Sementara untuk Kembali

Sifah Nur
Chapter #12

12. Misi Menyelamatkan Keluarga

Shanum mau untuk diturunkan dengan iming-iming akan diberi biskuit bayi. Hanya sebuah biskuit yang biasa ditemui di minimarket manapun. Untung saja, Pak Galih masih menyimpan satu bungkus di lemari dapur bersama simpanan mie instan milik Faiz. 

"Ada, kan, yang Kakek bilang?" Sebut Pak Galih menunjukkan biskuit tersebut.

Shanum menerimanya dengan senang hati. Langsung saja, Pak Galih memanggul badan kecil Shanum ke ruang tamu. Masih ada Surya di sana dengan raut khawatirnya yang kentara sekali. Bahasa tubuhnya kaku setiap Pak Galih mendekat. Satu kali Pak Galih maju, Surya akan mundur satu langkah.

Seketika badannya tegap bagaikan kena sidak juragan. Langsung sikap sempurna tanpa berucap sepatah kata.

"Sudah, sekarang Adek duduk. Main di sini. Biskuitnya masih mau atau nanti saja?"

Seperti mengerti jika makanannya hendak diminta, Shanum mengerang sampai mendekap camilannya ke dada. Ia tunjukkan pemandangan itu kepada Surya. Bilang saja itu pamer. Pak Galih ingin menyampaikan bahkan seorang bayi saja nyaman bersamanya. Dirinya bukanlah orang yang berbahaya. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

"Aman kalau sama saya." Pak Galih semakin memantapkan posisinya.

Sebuah kotak di bawah meja ia minta untuk Surya buka. Diserahkannya kotak berisi mainan itu. Hingga detik itu juga, dirinya belum sadar jika Shanum sudah memakan biskuitnya. Lahap sekali meski sering kesulitan saat menggigit.

"Shanum mau minum ASI, Pak Galih."

"ASInya juga belum siap, bukan? Santai saja. Shanum masih bisa minum ASI meski baru saja ngemil."

Surya hanya bisa diam. Sadar diri bahwa ia baru mengenal Shanum dalam waktu beberapa hari saja. Berbeda dengan Pak Galih yang bahkan sudah mengetahui Shanum sejak masih dalam kandungan. Surya lantas manut. Ia hanya ingin menjaga Shanum dari pria bernama Galih itu. Tidak tahu mengapa, hati kecilnya seperti berkata demikian.

"Mau camilan? Atau minum, di meja ada air kemasan. Kalau mau bisa saya ambilkan soda atau jus kotak. Kemarin Faiz baru saja belanja banyak." Pak Galih menawarkan satu persatu makanan yang ia punya. Untuk yang terakhir ia menunjuk satu tudung saji di atas meja makan. Katanya, ada beberapa potong terang bulan sisa semalam masih ada.

"Red velvet. Enak. Sudah pernah coba?"

"Tolong jangan banyak basa-basi. Biarkan Shanum pulang. Nanti Pak Radit dan Bu Anggi terburu pulang," tegasnya. Surya sudah tidak sanggup berlama-lama di rumah itu. 

Pak Galih memperhatikan jam terdekat yang digantung di dinding rumahnya. Masih ada dua jam sebelum Faiz pulang dari rumah temannya. Mengajak berbincang Surya bagi Pak Galih tidak ada salahnya. Apalagi Shanum merasa nyaman dengan dua boneka dan satu mainan miniatur mobil pemadam berwarna merah menyala.

Pemandangan itu seketika menciptakan suasana hangat. Pak Galih tersenyum.

"Sungguh takdir Tuhan itu maha asyik sekali," ujarnya, "saya mendengar istilah tadi dari salah satu dosen sastra di kampus."

Badan Shanum perlahan diangkat. Dipindahkan ke bagian yang terkena karpet. Pak Galih sedikit sangsi dengan lantai rumahnya. Beberapa hari ini ia jarang membersihkan lantai. Si Mbak yang biasa Pak Galih minta untuk datang ke rumahnya, sudah lama absen. 

Kasihan, bukan, jika Shanum bermain di tempat kotor. "Tahu kenapa?" Tanya Pak Galih lagi.

"Karena kita dipertemukan di sini?"

"Cucumu yang mempertemukan kita."

Kecupan hangat Pak Galih sasarkan ke kepala Shanum, "Anak ini sudah saya anggap seperti cucu sendiri," ungkapnya.

Surya menyerah. Tangan Pak Galih kembali mempersilakan Surya untuk duduk. Sudah tidak ada waktu untuk bersitegang lagi. Sebuah masalah masih belum terselesaikan di antara mereka. Dan kali ini, Tuhan benar-benar menyediakan waktu dan tempat untuk mereka bersua. Pak Galih percaya, Surya bisa ia ajak untuk membahas masalah ini.

"Kita mencintai orang yang sama, Surya."

"Anda punya istri, bukan?" Surya mencoba mengalihkan. Seharusnya tidak secepat itu pembahasan mereka. 

Pak Galih mengangguk. Menuruti alur yang dibangun oleh Surya.

"Meninggal lebih dari satu dekade lalu," jelasnya.

"Apa anda tidak merasa bahwa sikap anda itu bisa menyakitinya?" Tanya Surya. Shanum melempar satu balok lego yang masih ia bawa. Surya ingat, beberapa potongan lain ada di kantung celananya.

Senangnya bukan main, Shanum mencampur aduk mainannya dengan sisa lego dari Surya. Jeritan hingga tawa riangnya menggema. Siapa pun akan sulit untuk tidak ikut tertawa. Bahkan bisa terdengar hingga ke rumah sebelah. Rumah keluarga Radit.

"Lucu sekali kamu, Nak!" Sebut Pak Galih.

Seyogyanya, Surya mengerti bahwa Pak Galih akan menjawab apa. "Anda orang terpelajar. Cerdas akal dan baik budinya," sebut Surya. Shanum menyerahkan satu balok kayu berwarna hijau kepadanya. Pelan Surya mengatakan terima kasih kepada Shanum.

"Secerdas dan sehebat apapun seseorang, bisa jadi bodoh jika sudah jatuh cinta. Sampai ia lupa, terkadang ada hati lain yang harus tersakiti."

"Istri anda tahu?"

"Dia marah besar saat saya menamai putri kami dengan nama Nabila." 

"Anda keterlaluan."

"Ya, saat itu saya merasa telah menjadi pria paling jahat di dunia."

Pembicaraan dua pria dewasa itu terus bergulir. Serius namun santai. Semestinya tidak baik jika harus membahas masalah ini saat ada Shanum di antara mereka. Dunia dengan semua misterinya, masalah hidup manusia dewasa seperti Pak Galih dan Surya belum saatnya untuk Shanum dengar. Anggap saja Shanum belum mengerti. Kasihan memang dengan kondisi antara dua kakek yang telah menjadi kesayangan bayi satu tahun ini. Ia harus jadi tumbal. Ya, mau bagaimana lagi kalau memang sudah demikian, Shanum dijadikan sebuah alasan untuk tetap menjadi penengah antara Surya dan Pak Galih.

"Bahkan kematiannya sering menganggu pikiran saya sampai sekarang. Istri saya meninggal terkena serangan jantung. Tertekan, mungkin. Dia meninggal tidak lama setelah tahu kalau saya masih menyimpan perasaan kepada Nabila."

Sebuah bingkai potret kecil terpasang di salah satu meja ambalan. Foto kecoklatan hampir mengabur gambarnya. Meski demikian, sosok siapa yang tergambar di sana masih sangatlah jelas meski dengan mata telanjang. "Itu kalian?" Surya tahu itu wajah Nabila sedang dirangkul hangat oleh pria muda dengan tahi lalat kecil dagunya.

Pak Galih.

"Saya menyimpannya di salah satu map dokumen semasa kuliah dulu. Istri saya menemukannya, tidak sengaja. Dia tanya, sebegitu cintakah saya kepada Nabila? Lantas saya jawab ... ya. Sedikit pun saya katakan tanpa keraguan. Setelah berpuluh tahun, belum pernah saya rasakan cinta sedalam ini. Sekali pun itu dengan istri sah saya sendiri."

Surya mendesah lemas. Andai seseorang melihat situasi mereka saat ini, bisa jadi mereka semua akan tertawa mendengarnya. Pria tua yang mencintai istri pemuda. Usia mereka terlihat terpaut sangat jauh. Walaupun pada kenyataannya, jarak antara keduanya tidaklah lebih dari dua tahun saja.

Pak Galih tersenyum getir tepat mulutnya berkata, "Saya tidak ubahnya seorang pembunuh, bukan? Saya mempertaruhkan nyawa istri saya sendiri untuk hati yang telah dimiliki orang lain. Saya tahu betapa tersiksanya istri saya dengan sikap saya ini. Sepanjang pernikahan kami hanya pura-pura. Cinta sebelah, atau istilahnya cinta bertepuk sebelah tangan? Terserah apapun penyebutannya," tutur Pak Galih begitu lepas bermonolog.

"Saya tahu, Pak Galih. Sebab rasa sakitnya nyata untuk saya."

"Maaf."

"Bukankah sudah terlambat?" Tanya Surya. Hatinya sesak saat dipandangnya potret wanita berjilbab yang bersanding dalam rangkaian foto keluarga di salah satu dinding. Senyumnya palsu. Pria yang bersanding bersamanya tidak mencintainya. "Istri anda sudah meninggal, Pak. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk anda mengobati sakit hatinya beliau." Surya mengambil Shanum untuk ia pangku.

Menjauh dari sosok Pak Galih. Pria baik yang selama ini dikenal oleh Radit dan Anggi. Pria yang sangat diidolakan Bude, bahkan jadi fantasinya untuk sosok suami sempurna. 

Basi.

Surya memandang Pak Galih tidaklah sesuci itu, "Anda memberikan neraka dunia untuk istri anda. Apa anda sadar?"

"Surya, biarkan itu menjadi dosa saya."

"Syukurlah. Semoga Tuhan memberikan kelapangan kubur dan surganya untuk beliau."

"Aamiin. Begitu juga untukmu."

Surya mengangguk. Pertanyaannya selama ini telah terjawab sudah. Keterkejutan pun seketika hadir di wajah Pak Galih. Sesuatu yang harus ia simpan terbuka sudah. "Surya, dunia ini punya takdirnya. Begitu juga kita sebagai manusia. Jadi, tidak perlu untuk kita memikirkan tentang hidup dan—"

"Matinya seseorang sudah tertulis semua. Kita hanya menunggu waktu. Entah kapan, sedangkan untuk saya sudah jelas. Anda pun pasti sudah tahu, kan?"

Senyum Surya getir. Pilu sekali hatinya. Selama ini ia tahu bahwa kenyataannya ia telah tiada. Sama halnya dengan Nabila. Tidak bisa lagi ia menyangkal dengan semua bukti yang ada. Sejauh ini Surya telah menyiapkan diri. Seandainya tiba waktunya kembali ke masa lalu, di situ ia harus siap. Suatu saat ia akan pergi. Meninggalkan putra tersayangnya sendiri dan dunianya, cinta matinya.

"Jujur saya takut. Saya takut hanya saya seorang yang harus pergi dengan membawa cinta yang tidak pernah tersampaikan. Tapi saat saya mendengar jika mendiang istri anda rupanya ditakdirkan sama dengan yang saya alami, saya tidak takut lagi. Bahwa ternyata kita harus ikhlas untuk kebahagiaan orang lain."

"Maafkan saya, Surya. Sekali lagi saya mohon maaf," ungkap Pak Galih menyesal.

Kesalahannya kembali dibuat untuk orang lain. Bukan hanya mendiang istrinya saja yang menjadi korbannya, keegoisannya itu juga meluas. Pak Galih tanpa sadar berhasil menghancurkan dua hidup manusia dalam jurang keterpurukan paling dalam. 

Bosan dengan mainannya, Shanum merajuk. Merengek bergelayut manja pada Surya. Mata bulatnya sesekali terpejam. Banyaknya mainan tuntas Shanum lepas tidak mau lagi. Sudah cukup siang memang, Shanum juga belum minum susu. Sudah lebih dari jadwalnya. Sosok Nabila yang awalnya akan menyiapkan ASI pun tidak kunjung tiba. 

"Sepertinya, pertemuan kita sudah cukup. Kasihan, saya tidak mau lebih jauh mengorbankan cucu saya lagi demi masalah kita. Saya anggap sudah jelas."

"Saya harap kamu mau memaafkan saya. Kamu berhak marah dan tidak suka kepada saya."

"Tidak, Pak. Saya tidak mau egois. Saya bahkan ingin berterima kasih kepada Pak Galih. Selama ini telah menjaga putra saya, bahkan cucu-cucu saya. Di saat saya sendiri tidak mampu." Shanum di gendong Surya untuk bersiap pulang. Dengan begitu hormatnya Surya membungkukkan badannya memberi penghormatan. "Rasa benci saya terkalahkan dengan rasa terima kasih saya kepada Bapak. Terima kasih, karena telah mengasihi orang-orang yang sangat saya cintai di dunia ini."

Shanum dibantu untuk menyalami tangan Pak Galih sebelum pulang. "Assalamualaikum, Kakek Galih. Terima kasih. Adek pulang dulu." Bahasa Surya menjadikan dirinya Shanum yang berpamitan pulang.

"Waalaikumsalam," jawab Pak Galih tidak bisa berbuat apa-apa.

Mereka berpisah. Berjalan menjauh. Surya tidak peduli bagaimana Pak Galih saat ini yang ia inginkan hanya membawa Shanum pulang dan melupakan bahwa takdir dunianya amat sangat mengenaskan.

Sakit, sangat. Kecewa, jelas. Namun untuk Surya semuanya berhasil ia terima. Pengorbanannya menemukan hasil. Setidaknya itu yang didapat Surya. Hidup memang kejam, tapi Tuhan memberikan satu kebaikan tanpa perlu Surya minta maupun Surya tahu sebelumnya.

"Mas," Nabila, dengan wajah basah antara keringat dingin dan air mata memanggilnya lepas keluar dari mulut pintu.

Surya berbalik. Mendapati istri tercintanya berdiri terpaku dengan sebotol ASI di tangannya. "Terima kasih. Sasa sudah mengantuk," ujarnya sambil menerima botol milik Shanum.

"Selesaikan masalah kalian," pesan Surya. 

Mungkin, hanya tersisa itu. Sebelum mereka benar-benar pulang. Lebih tepatnya bisa kembali pulang.

***

"Kalau mau kita kembali, selesaikan segera." pamit Surya.

Langkahnya gontai keluar meninggalkan Nabila di teras rumah keluarga Pak Galih. Pasrah. Membiarkan istri yang sangat ia cintai kembali bertemu dengan cinta lamanya. Surya tidak tahu apakah kisah kasih mereka masih dapat bersemi kembali atau tetap ditakdirkan tidak bersama. Meski kuat hati Surya persiapkan dengan segala kemungkinan yang terjadi, berat Surya terima. Ia tidak mampu berbuat apa-apa. Sepanjang pernikahannya, hanya Nabila yang jadi prioritasnya. Biarlah wanita itu bahagia. Cukuplah bagi Surya berhasil mendapatkan cintanya barang sejenak.

Nabila tidak kuasa untuk bertahan dengan situasi ini. "Mas Surya. Tolong jangan begini," bujuknya. Badannya ringan seketika tepat saat Surya memberinya jarak.

"Kita sama-sama tahu, Bil." Pak Galih muncul. Mempersilakan Nabila masuk untuk menyelesaikan masalah mereka. Tangannya bergerak menunjuk area dalam rumahnya. Sopan Pak Galih mempersilakan Nabila untuk masuk. Secara fisik, keduanya bagai ayah dan putrinya. Namun tidak dengan tatapan mata keduanya. Cinta itu masih kuat.

"Saya ingin di luar saja. Tidak baik kita berdua di dalam rumah tanpa ada orang lain," jelas Nabila.

"Suamimu sudah mempersilakan. Kenapa harus—"

"Saya seorang istri, Pak Galih," Nabila meraih kursi teras yang bisa ia gapai lebih dulu, "saya bertanggung jawab untuk menjaga kehormatan diri saya atas nama suami," imbuhnya.

Mau tidak mau, Pak Galih mengambil posisi di sebelah kiri Nabila duduk. Bukan berhadapan atau bahkan saling bersentuhan. Jarak. mereka duduk dengan jarak memisahkan. Saling diam untuk beberapa waktu. Hanya isakan pelan dan helaan napas dari Nabila mendominasi sekitar mereka. Pak Galih memantapkan dirinya. Segala rasa di dadanya terus berharap pada wanita muda di sebelahnya ini.

"Saya sudah menunggumu selama empat puluh tahun lebih untuk ini. Lantas kita hanya diam saja?" Paparnya.

"Anda maunya apa?" Jawab Nabila. Benar kata Surya, dirinyalah yang harus selesaikan semuanya.

Tawa Pak Galih mengalun. Bukan tawa seseorang yang menertawakan para pelawak, hidup Pak Galih sendiri yang berulah bagai komedi. Seumur hidup ia dipermainkan dengan embel-embel semesta tidak mendukung kisah cintanya. Hingga berakhir dengan wanita lain yang pasrah ia jadikan istri meski cinta itu berat dipaksa. Terutama kepada seorang wanita bernama Nabila di sisinya kini. Nama yang berani ia sematkan pada putrinya. Siapapun tidak akan menyalahkan amarah mendiang istri Pak Galih yang murka, tatkala mengetahui alasan di balik nama Nabila.

"Saya masih belum lupa dengan apa yang anda lakukan saat itu." Nabila mulai mengulang kisah terakhir yang dibuat oleh Pak Galih puluhan tahun silam.

Masa ketika dengan mudahnya ia pergi. Memutus ikatan yang tersimpul kuat. Nyatanya, mudah sekali dengan dua kata tajam bagai mata pisau.

"Saya pamit, hanya itu kata yang anda ucapkan. Saya tidak mendengar anda meminta saya untuk menunggu. Saya bertahan, terus saya bertahan hampir gila. Pak Galih tahu, kan?" Pernyataan Nabila benar-benar membuat Pak Galih tidak bisa berpikir jernih. Nabila yang sangat ia kenal selama ini tidak pernah berbicara seformal ini. Apalagi panggilan itu. Hilang sudah sebutan Mas Galih yang romantis, yang begitu menenangkan hatinya.

"Maafkan saya, Nabila. Saya harus pergi untuk lanjutkan pendidikan itu. Saya putra satu-satunya di keluarga. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Posisi saya saat itu serba salah, dan saya harus merelakan salah satu di antara kalian ... kamu atau keluarga saya."

"Surat anda saya terima, jadi tidak perlu untuk dijelaskan lagi." Nabila sudah lelah. 

Nasi telah jadi bubur. Asmara penuh bunga dari pasangan sejoli kasmaran itu tamat. Raib tidak berjejak. Bahkan dunia seolah menolak cinta mereka dengan cara begitu mudahnya. Lalu kini kembali dipertemukan untuk membolak-balikkan hati. Mencari jawaban dari balada cinta belum usai. Sebab takdir Tuhan tidak ada yang mampu memprediski. Segalanya serba abu-abu. Dunia tidak bisa memberikan garansi penuh bagi masing-masing makhluk di atasnya. Cinta Nabila dan Pak Galih kala itu belum bisa membuat Tuhan yakin jika mereka baik untuk dipersatukan. Bukan pria bernama Galih layak baik untuk Nabila, namun Suryalah yang paling tepat versi yang maha.

"Nabila!" Pak Galih memukul kepalanya beberapa kali, "kita seperti orang asing." Suara Pak Galih putus asa.

"Nyatanya begitu, bukan? Pak Galih tahu itu." Gosokan tangan yang dibuat Nabila dengan kasar menunjukkan tingkat kegalauannya.

"Panggil saya dengan semestinya, Nabila!"

Nabila menggelang pelan. Lidahnya membatu. Sulit sekali mengeluarkan panggilan itu lagi. Nama yang selama ini selalu ia sertakan dalam setiap doanya. Sekarang, Nabila malu sendiri.

"Sejarah hidup saya diukir indah oleh anda. Hanya saja—sudah tidak ada harapan," ungkapnya. Sakit memang tapi Nabila harus ungkapkan. Beberapa hari ini doanya tidak menentu. Sering kali akan berpusat pada satu pengharapan. Keyakinan seutuhnya pada satu hati. Pada seseorang yang sebenarnya sangat ia cintai di dunia ini meski belum ia sadari seutuhnya.

"Saya mencintai kamu, Nabila."

"Saya juga."

Nabila membalasnya tanpa ragu. Sebab masih ada sisa rasa itu meski kecil. Nabila berusaha untuk jujur di sisa waktunya. Pada kesempatan ini, ia akan sampaikan. "Saya sangat mencintaimu, Mas Galih. Saya bahkan menunggu Mas hingga lima tahun dengan keyakinan yang begitu besar. Sampai saya lupa kalau hidup ini tidak hanya bisa untuk menunggu. Saya berharap besar suatu saat Mas Galih datang dan meminta saya untuk menjadi bagian dalam perjalanan hidup Mas. Sampai surat Mas tiba dan mengatakan tentang orangtua Mas. Mustahil kalau kita bisa hidup bersama saat itu. Saya tahu saya siapa. Saya juga tahu mengapa Mas harus pergi saat itu. Bapak dan Ibu Mas Galih sendiri yang meminta saya pergi. Apa Mas tahu itu?"

Tidak, Pak Galih tidak tahu.

"Mereka ingin kita berpisah, Mas. Itu mengapa Mas dipaksa melanjutkan sekolah ke luar."

Nabila mengeluarkan satu lipatan kertas kecil. Sebuah wesel pos dengan goresan keterangan tahun 1975. Sudah bercap dan tertulis datang dari daerah Jakarta. Ada juga pesan yang ditulis miring pada sisi kiri. Pak Galih kenal itu tulisan siapa. Surat-surat dari sang ibunda yang Pak Galih terima rutin selama menempuh pendidikan di Amsterdam membuatnya paham. Valid tidak terelakkan lagi.

Uang lima ratus ribu rupiah yang dikirimkan untuk Nabila sebagai penebusan dirinya.

"Mas bisa baca pesan itu." Tangis Nabila yang perlahan teralihkan dengan suara tawa pilunya. "Kalau saya ingat lagi, rasanya sekarang saya seperti orang bodoh telah menerimanya. Saya lupa dunia ini terus berkembang. Semurah itu saya menukar anda di masa ini. Mas tahu tidak, hari pertama saya tiba di rumah Pak Radit—yang ternyata adalah putra kandung saya, dia menyodorkan uang dua kali lipat dari yang Ibu Mas kirim untuk saya. Dan apa yang dikatakan putra saya saat itu? Dia bilang, kalau habis, bilang ke saya. Saya beri lagi." Nabila mengulang pernyataan Radit dengan bergetar hebat.

"Saya kira angka yang diberikan ibu anda itu sangat besar. Saya bisa lulus karena uang itu. Terima kasih. Semakin membuka mata saya kalau saya tidak ada apa-apanya dengan anda. Sampai akhirnya saya tahu itu tidak ada apa-apanya. Saya hidup beberapa minggu ini dari putra saya. Putra kandung saya, Pak Galih. Tetangga Anda. Seorang putra yang lahir dari pria ... yang kini mungkin saja akan membenci saya seumur hidupnya." Nabila menunjuk rumah Radit. Tempat Surya terakhir meminta izin untuk pulang.

Ambillah agar lulus jadi perawat pintar, supaya bisa berpikir ... siapa sebenarnya kamu dan putra tercintaku.

Pak Galih masih tidak percaya. Pesan singkat yang tertulis di wesel pos itu datang dari ibu yang sangat ia hormati. Kenyataan terpahit selama ini tidak ia ketahui. Menganggap bahwa Nabilalah yang akhirnya meninggalkannya seorang diri. Menikah dengan seorang pemuda yang ibunya sebut sebagai mandor pabrik rendahan.Betapa sakitnya dulu saat ia kembali dan melepas cintanya pergi jadi milik orang lain yang tak seberapa dibandingnya.

Ia menua menelan kesombongan pada Surya.

"Saya tidak tahu, Nabila. Saya tidak tahu."

"Saya juga tidak tahu, pilihan saya ini benar atau tidak. Saya tidak pernah menempatkan Mas Surya setinggi saya menempatkan anda di hati saya. Itu dosa saya."

Diletakkannya kembali lembar wesel pos itu di atas meja. Buktinya sudah jelas. Kebimbangan Pak Galih perlahan dibuktikan jika memanglah dunia tidak pernah menakdirkan Nabila dan Galih bersatu. Dengan napasnya yang begitu berat, Pak Galih menguatkan hatinya untuk kembali bertanya.

"Kamu masih mencintai saya atau tidak?"

"Tidak."

Tuhan berhasil membuka hati Nabila. Kesempatan yang ia dapatkan meski harus jauh melompat ke masa depan yang nihil akan eksistensi dirinya. Nabila yakin akan kata hatinya. Cinta yang selama ini dihiraukannya adalah cinta yang sebenarnya. Dalam kamar di rumah putranya sendiri, Nabila membuktikan itu. Sungguh hina rasanya menyadari ada cinta setulus dan sebesar yang Surya berikan kepadanya. Sayangnya, Nabila tukar dengan luka dan rasa kecewa yang dalam. Surya pendam begitu pintarnya. 

"Ini dosa saya, Pak Galih. Saya mencampakkan seseorang yang selama ini tulus mencintai saya. Saya menodai cinta dari Tuhan telah takdirkan untuk saya. Kebahagiaan semu selama kita saling mengenal, tidak ada apa-apanya. Percayalah, hidup ini berjalan untuk rela dan merelakan. Untuk itu," Nabila menyerahkan satu keyakinannya pada Pak Galih untuk terakhir kalinya.

"Tolong relakan saya. Biarkan saya hidup bahagia dengan takdir terindah Tuhan. Begitu juga anda. Relakan saya menjahit semua cinta Mas Surya agar utuh kembali."

Takdir Tuhan memang paling tepat. Sebesar dan sekeras apapun kita menolak, tidak ada yang sanggup untuk merubahnya. Sesulit apapun untuk pergi, ada masanya akan terus kembali pulang. Untuk Nabila, tempatnya untuk pulang adalah Surya. Penerangnya dikala kelam hari-hari yang ia lewati.

Suara motor berderu mendekat masuk ke halaman depan rumah. Faiz kembali dengan satu kantung berisi makanan. Betapa terkejutnya Faiz melihat Nabila ada di rumahnya. Belum lagi mata sembab Nabila dan wajah pucat ayahnya. Cepat-cepat Faiz masuk. Melepas helmnya dan coba bertanya tentang masalah yang sedang terjadi antara keduanya.

"Masalahnya Nabila besar, Yah? Sampai pukul-pukulan, ya? Kena pasal tuh Mas Surya. Tega banget sama istrinya," tanya Faiz tiba-tiba.

"Maksudnya, Iz?" Pak Galih menerima uluran tangan Faiz yang menyalaminya.

"Ini Nabila lagi buat laporan ke ayah sebagai ketua RT, kan? Kasus kekerasan rumah tangga?"

Faiz pun menjelaskan jika ia baru saja melihat Surya membawa tas ransel dan menyerahkannya kepada supir Pak Samuel. "Seperti mau pergi. Tadi dengar, Om Giok mau balik ke Belitung hari ini, kan? Mas Surya mau ikut, ya?" Imbuhnya.

Sontak Nabila terkejut. Mereka telah berjanji untuk tidak pergi kemana-mana tanpa membahasnya dengan Radit.

"Pergilah dan cepat katakan. Surya membutuhkan kamu." 

Bergegas ia pergi meninggalkan Faiz dan Pak Galih, Nabila tidak peduli dengan lembar wesel di atas meja. Pak Galih cepat mengambilnya lantas menyimpannya di saku celana. Faiz masih berlomba dengan pikirannya sendiri. Menganggap jika Nabila dan Surya dalam masalah perselisihan rumah tangga. Saking jauhnya, Faiz sesekali menyebut Surya sebagai pria tidak tahu diri karena berani melukai hati dan fisik istrinya.

"Jangan begitu. Bisa jadi Surya malah jauh lebih baik dibanding kita. Jauh lebih baik dari ayah," sebut Pak Galih, kemudian mengajak Faiz untuk masuk dan membantunya membersihkan rumah. Mainan yang tercecer di beberapa sudut belum Pak Galih bersihkan. Berbeda dengan hatinya, yang telah bersih dari segala prasangka akan cinta lamanya. Ikhlas untuk melepas.

***

Informasi dari Faiz rupanya benar. Bude didapati menyerahkan satu bungkus kresek makanan untuk Surya. Pria itu berpenampilan rapi. Bersepatu dan mengenakan jaket kelabu. Surya menolak tapi Bude tetap memaksa perihal makanan itu.

"Saya terima ya, Bude. Saya titip Adit. Nanti kalau Pak Radit dan Bu Anggi pulang, sampaikan salam saya." Titip pesannya meski Surya merasa berat melakukannya.

Bude ikut pasrah, membiarkan Surya dengan pilihannya. "Bude ngerti. Hati-hati, ya," pesannya.

Terburu-buru, Nabila menarik tangan Surya demi meminta penjelasan. "Mau kemana, Mas?" Pekiknya. Bude sampai harus mundur memberi ruang pasangan suami istri itu. Ingin rasanya ia masuk. Tidak baik juga kalau harus ikut campur dengan urusan rumah tangga orang.

"Urusan kalian sudah selesai? Ah, jangan katakan dulu," tahan Surya. Ia menyempatkan mengangguk dan menerima bungkusan itu dari Bude. Salam Surya menuntaskan sesi pamitnya. Hanya Nabila tinggal seorang semakin gusar dengan sikapnya sendiri. Bingung ia harus melakukan apa.

"Kamu kenapa, Mas? Aku dan Adit bagaimana?" Pintanya.

"Jangan khawatirkan Adit. Saya sudah titip ke Bude." Surya senang Bude mau menerima pesannya. "Kasihan kalau kamu nanti lelah mengurus putra saya."

Nelangsa hati Nabila. Kalimat itu harus ia dengar dari mulut suaminya sendiri, Surya. Seolah selama ini ia terpaksa mengurus Adit sebagai putranya dengan Surya. "Mas, saya mohon." Tangis Nabila merintih meminta penjelasan. Ia akan ditinggalkan lagi. Cukup dulu ia hampir mati karena ditinggal kekasihnya, lalu sekarang suaminya juga akan pergi. Mau jadi apa Nabila nanti.

"Kalau Mas pergi, saya harus bagaimana? Adit pasti mencari kamu?"

"Maaf, ya. Saya selalu menyusahkan kamu."

"Kita bicara baik-baik ya, Mas. Bude, tolong kunci gerbangnya!" Nabila terus memohon. Menahan tangan Surya untuk tidak melangkahkan kakinya semakin menjauhi rumah. Surya teguh dengan pendiriannya. Tangannya perlahan ia lepaskan dengan halus. Tidak mau melukai tangan wanita yang begitu ia cintai. "Saya butuh waktu untuk merelakan semuanya. Beri saya kesempatan untuk sendiri, Nabila. Agar hati saya terbiasa dulu."

Surya menarik napas dalam lantas berkata, "Ikatan yang saya buat denganmu terlalu kuat, saya butuh waktu untuk melonggarkannya," Surya lega, ia beranikan menggenggam tangan Nabila. Melihat nanar cincin yang terikat di jari manis istrinya itu, badannya meremang. Cincin itu tak ubahnya benda mati yang terpasang di sana. Hanya penghias.

Sebuah keputusan besar pernah ia buat dengan benda kuning mengkilap itu.

"Sebelum saya benar-benar ikhlas untuk melepaskanmu selamanya." Kaca sebuah mobil di depan rumah Radit turun dan menampakkan Pak Samuel yang memperilakan Surya masuk. Pintu itu digeser dan terlihat satu bangku kosong di sisinya siap untuk Surya. Sudah saatnya untuk pergi.

"Mas, jangan. Saya mohon, Mas. Dengarkan saya dulu!"

Terlambat. Surya masuk ke mobil Pak Samuel tanpa menatap mata Nabila. Ia pergi dan melepas cintanya.

***

Lihat selengkapnya