Sementara untuk Kembali

Sifah Nur
Chapter #9

9. Penebusan Pertama

“Om, tunggu sebentar.”

Radit menghentikan langkah Om Sabda sebelum sampai di depan gerbang rumah Pak Galih. Kotak berisi makanan di tangannya tidak tahu masih dalam posisi rapi atau tidak.

“Radit?” Kedatangan Radit begitu terburu-buru.

Mau tidak mau Om Sabda berhenti. Lambaian tangannya menyampaikan ingin diberi waktu sebentar untuk berbincang dengan keponakannya terlebih dulu. Pak Galih pun mempersilakan. Pintu gerbang kediamannya masih terbuka untuk menyambut Om Sabda malam ini.

“Maaf atas sikap Bapak tadi, Om. Bapak yang di rumah masih labil. Bapak masih sangat muda di sana.” Permintaan maaf Radit diatasnamakan untuk Surya. 

Radit sadar diri. Sebagai anak, sudah kewajibannya membela orangtuanya. Hanya saja sikap Surya beberapa saat lalu tidak bisa dibenarkan juga. “Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Om Sabda dan ... Bapak.” Radit mengatur napasnya sejenak. Bagi Radit, sulit sekali bertanya perkara yang ia sendiri tidak paham.

“Radit ini putranya Bapak, Om. Sejak kecil Om Sabda pasti tahu bagaimana inginnya Radit untuk kenal siapa Bapak dan Ibu. Bertahun-tahun lamanya Om Sabda diam. Sekali pun Om cerita, selalu tentang Ibu. Ada apa sebenarnya?”

“Dit,” Om Sabda menyentuh pundak Radit pelan, “Om mengerti kamu sudah lebih dari cukup untuk tahu masalah ini. Kita sama, bertahun-tahun dihantui dengan pertanyaan besar tentang mereka. Om hampir gila, Radit. Om dulu masih terlalu muda. Kehilangan kasih sayang orangtua, kehilangan kakak kandung yang sangat Om cintai, satu-satunya kakak ipar juga. Lalu harus dituntut untuk bisa jadi orangtua dari seorang bayi ... di saat Om sendiri belum genap enam belas tahun.”

Om Sabda menangis. Membuka luka lama yang mati-matian ia coba sembuhkan. Radit sudah dewasa. Sudah bukan waktunya lagi main kucing-kucingan tentang masalah ini.

“Saya kehilangan orangtua, Om,” ujar Radit.

“Ya, tapi itu bukan satu-satunya yang terjadi.”

Om Sabda mengusap pipi Radit seperti dulu. Cara setiap Radit menangis karena terjatuh misalnya.

“Di hari itu, Om juga kehilangan kakak yang sangat Om cintai melebihi apapun di dunia ini.”

Om Sabda pamit. Dirinya ditunggu Pak Galih di ambang pintu. Pak Galih menyaksikan ketegangan antara keponakan dan Omnya di depan rumahnya. Ingin rasanya ia menjadi penenang keduanya, tapi sepertinya tidak etis juga. Itu masalah keluarga mereka. Pak Galih tidak berhak sedikit pun untuk ikut campur.

Satu kalimat yang akhirnya Om Sabda katakan kepada Radit. Tentang inti permasalahan yang menjadi muara atas permasalahan mereka.

“Ibumu tidak pernah cinta sama Bapakmu, Radit.”

Dan Radit membeku di tempatnya. Jauh berbeda dengan sorot Pak Galih beberapa meter di depannya kini. Sorot bersahaja dari seorang pria bernama Galih, nama pria yang sangat dicintai oleh Nabila, ibu kandung Radit.

Di sisi lain, momen kaku antara Nabila dan Surya semakin parah. Beruntung ada Adit sehingga interaksi keduanya masih ada meski sangat terbatas.

“Mas Surya,” panggil Nabila, “Mas mau ke mana? Ini sudah malam.”

Surya membawa ponselnya bersiap keluar kamar. Adit sudah tidur selepas disusui oleh Nabila. Surya semenjak masuk kamar lepas dari ketegangan di ruang makan tadi memilih menunaikan salat Isya seorang diri. Lalu sekarang, ia bergegas merapikan selimut. Lalu mengambil ponselnya berniat pergi.

“Reza butuh bantuan PRnya. Malam ini saya tidur dengan Reza.”

“Bagaimana dengan Adit?" Nabila mencegahnya. "Kalau dia bangun, pasti cari kamu, Mas.” Nabila memohon.

Surya tersenyum. “Adit itu dengan siapa saja mau. Asal ditemani. Sekali pun saya pergi atau kamu juga tidak ada, Adit pasti masih bisa bertahan. Karena dia anak yang kuat.” Surya pergi juga. Meninggalkan Adit, Nabila, dan tangisannya.

***

Sebenarnya, Radit sudah tidak lagi enggan untuk kemana-mana. Sayangnya, sekotak kue yang masih ia bawa tidak tahu harus diserahkan kemana. Pulang pun pasti Anggi marah. Kue itu sengaja disiapkan untuk tetangga mereka. Jadi bagaimana bisa dibawa pulang kembali? 

Dengan kondisi kue saling terbalik seperti itu, malu juga Radit membawanya. Sekalipun rasanya enak tapi penampilan yang acak-acakan, tidak enak sekali untuk diberikan ke orang lain. Radit benar-benar bingung. Masalah Surya dan Om Sabda saja belum usai. Radit tidak mau menambah beban pikirannya dengan bersitegang bersama istrinya.

Gerbang rumah Steven tidak rapat tertutup. Celah selebar tubuh orang dewasa di sana. Radit dengar sendiri suara Steven marah-marah dengan memakai bahasa yang campur aduk. Indonesia, Mandarin, bahkan tidak jarang Jawa kasar ikut terlontar. Sumpah serapahnya lebih dominan bersahutan.

“Papi pusing, Ven. Pokoknya nanti souvenirnya pakai yang pertama. Itu kan cuma buat keluarga. Tamunya ndak usah. Masa ndak mau itu vendornya ganti barang?”

“Tapi yang dipesan itu gambar naga, Pi. Gambar phoenixnya nggak pake.”

Radit benar-benar ingin pulang sekarang. “Berat sekali hari ini,” gerutunya. Lepas dari peran keluarga sendiri, keluarga tetangga pun sepertinya sama.

“Biarlah kena marah Anggi. Capek.“

“Pak Radit?”

Panggil Steven seketika menghentikan niatnya pulang. Radit tersenyum dipaksa. “Malam, Steven,” sapa Radit lemas.

“Ayo masuk, Pak. Malam-malam, nih.”

“Oh, saya cuma sebentar. Ini, aduh ... tapi sedikit berantakan. Saya buru-buru tadi.” Radit menatanya kembali sekenanya.

Diserahkannya kotak itu kepada Steven. Tidak lupa Radit meminta maaf dengan makanan yang ia bawa. “Wah, kue kukus. Mekarnya bagus sekali, Pak. Buatan Bu Anggi?” Tanya Steven sambil menunjukkan satu buah kuenya.

“Itu yang buat ...,“

Seseorang lebih dulu berteriak kencang sekali. “Bolu kukus!” Pekiknya. “Demi Tuhan, Steven. Malam-malam begini ada yang jual?” Pelan namun pasti ia datang.

Namanya Samuel Hartiono atau banyak orang memanggilnya Koh Giok. Dikenal pekerja keras sejak muda. Banyak usaha miliknya tersebar di penjuru Jawa bahkan Sumatera. Hanya beberapa kali Radit bertemu Papi Steven itu. Beliau lebih banyak tinggal di Bangka Belitung, asal mendiang istrinya.

“Om Samuel. Selamat malam,” Radit menjabat hangat tangan Om Samuel ramah.

“Sudah lama tidak bertemu. Semakin gagah saja, Pak Radit. Hanya sedikit pucat.” Lalu Om Samuel terbahak. Giginya utuh di usianya yang menginjak 73 tahun. Tentu itu gigi palsu, cerita Steven pada suatu kesempatan.

“Pak Radit itu orang sibuk, Pi. Belum lagi ngurus keluarga. Itu si Sasa pasti lagi lincah-lincahnya.”

Radit pun ditawari untuk masuk. Sebagai tetangga yang baik, Steven dan Papinya berubah bersikap ramah seolah tidak pernah terjadi cek-cok di antara keduanya. “Sepertinya saya langsung pulang saja. Sudah malam. Saya hanya mau antar kue ini. Baru dibuat tadi sore. Di rumah buat banyak,” tutur Radit. Ia pun meminta maaf dengan keadaan kue yang dibawanya.

“Yang penting rasanya, Pak Radit.” Steven mengucapkan terima kasih lagi. Beda dengan Papinya, Om Samuel tanpa banyak berpikir langsung melahapnya.

Dada Radit berdetak lebih cepat. Penyebabnya adalah perubahan ekspresi Pak Samuel itu sendiri. “Rasanya tidak asing,” gumamnya, mulutnya penuh.

“Enak, Bu Anggi kan pinter buat kue.”

“Sebenarnya ini buatan orang lain. Istri saya cuma bantu.”

Mereka menyaksikan sendiri Pak Samuel menghabiskan satu buah kue hingga habis. Mukanya sumringah bahagia. “Beli di mana, Pak Radit? Jadi ingat kue buatan istri pegawai Papi waktu di pabrik sepatu dulu, Steven." Pak Samuel langsung menelannya. 

"Papi pernah pesan buat acara Imlekan di pabrik. Tapi sekali. Soalnya dia bilang baru punya bayi, terus susah mau buat lagi ....” Cerita Pak Samuel bernostalgia. 

Ting! Ponsel Radit berbunyi, pesan dari Anggi masuk. Shanum bangun dan menangis mencari Papanya. Begitu inti pesannya.

Beberapa pekerjaan untuk besok juga harus segera Radit bereskan. “Sebelumnya mohon maaf, tapi sepertinya saya harus pulang dulu, Om dan Steven. Maaf mengganggu istirahatnya. Saya pamit pulang dulu.”

“Oh ya, Pak Radit. Sekali lagi terima kasih kuenya. Buat hati saya nostalgia!”

Radit tidak banyak menjawab dan langsung pergi ke rumahnya.

Kondisi rumah sudah sepi. Bude masih nyaman dengan cucian piring kotornya. Berdendang seorang diri memecah kesunyian di hunian besar itu. Satu persatu Radit perhatikan. Biasanya, rumah akan sesepi ini kalau sudah menginjak pukul sepuluh malam ke atas. Berbeda dengan hari ini. Belum sampai jam di dinding pukul sembilan malam, kondisi rumah sempurna sepi. Anak-anak sudah masuk ke kamar masing-masing. Begitu juga yang lainnya.

“Sampai lupa.” Shanum pasti menunggu Radit di kamar.

Anggukan Bude tanda mengerti dan menerima titah Radit. Jangan menutup pintu depan sebab Om Sabda masih di luar. Baru saja menginjakkan kaki di lantai dua, suara Shanum sudah menyambutnya. 

“Itu Papa, Dek,” kata Anggi sepintas ia dapati suaminya terlihat.

Radit mendengar ada Surya di kamar Reza. Bertanyalah ia kepada Anggi mengapa Surya bisa ada bersama si sulung.

“Bukankah lebih baik begitu? Kayak kita nggak pernah berantem saja, Mas.”

Begitu jawaban Anggi. Shanum ia serahkan untuk digendong Radit sebentar. Sejak tadi ia tahan untuk buang air kecil. Kasihan kalau Shanum ditinggal sendiri.

“Dan Reza jadi safe placenya? Bagus.”

Reza memang bukan sembarang anak kecil. Semakin besar dirinya jadi makin hebat memahami hidup. Entah itu untuk dirinya ataupun orang lain.

Sebotol susu formula dinikmati Shanum dalam dekapan Radit. Nyaman sekali anak itu setiap berada pada dekapan Papanya. “Kadang saya mikir, loh, nanti kalau Reza besar boleh lah ambil psikologi. Atau mungkin seperti kamu dulu, Sayang?” Usul Radit tentang masa depan putra sulungnya itu.

Semua biaya pendidikan ke empat anaknya telah Radit siapkan. Lengkap hingga jenjang perguruan tinggi.

“Biar Reza sendiri yang tentukan. Selagi itu baik dan dia mau, kita sebagai orangtua wajib mendukung. Bijak sekali, bukan?” Kata-kata yang sering sekali ia dengar di kelas parenting. Baju Anggi sudah berganti dengan piama berkancing depan. Bisa lebih mudah kalau nanti suatu waktu Shanum minta menyusu di tengah malam.

Tiba-tiba Radit punya bayangan lain tentang Reza, “Kalau tiba-tiba dia mau jadi polisi atau tentara?” Tanyanya.

“Boleh. Pasti Reza gagah banget, Mas, kalau pakai seragam. Ya, asal jangan kegatelan terus hobby DM gadis-gadis sambil bilang halo, dek. Lagi kuliah apa kerja? Geli banget dengernya.”

Keduanya lantas tertawa. Inilah yang dibutuhkan di tengah situasi serba kaku di dalam keluarga mereka. “Halah, dulu paling juga kamu seneng kalau ada yang SMS begitu. Iya, kan?” Terkadang, menggoda istri itu juga sebuah hiburan bagi Radit.

“Kalau modelannya seperti Hyun Bin atau yang lokal ... ya sebut saja mirip Aryo Bayu, Nicholas Saputra, atau mungkin Reza Rahadian,” Anggi memberikan pilihan, “bisa dibicarakan,” tuturnya. Alis kirinya naik dua kali.

Anggi membalas telak suaminya.

“Wah, mereka semua itu sudah setipe sama saya, dong.”

“GR banget jadi orang. Ampun, suami siapa ini?”

Pipi Radit mendapat tepukan sayang beberapa kali. “Ya, kan memang begitu. Mereka memang ganteng, tapi sulit diraih. Nah ini, sudah jelas di depan mata sekarang, sama gantengnya, kan?” Radit kecup bibir Anggi sejenak. Wajah sang istri langsung bersemu merah merona.

“Menurut kamu, Mas. Penting nggak sih mengungkapkan rasa cinta secara langsung?”

Radit diam. Pertanyaan seperti itu biasa keluar setiap mereka dalam posisi saling mendengar. Hati masing-masing sedang tenang, akan jauh lebih tulus ketika menjawabnya.

“Penting. Malahan sangat penting. Soalnya di tubuh kita itu ada lima indra yang berfungsi saling berkaitan. Untuk mengetahui satu hal di dunia ini, kita butuhkan lima indra itu buat bekerja, kan? Mangkanya, kalau ada satu saja tidak berfungsi, seseorang itu dikatakan tidak sempurna, walaupun kedengarannya jahat juga." Radit berkisah di tengah tangannya bermain menepuk paha Shanum. 

"Tapi tetap saja, itulah kenyataannya. Sama seperti cinta. Panca indra kita berhak melakukan tugasnya untuk mengenal bagaimana cinta sempurna itu sebenarnya.”

Penuturan Radit jadi nina bobok Shanum malam ini. Shanum sempurna terlelap meski dot dari botol susunya belum juga dilepas.

“Terus, indra mana yang belum bekerja?”

“Bukan belum bekerja, hanya minim bekerja. Bahkan sering dianggap biasa,” Radit menyelipkan anak rambut Anggi di sela telinganya, “telinga ini berhak mendengar siapa yang mencintai tuannya,” ujar Radit begitu tenang.

“Cinta itu perlu pembuktian, bukan hanya ucapan.”

“Benar sekali, sayangnya bukankah akan lebih sempurna jika cinta diwujudkan dengan tindakan dan juga ucapan yang bisa kita dengar untuk masuk dalam ingatan?”

“Cinta yang sempurna,” imbuh Anggi.

***

Papan berlapis kain flannel tebal berwarna hitam. Lembar demi lembar catatan sekolah Reza tersusun di sana. Bukan hanya itu, ada juga daftar hapalan surat Al Quran dan juga jadwal siaran langsung beberapa kreator YouTube favoritnya. Surya membacanya satu demi satu.

“Rapi sekali, Ja.” 

“Makasih, Om.”

Lalu Surya beralih mengamati satu meja ambalan berisi delapan piala kecil Reza. Untuk beberapa yang besar, harus disimpan di lemari khusus ruang keluarga. Tidak muat untuk di kamar. Di sana cukup difokuskan barang pribadi dan kebutuhan sehari-hari Reza saja.

Tidak hanya piala, beberapa foto ikut dijajar bersanding dengan mini figure kartun atau film kesukaan Reza.

“Kamu senang tinggal dengan Papa dan Mamamu?” Tanyanya. Sebuah foto Reza sedang tertawa dalam gendongan Radit jadi fokusnya. Ada juga momen ulang tahun Reza dan sunatannya tahun lalu.

Ranjang sudah dirapikan. Dua bantal disiapkan pula di sisi kanan dan kiri. 

“Gulingnya buat aku ya, Om. Aku wajib ada guling kalau tidur.”

Surya mendelik tidak mau. “Saya juga mau!” Protesnya.

“Memangnya Om Surya kalau tidur masih pakai guling?”

“Iya, memangnya kenapa?”

Reza menahan tawanya. Sekilas seperti mengejek habis-habisan. “Guling itu buat orang yang kesepian, loh. Om Surya kan sudah punya istri. Kenapa masih pakai guling? Om kesepian?” Reza mengeluarkan satu guling baru dari lemari pakaiannya.

“Kata siapa guling hanya untuk orang kesepian?”

"Papa," Reza mengingat sejenak dimana ia simpan sarung gulingnya.

"Papamu kurang kerjaan."

Guling berlapis plastik cukup besar. Reza meminta Surya membukanya sembari ia cari sarung gulingnya. Yang mampu Reza temukan di lemarinya adalah satu sarung guling berwarna hijau dengan gambar katak bermata besar.

“Pasang sendiri, ya. Bisa kan, Om?”

Cukup memasukkan guling tersebut. Tali di setiap ujungnya diserut hingga rapat. Beres. Reza dan Surya bersiap untuk tidur.

“Aku senang Om Surya ikut tidur di sini.” Mata sipit Reza semakin terpejam saat tertawa.

“Iya, Eja. Saya pengen saja tidur sama kamu. Papa kamu juga pernah tidur di sini?”

Langsung saja Reza bergumam. “He’em. Tapi jarang.”

“Ya ampun, sama saja.” Surya terbahak. Nasibnya sama dengan putra masa depannya itu. “Eh, tapi kamu belum jawab pertanyaan saya. Kamu senang tidak dengan Pak Radit dan Bu Anggi?” Surya dan Reza saling berbaring miring. Berhadapan satu sama lain.

“Tentu. Mereka satu-satunya keluargaku sekarang.”

“Pak Radit dan Bu Anggi itu bukan orangtua kandungmu, Eja.”

"Tahu, kok."

Mereka lantas sama-sama terdiam. Sudah semakin malam. Surya dan Reza disatukan dalam keheningan. Sudah lama Reza tidak membahas tentang jati dirinya lagi. “Apa aku punya salah ya, Om?” Tanya Reza tiba-tiba.

“Hah?”

Lihat selengkapnya