Sementara untuk Kembali

Sifah Nur
Chapter #11

11. Izinkan Saya Tetap Mencintaimu

Kalau bicara tentang pohon di belakang gedung sekolah itu, Radit masih belum bisa mengerti bagaimana semua bisa terjadi. Radit kembali bekerja setelah masa berkabungnya usai. Kondisi kesehatannya juga mulai membaik. Tinggal pengobatan mata saja. 

"Istri saya sudah lepas kacamata, Pak. Katanya seneng. Tapi kangen pakai kacamata." 

"Istri saya juga bilang begitu. Katanya takut saya kangen pakai kacamata. Wajah saya juga jadi aneh. Sudah terbiasa," balas Radit.

Cerita Pak Andi dan Radit saat keduanya baru saja membeli makanan ringan bersama di kantin sekolah. Banyak siswa yang mengucapkan belasungkawa saat bertemu Radit. Bahkan tidak sedikit yang menyalami dengan linangan air mata. Di antara mereka, nama Reza bukan hal baru. Putra angkat kepala sekolah mereka yang ceria dan sopan.

"Saya pernah pinjam pulpen sama Dek Reza, Pak. Pulpennya terbawa saya. Ini saya kembalikan." Seorang siswa kelas 11 mengantarkan sebuah pulpen berwarna hijau ke hadapan Radit.

"Bawa saja. Reza pasti senang bisa membantu kamu belajar." Radit menatap anak itu lama. ia membayangkan andai Reza seperti itu, tumbuh tinggi dan tampan layaknya remaja.

Pak Andi meminta siswa lain segera kembali ke kelas agar tidak terlambat. Sekalian berusaha untuk menjaga perasaan Radit yang harus kembali diingatkan tentang kematian putranya.

"Namanya orang dikenal. Pasti ada saja kenangannya ya, Pak." 

Benar kata Pak Andi. Seseorang yang telah tiada, meski hilang raganya namun kenangan sosok yang begitu melekat di hati akan senantiasa terjaga. 

Hati Radit tersentuh. Putranya memang jadi anak yang baik semasa hidupnya. "Apapun rasanya ingin diberikan kalau ujungnya saya akan ditinggal seperti ini, Pak Andi," keluh Radit menyesal.

"Mendiang Reza punya keinginan yang belum terwujud, Pak?"

Radit menunjuk pohon besar di belakang gedung. "Terakhir saat di mobil, dia ingin ke sini. Mau lihat pohon yang sempat tersambar petir itu." Hanya sebatas itu ceritanya. Radit tidak mau menambahi alasan sebenarnya Reza sangat ingin datang ke pohon tersebut.

"Katanya sudah harus ditebang, Pak Radit. Sudah terlalu tua untuk ukuran sebuh pohon. Bagian tengahnya juga lapuk." Pak Andi menggambarkan situasi terakhir dari pohon itu. Beliau yang menemani pihak dinas tata kota saat meninjau pohon tua itu selama Radit cuti. Pak Andilah yang mendapat saran agar menyegerakan pemotongan pohon tersebut.

Perintah Radit terakhir sebelum kecelakaan adalah untuk mempertahankan pohon itu sebisa mungkin. Pak Andi harus mengakali dengan berbagai alasan agar pihak dinas tidak melakukan tindakan lanjutan.

"Tapi kita tidak punya banyak waktu, Pak." Pak Andi masih bersikap menghargai keteguhan Radit atas pilihannya.

"Terima kasih atas usahanya mempertahankan pohon ini, Pak Andi." Radit menghela napas dalam sambil berlalu pergi. Pak Andi cepat menyusul langkah Radit lantas bertanya.

"Maaf kalau saya lancang, Pak Radit. Saya hanya penasaran, mengapa bapak bisa seteguh ini mempertahankan pohon itu tetap berdiri?"

Raditlah yang tahu jawabannya. Sebatas kepercayaan yang belum dibuktikan secara ilmu metafisika sekalipun. Sebuah hal mengejutkan dari seorang terpelajar seperti Radit. Ia mau mempertahankan tanaman tua yang bisa saja menjadi berbahaya bagi lingkungannya. Belum saatnya ia bisa berbicara semuanya kepada orang lain. Radit hanya ingin dirinya segera menyelesaikan masalah kedua orangtuanya itu segera.

"Pak Andi," panggil Radit tenang. Pak Andi di posisinya. Mematung siap andaikan Radit kembali memberikan perintahnya.

"Iya, Pak Radit?"

"Berapa lama lagi pohon itu bisa bertahan?"

Sejenak Pak Andi mengingat apa yang sempat disampaikan oleh petugas yang datang waktu itu. Pohon itu diprediksikan bisa bertahan sekitar satu bulan. "Kalau tidak ada masalah lain yang mengganggu, faktor cuaca , mungkin ... hanya selama itu saja, Pak. Kalau tidak ada keputusan jelas dari kita hingga satu bulan mendatang, mereka akan melakukan tindakan. Ini demi keselamatan semua orang," tuturnya.

"Baiklah. Kalau memang begitu jadinya."

Sambil berlalu pergi, hati Radit menjerit ketakutan. Ia bertekat akan segera menyelesaikan masalah ini tanpa perlu ada yang tahu.

***

"Nanti kalau besar, kamu tahu harus bagaimana, kan?" Surya menemani Adit di kamar selesai mandi. Sabun mandi Shanum harus dipakai Adit mandi pagi ini. Badan Adit tiba-tiba muncul ruam dan kasar di beberapa bagian. Anggi sempat berkonsultasi melalui dokter anak langganan Shanum menanyakan masalah itu. Adit akhirnya disarankan untuk mengganti sabun mandinya dengan sabun khusus. 

Nabila menyerahkan bedak gatal khusus bayi yang baru didapatnya dari Anggi.

"Bu Anggi bilang ini buat yang bagian gatalnya, Mas." Bedak beraromakan lavender dengan sensasi dingin itu diterima Surya.

Surya mencobakan di bagian tubuh Adit. Mengusapnya perlahan sambil mengajak bayi itu kembali bicara.

"Kamu tahu, kan?" Tanya Surya tiba-tiba.

"Adit belum paham itu bedak apa, Mas."

Nabila membantu menyiapkan popok dan baju ganti. Wajah menggemaskan Adit tidak kuasa membuatnya bergeming tanpa menyapa putra kecilnya itu.

"Tapi dia yang di sini sudah tahu segalanya."

"Maksudnya?" Nabila memeriksa kondisi luar kamar. Sepi, sebab Anggi dan dan Bude asik berbelanja di tukang sayur yang baru saja lewat depan rumah.

"Pak Radit. Kamu masih belum sadar kalau Pak Radit itu adalah Adit?"

Nabila terdiam. Ia selalu enggan membahas masalah ini. Baginya, terlalu mengerikan mengetahui masa depan hingga sejelas ini.

"Pak Radit tahu semuanya. Kamu tidak mau mencari tahu tentang kita di sini? Mereka semua menyembunyikan sesuatu dari kita." 

Tugas Surya selesai. Kini akan disempurnakan oleh Nabila. Baju sudah ditambah cologne khusus bayi dipakaikan ke tubuh Adit. Tinggal rambut tebalnya yang harus ikut disisir. Minyak rambut pun tidak ketinggalan. Wanginya lembut dan khas aroma bayi.

"Saya tahu mereka mengetahui semuanya." Nabila mencium dahi Adit setelah semua tahapan mandi paginya selesai.

Sekarang giliran sarapan. Shanum di bawah sudah selesai makan saat Nabila menuju ke kamar. Bahkan teriakan Shanum yang sibuk berlarian di halaman depan bisa mereka dengar dari dalam kamar. Adit pun rupanya tertarik ingin keluar. Tangannya ia tunjuk-tunjuk ke arah pintu berharap Ibu atau Bapaknya mau membukakan pintu besar itu.

"Kita sudah melewati masa berkabung. Kita bisa mulai tanya tentang nasib kita." Surya berharap Nabila memiliki pemikiran yang sama. "Nabila, kita tidak bisa begini terus," pintanya.

Nabila hanya mengangguk. Sambil membawa Adit, ia bersiap keluar untuk menyuapi putranya itu makan. Mungkin, ikut bergabung dengan para ibu di depan rumah yang sibuk belanja cukup menarik. 

***

"Suka ikan asap?" Tanya Anggi sambil menenteng satu ekor ikan tengiri asap. Pengakuan si penjualnya, ikan itu langsung didatangkan dari daerah Bojonegoro.

"Masih bagus ikannya, Bu. Nanti bisa pakai sambal kecap. Cocok." Nabila sama semangatnya. Anggi yakin sudah cukup untuk memilih ikan asap itu hingga dua ekor. 

Seorang pria sepuh datang mengipas-kipas selembar uang dua puluh ribu untuk diserahkan ke si pedagang sayur. 

"Kembali lima ribu. Enak aja tempe nggak ada kedelainya pake dihargai mahal banget."

Si penjual pun pasrah. Susah kalau sudah berurusan dengan Pak Samuel. Anggi hanya bisa tersenyum kasihan. Bude menyerah pula dan berlalu masuk sambil membawa belanjaan mereka. Nabila menyuapi Adit dengan nasi tim gurih dan abon ayam di pondokan taman, sambil mengamati transaksi jual beli di sana. 

Suara pria itu menggelegar khas. Samar-samar ingatan Nabila pun kembali. 

"Koh Giok?" Nabila mengingat seseorang.

Belum memahami benar sosok Koh Giok yang ia kenal, buru-buru Anggi menyela. "Mas Radit bilang katanya bisa, Om. Nanti sore Om Samuel bisa bareng pergi ke rukonya." Anggi menyampaikan pesan singkat yang baru dikirim oleh Radit. Rencana mereka untuk melihat ruko Radit yang akan dibeli Steven.

"Kalau masih belum sehat betul, nanti setelah saya nikahan juga nggak masalah, Bu Anggi." Steven ikut keluar dari rumah. Ada seorang perempuan cantik bersamanya. Keduanya rapi, bahkan terlihat jelas riasan yang menempel di wajah keduanya.

Steven dan calon istrinya akan menjalani sesi dokumentasi untuk pre-wedding mereka. 

"Mas Radit sekarang ini diantar-jemput sama Pak Sugeng. Saya juga nggak berani lepas nyetir sendirian." Cerita Anggi. 

Untuk kali ini, Radit telah menjalani aktifitasnya. Kendaraan yang menjadi mobilitas Radit nantinya akan selalu dipantau oleh Pak Sugeng. Beliau akan mengantar hingga menjemput, bahkan jika harus diajak kemana pun Pak Sugeng akan selalu siap.

Mandat Anggi mutlak. Tidak bisa diganggu gugat bagi Radit sekali pun.

"Kalau begitu, nanti biar ikut kami saja. Saya sore sudah balik lagi. Satu mobil saja."

Steven tidak mau menyusahkan Radit. Toh ia juga yang harus bertanggungjawab sebagai calon pembeli. Mereka juga sudah bertetangga lama. 

"Gampang, Bu. Nanti saya hubungi Pak Radit." Steven lantas berpamitan dengan Papinya dan semua yang ada di penjual sayur itu. Sampai mobil Steven pergi keluar area perumahan.

"Persiapan sudah beres semua ini, Om?" 

"Iya, Bu Anggi. Tinggal beberapa hari lagi. Tapi masih ragu, tuh. Si Steven lagaknya masih kayak anak muda." 

Si penjual sayur sampai ikut tertawa. "Tapi memang kelihatan masih muda, Koh," sebutnya.

"Eh, Steven itu sudah kepala tiga. Pantasnya sudah punya anak segitu, tuh."

Pak Samuel menunjuk Nabila dan Adit di pondokan taman. Adit yang ditunjuk. Namun Nabila ikut merasa ditodong. Saking terkejutnya, Nabila hampir saja menjatuhkan mangkuk makan Adit.

"Kayak kenal begitu," seru Pak Samuel.

"Om Samuel pernah ketemu dia?"

Layaknya orang yang telah lama kehilangan memorinya, susah payah Pak Samuel menyebut nama mantan pegawainya.

"Surya, pegawai saya dulu, Bu Anggi. Itu mirip istrinya," tunjuknya. Pak Samuel menceritakan tentang seorang mandornya yang baik dan sangat berdedikasi.

"Terakhir saya tahu kabarnya sudah—"

"Ah, maaf. Saya permisi masuk dulu, Om. Sasa sepertinya jatuh." Anggi menyerahkan uang belanjaan untuk membayar lantas pergi.

"Hey, kamu kenal siapa perempuan di rumah Bu Anggi itu?" 

Selepas Anggi masuk mengajak Nabila, Pak Samuel berniat untuk mencari tahu. Ia sangat yakin wajah perempuan itu adalah istri pegawainya.

"Setahu saya sudah lumayam lama di sini. Katanya keluarga suaminya Bu Anggi, Koh."

"Sumpah, mirip sama istri pegawai saya dulu. Apa istrinya nggak ikut meninggal, ya?" tanya. Kepalanya mulai pusing.

"Tahun berapa pegawai Koh Giok meninggal?"

"Sekitar delapan puluhan. Saya pegang pabrik sepatu akhir tahun tujuh sembilan."

"Ngarang!" Seru si penjual sayur dengan mengejek, "itu perempuan wajahnya saja belum kelihatan empat puluh tahun, Koh." 

"Iya juga, ya. Aneh. Apa kepala saya mulai kurang sehat lagi." Kepalanya terus dipukul. Pak Samuel izin kembali pulang setelah uang kembalian ia dapatkan. Tinggallan seorang ibu dan dua orang baru dari luar perumahan yang ikut berbelanja.

Sementara itu, Anggi dengan paniknya menggendong Shanum. Bude kebagian membawa belanjaan untuk segera diolah.

"Ngaku sama saya. Kamu kenal sama Om Samuel?" Tanya Anggi langsung pada permasalahan.

Mendengar istrinya bak diadili, Surya ikut mencari tahu. "Kenapa, Bu Anggi?" Surya menutup tabung keripik kentangnya. Adit lebih memilih ikut dirinya saat ibunya juga dalam posisi kebingungan.

"Kalian pernah kenal dengan seseorang yang namanya Samuel?" Tanya Anggi. Ia lantas teringat dengan undangan pernikahan Steven yang sudah ia terima. Pada bagian nama orangtua mempelai pria, tertulis nama sang ayah.

"Samuel Hartiono atau Tan Swie Giok." 

Lembar undangan merah tebal itu diserahkan ke hadapan Surya. 

"Ini ... nama bos saya di pabrik, Bu. Kamu ingat Koh Giok kan, Bil?"

Nabila pun ingat. "Ingat, Mas. Ternyata Koh Giok rumahnya di sebelah," tukas Nabila. Surya ternganga.

"Mati aku!" Pekik Anggi. "Kenapa dunia jadi sesempit ini, sih?"

"Memangnya kenapa, Bu?" Surya masih belum paham.

"Om Samuel tadi sempat kenali Nabila. Tapi beliau seperti kurang yakin. Takutnya, saat lihat kamu, Om Samuel bisa ingat tentang kalian ... ini bisa semakin bahaya."

Satu lagi muncul masalah baru. Seseorang dari masa lalu mereka hadir kembali.

"Itu artinya, waktu kita semakin terdesak buat kembalikan kalian ke masa lalu," jelas Anggi.

Rahasia yang harusnya tetap untuk dijaga, kembali memiliki kesempatan untuk terbuka semakin lebar. Bahkan dari arah yang tidak terduga. Mereka segara mengabarkannya kepada Radit. Bahaya jika sore nanti, Radit akan bertemu dengan Steven dan Pak Samuel. Seandainya muncul pembicaraan tentang siapa Surya dan Nabila, Radit bisa mengantisipasi.

***

"Pak Sugeng, nanti sore di rumah, ya. Saya mau ada urusan sama Steven dan Papinya. Barangkali nanti saya butuh diantarkan."

Pak Sugeng di balik kemudinya hanya berseru, "kalau butuh apapun, saya siap antar, Pak," ucapnya.

"Terima kasih, Pak Sugeng."

Hanya tinggal beberapa kilo menuju rumah, suara ponsel Radit berbunyi. Pesan singkat dari Steven masuk. Panjang umur Steven langsung menghubunginya. Dalam pesannya, Steven mengatakan jika rencana mereka untuk mengunjungi ruko Radit sepakat akan berangkat pukul tiga sore. 

"Jam tiga, Pak. Buat jaga-jaga saja, ya. Nanti kalau memang langsung bareng dengan Steven, Pak Sugeng bisa istirahat makan di rumah. Tadi kata istri saya ada ikan asap sama sambal." 

"Aduh, tidak ah, Pak."

"Tumben." Radit bingung dengan jawaban Pak Sugeng yang jarang sekali menolak rezeki berupa makanan.

"Maksudnya, saya diajarkan buat tidak menolak rezeki, Pak." Lantas Pak Sugeng tertawa.

"Dasar, Pak Sugeng." Radit pun ikut tertawa. Ia senang, banyak orang yang begitu perhatian padanya. Begitulah hidup. Siapapun yang pergi, jangan sampai melupakan mereka yang masih tinggal dan menyanyangi kita. Radit punya mereka. Orang-orang yang akan selalu ada untuk melengkapi hari-harinya.

Sesampainya di rumah, Radit dibantu turun oleh Pak Sugeng. Tas kerjanya ikut dibawakan sementara Radit masuk. 

"Assalamualaikum, kenapa, Ma?" Tanya Radit bersama Aby. Anak itu menyambut Radit di depan. Penuh perhatian, Aby menuntun Papanya masuk. Tapi, keduanya malah dihadapkan dengan wajah serius Anggi, Nabila, bersama Surya.

"Mas," Anggi segera bangkit dan mengajak suaminya duduk, "duduk sini," mintanya lagi.

"Kakak, tadi Papa beli snack. Masih di mobil. Bantu ambil sama Pak Sugeng, ya. Terima kasih." Tidak ketinggalan Radit usap kepala putranya itu.

Aby dengan senang hati menarik Pak Sugeng yang menyerahkan tas kerja Radit pada Anggi. Pak Sugeng undur diri sebentar pamit kembali keluar. Radit juga membolehkan sambil mengingatkan mereka akan berangkat jam tiga nanti.

"Mas, sepertinya kamu harus hati-hati." Anggi langsung fokus.

"Hati-hati? Saya nanti berangkat sama Pak Sugeng, kok," begitu katanya. Radit senang menerima air minum dari Bude. Tenggorokannya cukup kering hari ini. Cuaca sangat panas di luar sana.

Dipeluknya Radit tanpa sadar. Tepat di hadapan Nabila dan Surya. Wajah Nabila sampai menunduk, sedangkan Surya melihatnya senang. Begitulah pria, siapapun akan senang jika diperlakukan demikian oleh istri mereka. 

"Malu, Sayang," bisik Radit. Meski diam-diam juga ia menambatkan kecupan di pipi kanan Anggi.

Wajah khawatirnya kentara sekali. "Aku cuma khawatir. Baru saja selesai satu masalah, kita muncul masalah lagi. Aku kasihan sama kamu," ungkap Anggi. Sampai lemas ia memikirkannya 

"Dan kita bisa selesaikan semuanya dengan baik. Bukan begitu?" Radit masih dengan keyakinannya.

Nabila dan Surya sepakat tanpa mengeluarkan suara. Rasa ragu pun tidak begitu saja hilang.

"Kamu mau berangkat dengan Steven dan Om Samuel, kan?"

Radit mengangguk. Satu gelas air ia tenggak habis. "Pak Sugeng sudah saya kasih tahu kalau nanti bisa antar," jelasnya.

"Steven minta Mas berangkat sama mereka ... itu masalahnya."

"Hah?"

Masih belum mengerti apa maksud Anggi. Perasaan Radit perlahan tidak tentu. Ia pandangi dua orangtuanya di depan. Surya dan Nabila pun khawatir. Mereka jelas tahu sesuatu.

"Om Samuel itu bosnya Surya. Menurut cerita, Om Samuel sangat dekat dengan Surya dan—keluarga kalian."

Ya, itu masalahnya.

"Om Samuel sudah bertemu—maksudnya tahu tentang kita semua?" 

Nabila mengungkapkan ada satu kesempatan ia diketahui oleh Pak Samuel. Belum sempat bertutur sapa, melainkan hanya sebatas Pak Samuel merasa pernah mengenal sosok Nabila.

"Aku sudah berusaha mengalihkan perhatian Om Samuel, Mas."

Radit ingin tahu. Seberapa dekat hubungan Surya dan Pak Samuel. Perubahan suasana hati Surya terlihat sekali. "Hubungan kalian seperinya cukup baik. Benar begitu?" Tanya Radit.

"Koh Giok orang baik. Apapun yang beliau punya pasti ingat dengan saya. Saya selalu diberi kesempatan untuk memegang urusan pekerjaan di pabrik. Kepercayaan Koh Giok kepada saya tidak main-main. Masa Adit lahir, banyak yang beliau kasih untuk kami." Surya menatap Nabila. Kebaikan terakhir yang mereka terima akan mulai mereka tunjukkan kepada Sabda. 

Mobil baru itu. Bukti campur tangan seorang dermawan yang bernama Samuel Hartiono.

"Bahkan mobil pertama kami datang dari beliau." Tegas Surya. Nabila tertegun.

Radit dan Anggi tidak percaya. Seseorang yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Ayah dari tetangga mereka sendiri yang mana kehadirannya sangat jarang mereka temui. Pria tua yang mereka panggil dengan panggilan Om Samuel, bukanlah pria sembarangan. Ia masuk dalam lingkaran permasalah kehadiran Nabila dan Surya di masa depan.

Hampir pukul tiga sore, Radit mencoba menenangkan diri dengan meminta izin untuk menunaikan ibadahnya sekaligus membersihkan diri. Sejak sampai dari sekolah tadi, Radit belum sempat mandi atau berganti pakaian. Anggi ikut undur diri demi membantu suaminya.

Tinggallah Nabila dan Surya.

"Koh Giok ada di sini, Mas. Saya bingung mau senang atau takut."

"Tenang saja. Koh Giok kan baik. Nanti setelah kita pulang, Saya akan bicara lagi masalah kekurangan pembayaran mobil kita. Walaupun Koh Giok bilang mobil itu sudah dianggap lunas dengan jaminan gaji saya. Tapi tetap saja, saya masih hutang. Maaf, Nabila. Saya sempat tak jujur denganmu dan Sabda."

Nabila ingin sekali menangis. Memohon maaf karena dialah membuat Surya harus menanggung beban seberat ini.

"Nanti setelah kita jemput Sabda di pondok, saya akan bantu bayar juga, Mas. Saya bisa jual kue. Jadi, pelunasan mobil itu bisa lebih cepat. Kasihan Mas kalau sebagian gajinya untuk membayar mobil itu."

"Jangan, yang penting kita masih bisa makan. Itu sudah cukup," jawabnya tegas.

Digenggamnya tangan Surya begitu erat. "Maafkan saya, Mas. Demi membuat hubungan kalian membaik, Mas harus melakukan semua ini."

"Sabda itu adikku juga. Saya sudah tidak punya keluarga lagi, Nabila. Kalian keluarga saya. Kalian yang saya sayangi. Kamu akan selalu menjadi keutaman saya, Nabila." Janji Surya begitu besar. Tidak peduli apapun risiko yang akan ia terima. Surya akan lakukan. Asalkan orang-orang yang ia cintai bisa bahagia.

Tok! Tok!

Steven sudah di depan pintu. Tersenyum dengan tangan melambai ramah. Nabila mati-matian menahan rasa terkejutnya. Surya pun demikian. Badannya kaku menatap Steven. Wajah dan postur tubuh pria itu sama persis dengan masa muda ayahnya. Pak Sugeng mengarahkan Steven untuk masuk dan mempersilakan duduk. Mau bagaimana lagi, mangsa sudah masuk. Sudah kepalang basah, Nabila harus hadapi.

"Nabila, ini Ko Steven mau ketemu Pak Radit." Pak Sugeng berkata pelan.

"Pak Radit lagi salat, Pak." Nabila gugup, "ibu juga," imbuhnya. Surya ikut muncul dari belakang. Meraih tangan Nabila.

Istrinya berkeringat dingin.

Steven menjulurkan tangannya menyalami masing-masing. "Saya Steven, Mas, Mbak. Tetangga sebelah. Eh, saya ada rencana mau ke rukonya Pak Radit. Mau lihat sekalian taruh barang. Mau titip dulu di sana." Steven santai seperti biasa. Ia juga menjelaskan jika Radit lebih baik ikut dengan mobil Steven. Ia kasihan pada Radit yang baru pulih harus pulang pergi menemani mereka.

"Saya yang akan tanggung jawab. Terus, mumpung ada Masnya," tunjuk Steven pada Surya, "masnya boleh ikut kita juga. Kami butuh satu orang laki-laki lagi. Buat bantu angkat dan turunin barang," jelasnya. Hanya ada Steven yang kuat di sini. Radit jelas tidak diperbolehkan dulu untuk angkat-angkat barang berat. Apalagi Pak Samuel.

Surya bingung. Kenapa harus dia saat Pak Sugeng juga bisa diajak. "Asam urat saya sepertinya kumat, Mas Surya. Ikut sama Ko Steven, ya. Sekalian jagain Pak Radit," bujuk Pak Sugeng. 

"Saya butuh tenaga anak muda ... masnya ini, yakin banget saya kalau situ kuat. Cuma box isi berkas-berkas sama katalog kain."

"Lho, Steven. Sudah lama?"

Tiba-tiba Radit turun dibantu Anggi. Wajahnya sudah segar selepas mandi dan menunaikan salat Asharnya. "Langsung berangkat?" Tanya Radit.

Ia memanggil Pak Sugeng namun cepat dicegah Steven.

"Kita barengan saja, Pak. Satu mobil saya. Sekalian barangnya saya sebagian dibawa. Titip dulu. Nggak masalah, kan?" Tawarnya. Steven membawa beberapa berkas dari notaris yang tuntas perkara hukumnya.

"Silakan. Sebentar lagi kan sah punyamu." Goda Radit.

"Suka nih saya punya partner kayak Pak Radit. Oh, ya. Izin bawa Masnya ini, ya. Siapa namanya? Surya, benar? Nanti biar bantu saya di sana. Nggak tega saya minta Pak Radit angkat-angkat."

"Em—" ragu, Radit tidak yakin itu keputusan yang tepa, "Surya masih ada yang perlu dilakukan di rumah?" Radit mencoba basa-basi.

Lihat selengkapnya