk kehilangan Surya yang dulu.

Lalu lalang di area masuk perumahan tidaklah banyak. Jadi, ketika ada sebuah mobil hitam mendekat dan Anggi kenal siapa pemilik mobil itu, dirinya lega dan bergegas mendekat. Anggi bersyukur suaminya baik-baik saja. Nabila pun keluar dan melihat sendiri. Dari pintu bangku kemudi itu, keluarlah Surya dengan wajah tegang.

Bukan Radit.

“Loh, Mas Radit mana?” Anggi terkejut menyaksikan bukan suaminya yang semestinya keluar dari sana. Tetapi Surya meminta tenang para wanita itu.

Tidak jelas bagi Anggi dan Nabila, keduanya melihat sendiri saat Surya menghampiri pintu penumpang depan dan membantu Radit keluar. Mereka berbicara tapi terhalang oleh pintu. Dan saat Radit ikut keluar, Anggi lebih dulu berlari menghampiri suaminya. Bertanya dan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Mataku hanya sedikit nyeri, jadinya Surya yang nyetir,” jelas Radit berharap istrinya mengerti dan tidak mengkhawatirkannya berlebihan.

“Saya tidak tega, Bu. Pak Radit saya minta istirahat saja. Gantian,” imbuh Surya. Dirinya pun menjelaskan tidak ada kerusakan yang ia buat ke mobil Radit.

Nabila memberikan ponsel Anggi dengan tergesa-gesa. Ada sambungan telepon. Panggilan itu datang dari Bude, Anggi meminta persetujuan semua orang untuk mendengarnya bersama.

“Bude, semua baik-baik saja?” Tanya Anggi tanpa membukanya dengan salam. Kalau sudah kebingungan, Anggi sering lupa ini itu.

“Nduk, sudah sampai mana kalian? Om sudah sampai di sini hampir sejam, loh.”

Om Sabda yang membalasnya, bukan Bude.

“Om Sabda? Di rumah sekarang?” Anggi berusaha berbasa-basi. Padahal sebenarnya ia mati-matian menahan denyut jantungnya yang tidak karuan.

Nabila beringsut mundur namun dicegah Surya. Tangan mereka saling tergenggam. “Kita hadapi sama-sama,” ujarnya. Surya tersenyum meski canggung sekali. Surya masih belum kembali sempurna.

“Itu Sabda, Mas. Bagaimana kalau dia masih tidak suka sama kamu. Maafkan saya. Saya ...,"

“Saya tahu,” Surya melirik ke tempat putra kecilnya terlelap di dalam mobil, “kita keluarga. Sudah selayaknya untuk saling menguatkan. Saya suami kamu. Kalian tanggung jawab saya.”

Lihat selengkapnya