Sambungan telepon dengan Pak Yanto berakhir dengan pertanyaan besar kepada Radit. Sebab hanya Raditlah pemegang kekuasaan tertinggi di sekolah.
"Pohonnya ditebang saja, Pak? Takut kena gedung sebelah." Saran darinya agar pihak sekolah mau memotong pohon tua itu saja demi keamanan.
"Kalau kamu potong, sepertinya jangan, Dit." Om Sabda menggenggam tangan Surya mengingatkan. "Bapak dan Ibumu masih ada di sini. Itu mungkin saja ... apa itu namanya? Portalnya?" Om Sabda mencari-cari tahu ke sekitar rumah Pak Galih.
"Tanya Pak Galih, beliau mungkin saja paham masalah ini."
Surya meremang. Kenapa harus dengan Pak Galih lagi. Genggaman di tangannya terlepas. Om Sabda menyalami tangan Surya. Mencium punggung tangannya. Aneh memang, sosok yang dituakan malah dengan hormat mencium tangan si pemuda.
"Saya pamit. Hati-hati, ya. Mas, Mbak, kalau ada apa-apa, kabari saja."
Kini giliran Radit dan Anggi menyalami Om Sabda. Anak-anak pun begitu. Uqy menahan tangannya dari tangan kakek Sabda seraya berkata.
"Kok, Kakek panggil Om Surya sama Tante Nabila kayak gitu?"
Ada yang sadar juga.
"Em, Kakak," Uqy segera ditarik oleh Radit. "Begini, Kak. Kakek itu mau kasih tunjuk ke Kakak. Kalau kalian harus tetap menghormati yang lebih muda dibanding kalian. Seperti Kakek dan Om Surya."
Si kembar saling berbisik. Menyamakan kebingungan mereka pada situasi aneh itu. Siapa pun itu, dari dulu mereka diajarkan untuk hormat sampai mencium punggung tangan seseorang hanya untuk yang lebih tua. Tata kramanya seperti itu.
"Gak masuk akal kan, Bang Eja?" Uqy masih tidak terima.
"Diem aja. Lihat Papa, tuh," titah Reza cenderung ketus. Kedua adiknya diminta tetap berdiri tenang. Isyarat telunjuk Radit jelas. Mereka tidak diperbolehkan terlalu banyak bicara.
Mereka akhirnya menurut.
"Om harus berangkat. Takut kemalaman. Pesan Om, jangan ditebang dulu pohonnya."
Kepulangan Om Sabda meninggalkan satu misteri baru. Pohon di sekolah tempat Radit bekerja terus menjadi beban pikirannya. Untuk kesekiam kalinya, Radit harus memilih.
***
"Bisa jadi itu portalnya, Mas."
"Akses mereka datang dan kembali, begitu?"
Pesan singkat dari Pak Yanto terbaru masih saja menyarankan agar memotong pohon di halaman belakang gedung sekolah. Radit sendiri belum tahu kondisi terakhirnya. Berdasarkan foto yang dikirim kepada Radit menunjukkan tanah bagian bawah pohon naik. Paving yang baru dibetulkan oleh Pak Yanto kembali rusak. Tambahan dari penjelasan Pak Yanto sendiri coba mendeskripsikan jika terbentuk celah cukup besar pada bagian tengah.
"Itu dulunya juga sempat kena petir. Pak Yanto sendiri yang cerita," kata Radit.
"Dan kali ini kena lagi. Celahnya semakin terbuka meski belum cukup besar."
Ponsel Radit terus digunakan mengamati foto pohon tersebut. Berulang kali Anggi memperbesar tampilan gambarnya, tetap saja kurang jelas. Hanya seperti retakan dan lubang memanjang disalah satu sisi pohon. Memang tidak roboh, pohon itu tetap berdiri dengan gagahnya. Kerusakan masif terjadi pada bagian bawah saja. Itulah yang membuat Pak Yanto khawatir.
"Konstruksi tanahnya sudah tidak kuat menopang. Jalan terbaiknya memang harus ditebang."
"Terus kamu mau orangtuamu tidak bisa kembali ke masa lalu, Mas?"
Mereka paham konsekuensi apa yang nantinya akan diterima. Hanya saja, masalah portal itu belum tentu benar juga. Kejadian petir yang menyambar pohon memanglah tiba di momen yang tepat. Ketika Om Sabda dan Surya terbuka akan hati masing-masing. Diterimanya kata maaf dan kehadirannya. Lalu alam pun ikut menunjukkan dukungannya.
Kepada pohon itu.
"Om Sabda minta kita bahas masalah ini dengan Pak Galih. Mereka sudah tahu?"
Pintu kamar Radit dan Anggi diketuk pelan saat mereka telah kembali ke kamar masing-masing.
Reza memanggil.
"Sebentar, Bang!" Radit menyerahkan outer Anggi di atas meja untuk dikenakan. Takut jika Reza sampai harus masuk.
Wajah ketakutan Reza menyambut kedatangan Radit. Batin Radit langsung bisa menebak jika terjadi sesuatu dengan urusan sekolah Reza. Dengan santainya Radit bertanya, "Ada yang lupa, Bang?" Tanyanya.
"Pa, aku lupa. Bu Sri minta kumpulkan fotokopi akta kelahiran sama kartu keluarga besok. Masing-masing satu lembar." Dari raut wajahnya, Reza terdengar panik. "Mau ke tempatnya Mas Huda pasti sudah tutup." Imbuhnya. Mas Huda adalah tukang fotokopi terdekat dari perumahan. Reza biasa datang ke sana setiap membutuhkan mencetak beberapa tugasnya.
"Ya, sudah tutup, Bang. Ini sudah hampir jam sepuluh malam." Ujar Radit.
"Abang, kenapa nggak dari tadi siang bilangnya?" Anggi menghimpit tubuh Shanum dengan guling. Mau tidak mau, mendengar keluhan Reza ikut memancing dirinya untuk terlibat.
"Lupa, Ma. Maaf." Reza menunduk takut. Sangat takut.
"Kebiasaan kamu, Bang!" Singkat dari Anggi namun dalam menusuk hati.
Kebiasaan. Sering sekali seperti ini. Tugas yang mendadak harus di kumpulkan besok baru disampaikan malam harinya. Untung kalau tidak membutuhkan persiapan rumit seperti masalah fotokopi saja.
"Di print bagaimana? Papa ada filenya. Kartu Keluarga sama Akta Kelahiran kamu ada di laptop Papa. Kita print sekarang saja. Nggak masalah, kan?"
Radit mengecek laptopnya di atas meja. Sedang diisi dayanya.
"Dibuat hitam putih saja bisa sepertinya, Mas." Usul Anggi agar lebih terlihat seperti hasil fotokopi. Kalau harus datang ke tempat fotokopi, mau tidak mau Reza akan terlambat sampai di sekolahnya. Dengan cara cetak manual di mesin printer di rumah mereka bisa membantu.
"Boleh, Ma. Kata Bu Sri yang penting jelas tulisannya. Mau dibuat memperbarui data siswa."
Radit kembali ke kamarnya. "Kita bahas masalah portal itu besok setelah saya lihat kondisi pohonnya di sekolah. Saya mau bantu Reza dulu. Tidurlah dulu." Kecupan selamat tidur sampai di bibir Anggi. Pesan agar jangan terlalu malam mengerjakannya dibalas anggukan pelan dari Radit.
"Ayo, Bang. Di kamarmu atau di bawah?" Sebelum pergi, Radit sempatkan menutup pintu kamar.
"Laptop Papa memangnya sudah disetting sama printer kamarku?"
"Sudah kayaknya," seingat Radit, ia pernah menggunakan printer dari kamar Reza untuk pekerjaannya. Jadi sepertinya tidak akan jadi masalah.
Sepanjang perjalanan menuju kamar Reza, diam-diam ia mengapit lengan Radit. Bahkan wajahnya ia sandarkan nyaman di lengan terbuka ayah angkatnya itu. "Abang, kenapa? Masalah Mama tadi, ya?" Tangannya cukup luas untuk memberi tepukan wajah Reza.
"Maafkan Mama kalau tadi agak keras. Lain kali jangan diulang lagi. Abang sudah besar." Hanya dengan Radit saja Reza bisa tiba-tiba manja.
"Maaf, Pa. Aku nyusain terus."
"Papa sayang sama kamu, Bang." Cepat Radit sampaikan. "Jangan suka bilang begitu, ya."
***
Sebagai anak yang baru masuk di kelas enam sekolah dasar, Reza perlahan mulai dibebani dengan banyaknya tugas di sekolah. Tahun ajaran baru ini masih menerapkan sistem yang sama. Ujiannya hanya sebatas ujian sekolah dengan beberapa ujian praktiknya.
"Materinya dipercepat, Ma. Paling, dalam sebulan sudah harus ganti tema."
Dua buah buku kerja dengan judul tema khususnya rapi tersampul plastik mika tebal. Label bertuliskan identitas Reza juga siap di masing-masing bukunya.
"Ujian AKMnya di kelas lima saja, kan?" Anggi meminta tolong mengambilkan selotip.
"Iya. Sudah selesai itu. Gampang." Balas Reza santai.
Radit mengecup kepala si sulung setibanya ia dari lantai dua. Radit ingin mengecek email masalah minimarket di sofa depan. Kalau di kamar, suka kelewatan sampai tertidur.
"Itu baru anak Papa." Bangganya Radit tidak bisa ditutupi. Fokus Radit tiba-tiba tertuju pada beberapa lembaran di atas meja. Ada lembar kerja IPA, buku tulis, sebuah fotokopi formulir yang entah apa, dan selembar hasil cetak kartu keluarga. Surya ikut bergabung dengan sebungkus keripik kentang. Keripik dengan kemasan tabung bertutup sudah sejak pagi lalu tandas. Meski Nabila melarangnya, Surya tetap memakan keripik kentangnya itu.
Rasa sambal geprek ditulis jelas di bungkusannya. Tangan Radit terjulur meminta beberapa keping.
"Enak. Sambalnya sedikit kurang kuat." Komentar Radit.
Surya kini punya kebiasaan baru. Sepeda Radit jadi suka ia bawa keluar untuk bersepeda dan belanja camilan di minimarket terdekat dari perumahan. Belanjaan Surya pun tidak aneh-aneh. Hanya keripik kentang dan es krim.
"Sambal geprek ini sambal apa sebenarnya, Bu?" Nabila ikut merasakan keripik Surya untuk menerka rasa sambal itu. Ia tidak pernah tahu apa itu sambal geprek. Sedangkan rasa yang bisa ia tebak dari lidahnya tidak ubahnya sambal bawang biasa tanpa campuran apa-apa.
"Memang sambal bawang. Sejenis itulah. Sekarang, sambal itu dipakai untuk masakan geprek. Pakai ayam terus dipukul-pukul dicobek," jelas Anggi.
"Eh, boleh loh, Sayang. Besok kita makan ayam geprek," usul Radit.
"Buat sendiri atau beli? Susah di ayamnya, Mas. Harus di goreng tepung. Kalau mau enak harusnya dimarinasi malam ini." Menurut Anggi, proses membuat ayam geprek hanya sulit dipersiapan ayam krispinya.
Setelah Nabila mencoba mengecek kulkas, tidak ada satupun stok daging ayam yang disimpan. "Habis, Bu," seru Nabila. Hanya tersisa daging sapi, udang dan cumi untuk stok protein mereka.
"Beli saja, deh. Beres." Putus Radit disetujui oleh semua orang. Radit menjanjikan akan membeli sepulang dari kerja. Ada satu kedai ayam geprek enak di dekat sekolah tempat Radit. Reza sudah berpesan lebih dulu untuk dibelikan yang level sedang saja. Reza pernah diare hebat selepas makan ayam geprek di sana.
Semua buku baru Reza rapi tersampul. Si kembar sedang asik menyaksikan streaming di salah satu channel game. Anggi marah lepas telinganya mendengar si kembar terbahak merespon umpatan spontan dari streamer favorit mereka.
"Abbiyya! Syauqi! Matikan atau Mama rampas tabletnya."
Kemurkaan Anggi belum habis. Anak-anaknya tidak berkutik. Anggi benar-benar merampasnya.
"Ke kamar, Nak. Ikut Mama," titah Radit
Ya, Aby dan Uqy pasrah digiring naik. Anggi meminta Reza untuk membereskan buku-buku dan perlengkapan memberi sampul bukunya tadi.
"Jia Liang-Xu."
Reza menoleh singkat. Kotak pensilnya jatuh dan berhamburan di bawah meja. Nama yang disebutkan Surya adalah nama sakral bagi Reza pribadi.
"Nama bapak kamu?"
"Iya."
"Keren."
Radit tersenyum. "Nama saya juga bagus, kok," sebutnya.
"Oh, jelas. Bagus sekali." Surya tidak mungkin menyebut nama putranya sendiri jelek, bukan?
"Kamu tahu wajahnya bagaimana?"
Reza mendesah lelah. Ia menggeleng. "Cuma tahu namanya." Jarinya menunjuk nama itu di kolom bawah bertuliskan Ayah. Di sebelahnya, pada kolom Ibu tertulis nama Suhartatik. Begitulah, meski Reza sudah sah secara hukum menjadi anak adopsi Radit, pada keterangan kartu keluarga dan akta kelahirannya tetap tertulis nama orangtua biologis Reza. Status anak yang disandang Reza dibawah nama Anggi tetap tidak mengubah siapa orangtua Reza sebenarnya.
"Ayahnya dimakamkan di Tiongkok. Ibunya di sini." Cerita Radit.
"Di doakan terus ya, Abang Reza. Pasti mereka bangga punya putra yang hebat seperti Abang." Nabila memeluknya hangat. Hatinya mudah tersentuh dengan situasi semacam ini. Reza masih muda. Hidupnya bahagia dengan Radit dan Anggi tapi tidak dengan masa lalunya.
"Sudah ada Papa dan Mamamu yang sayang kamu." Surya mengacak rambut Reza kasar.
"Tapi aku masih penasaran, Om." Reza masukkan buku-bukunya ke dalam tas. "Pa, kapan-kapan kalau aku pulang pagi, boleh ya ke sekolah Papa. Aku mau ke pohon itu. Kali aja ada orangtuaku juga muncul di sana." Permintaan yang sulit. Belum pernah Reza merasa iri seperti ini. Sekali saja ia iri, itu pada Papa angkatnya sendiri.
Reza pamit ingin kembali ke kamarnya.
"Coba saja." Usul Surya. "Pohonnya masih aman, kan?"
Pagi tadi, Radit melihat sendiri bekas pohon yang menurut kabar tersambar petir di sore yang cerah. Celah yang tercipta menjadikan pohon itu semakin terlihat ringkih. Pak Yanto mengatakan kalau semakin lama bagian celah terus terbuka, pohon tidak lagi kuat untuk berdiri.
"Masih dipertahankan belum ditebang, kan?" Tanya Nabila.
"Belum. Pohon itu masih akan terus dipertahankan sampai kalian bisa kembali."
"Reza bagaimana?" Surya mencari pembelaan Nabila.
"Tidak." Tegas Radit menolak. "Masalah ini bukan untuk main-main. Kita tidak bisa mendatangkan siapa saja dari masa lalu dengan alasan seenaknya. Reza harus sadar, waktu tidak untuk dipermainkan."
Benar. Dunia ini berjalan dengan selayaknya. Bukan masalah baik atau tidak, Reza hanya ingin bernasib sama seperti Radit. Kembali bertemu dengan kedua orangtua kandungnya.
"Aku mohon, sekali saja."
Reza menangis, mendengar dari balik tembok lantai duanya. Harapannya hanya itu. Jika memang waktu bisa ia tawar, Reza akan memohon satu hari saja untuk bisa mengenal siapa ayah dan ibunya.
***
Si kembar pikir, adik mereka sudah tidak suka dengan camilan bayi sedikit hambar itu. Masih ada dua kotak. Satu rasa pisang, satu lagi rasa strawberry. Aby menunjukkan makanan itu ke saudara kembarnya. Ia bilang, Shanum menolak saat ia sodorkan makanan itu ke mulutnya.
“Sasa nggak mau.”
Kotak pembungkusnya langsung Uqy sobek. Enam kemasan terpisah di dalamnya terjatuh sempurna saat kotak dibalik. Wajah Aby sempat tegang. Itu rasa strawberry, kesukaan adiknya.
“Salah, Uqy!” Pekiknya.
“Katanya Adek nggak mau. Nih, makan.” Uqy membaginya satu bungkus. Saat Surya lewat pun Uqy ikut menawarinya.
“Mau ini, Om? Cobain, deh.”
“Keripik kentang?” Surya ragu menerima makanan itu.
“Bukan. Jajan Adek Sasa.”
Dari dapur Bude memperingatkan agar tidak memakan semuanya. Takutnya siapa tahu Shanum masih ingin memakannya nanti. “Itu makanan bayi. Ih, saya nggak mau, lah.” Tolaknya. Keripik kentang dengan rasa baru ia nikmati dengan susu coklat dalam kaleng. Surya pernah mencobanya dari milik si kembar. Sampai akhirnya saran Radit untuk mencoba yang kaleng, Surya kini jatuh cinta.
“Coba dulu, Om. Enak.” Rayu Aby.
“Jangan mau.” Anggi merampas makanan Shanum yang masih utuh untuk ia simpan kembali. “Adek lagi malas makan. Bukan berarti nggak mau, Kakak. Kalian kan punya snack sendiri. Itu ada keripik kentang.” Ia menunjuk sekantung keripik dari atas meja. Kantung kresek putih dengan logo nama minimarket di depannya.
“Eh, itu punya saya!” Surya mencak-mencak.
“Bagi sedikit. Sama cucu sendiri kok pelit.”
Uqy dan Aby saling berpandangan. Surya yang mereka kenal hanya sebatas Om-om humoris menyenangkan. Tampan meski banyak hal yang tidak ia tahu. Ketinggalan zaman kata mereka. Lalu dengan Mama mereka menyebut mereka adalah cucu Surya, bagi si kembar ... Mama mereka telah meningkatkan sense of humornya ke tingkat yang lumayan baik.
“Mama kocak!” Uqy lalu menunjuk Surya di tempatnya duduk.
“Om Surya masih muda, Mama. Belum aki-aki.” Badannya ia bungkukkan menirukan sebagian besar orang tua sebagaimana pengamatan Uqy. Tidak hanya rupanya yang sama, tingkah Uqy dan Aby bisa sangat kompak jika sefrekuensi.
Pedagang es krim keliling melintas. Suaranya khas dengan lagu dari perusahaan yang memproduksinya. “Pak, beli!” Panggil Uqy. Aby sudah berhasil ia seret keluar. Dan begitulah kebiasaan si kembar, memanggil pedagang apapun dan meminta makanan. Urusan membayar nanti. Mereka akan bilang ke Mama atau Papa mereka selepas makanan sudah di tangan.
Surya sampai menggeleng tidak percaya. Keturunannya unik sekali.
“Ma, kata Bapaknya dua puluh tiga.” Aby menunjukkan es krim cup di tangannya. Sedangkan Uqy menjilati es krim bergagang dengan lapisan coklat tebal berbintik kacang.
Anggi berkacak pinggang bersiap marah. Bagaimana tidak, sekembalinya anak-anak masuk sambil membawa es krim mereka. Tanpa babibu, Aby dan Uqy langsung melapor. Bapak berseragam merah di depan mengangguk ramah.
“Permisi, Bu. Tadi saya disuruh ke sini sama Adek-adek kembar.” Ujar si Bapak penjual es krim.
“Iya, Pak. Itu anak-anak saya. Jadi totalnya berapa, Pak?” Anggi mendekat.
“Yang pipinya ada tahi lalatnya lima belas ribu, Bu, yang satunya delapan ribu saja.” Lalu si Bapak hanya nyengir menunjukkan giginya yang gingsul.
“Ini, Pak.” Surya menyerahkan uang dari saku celananya. Anggi terkejut. “Saya ada uang kembalian dari minimarket tadi,” katanya.
“Nggak perlu. Nanti biar—“
“Buat cucu sendiri nggak boleh pelit.” Surya menggeret penjual es krim itu kembali ke dagangannya. Surya melihat es krim apa saja yang pria itu bawa. Surya jadi ingin mencicipi es krim yang dibawa dua cucunya itu.
Ya, cucu.
“Terima kasih, Pak.” Anggi tertawa menyadari ucapannya.
***
Mobil hitam dengan Radit sebagai pengendalinya terus melaju membelah jalanan utama. Padat dengan segala macam kendaraan yang melintas. Sebagian besar didominasi oleh motor dengan anak-anak berseragam dibonceng. Seperti Reza sekarang. Bedanya ia naik mobil. Lebih nyaman dan tidak kepanasan.
Pergerakan mobil rupanya berbeda dari biasanya. "Pa, aku kan kepingin ke sekolah Papa. Buat lihat pohonnya," ujar Reza.
"Pohon itu bukan untuk main-main, Bang."
"Tapi aku nggak mau main-main, Pa. Aku serius. Aku mau cari orangtua aku di sana."
Reza masih saja teguh dengan keinginannya. Sampai kapan pun jika Surya dan Nabila masih ada, Reza beranggapan jika orangtuanya bisa saja kembali.
"Tidak, Bang. Abang harus ngerti. Masalah ini bukan untuk dicoba sembarangan. Kita belum tahu jelas perkara orangtua Papa yang sekarang ada di rumah."
Sampai saat ini belum jelas tentang portal mana Surya, Nabila dan Adit datang. Satu yang jadi tebakan mereka adalah pohon di sekolah itu.
"Kenapa, Pa? Aku nggak bisa ketemu Bapak dan Ibu seperti Papa. Abang punya salah, ya? Papa orang baik. Mangkanya Allah kasih kesempatan Papa buat ketemu lagi dengan Om Surya dan Tante Nabila."
Nyeri di mata Radit kembali terasa. Terasa seperti ada yang menusuk.
"Jangan begitu, Bang. Kamu anak baik. Anak sholeh. Pintar. Nurut." Jarinya rutin menekan sekeliling matanya berharap segera reda. Radit masih harus fokus di jalanan ramai.
"Atau Papa takut aku akan lebih sayang ke mereka dibanding Papa dan Mama?"
Radit terkejut. Reza sepertinya begitu berharap dapat bertemu dengan kedua orangtuanya.
"Papa akan sedih sekali kalau itu terjadi."
Ungkapan Radit menghangatkan dada Reza. "Sampai aku mati, Papa nggak ada yang bisa gantiin. Andai aku bisa ketemu sama Bapak dan Ibu kandungku lagi, aku mau bilang kalau Papa dan Mama orang yang sangat baik."
Rambut Reza selalu lembut setiap Radit mengusapnya. Ia pernah berkata jika mungkin salah satu orangtua Reza memiliki rambut lurus yang halus juga sepertinya.
"Papa sayang sama Abang Reza. Sampai kapan pun. Papa janji. Kamu harus ingat itu."
"Papa sudah sering bilang begitu." Reza terbahak menggenggam tangan kiri Radit. Mencium punggung tangan pria yang telah memberikan dunia kepadanya.
"Pa," Reza mengamati sepanjang jalan. Itu bukan jalur untuk pulang ke rumah.
"Papa, kita mau ke mana?" Tanya Reza.
“Kita ke rumah sakit sebentar ya, Bang.”
Rupanya itu alasan Radit menjemput Reza sekolah kali ini. “Mangkanya bukan Pak Sugeng yang jemput.” Reza mengamati wajah Radit yang tampak senang dengan rencananya yang berhasil.
“Aku nggak mau ya pakai kacamata kayak Papa.”
“Lho, terus kalau kelamaan nggak periksa, kita tidak tahu seberapa parah matanya kamu, Bang.”
Keluhan Reza sudah disadari Anggi dan Radit sejak beberapa bulan lalu. Bahkan jauh sebelum Reza dikhitan. Rencana untuk periksa mata beberapa kali tertunda. Pernah jadwal berkunjung ke dokter dibuat. Namun lagi-lagi tidak sampai berangkat sebab persis di hari yang sama, ada ujian di sekolah Reza.
“Seharusnya Papa yang periksa.” Ucapan Reza bersamaan dengan lampu merah di perempatan.
Radit memejamkan matanya sesekali. Nyeri itu memang masih saja mengganggu. “Iya, sekalian Papa periksa. Asal Abang juga mau diperiksa. Setuju?” Usulnya. Radit mengulurkan tangan kananya.
“Setuju. Aku mau.” Reza memilih beradu tos dengan Radit.
"Begitu, dong. Anak Papa harus nurut."