Sementara untuk Kembali

Sifah Nur
Chapter #13

13. Mencari Matahari

"Kok begitu, Adek?" 

Dengan merangkak semangat, Nabila membiarkan anak perempuan itu masuk ke kamar orangtuanya. Nabila pasti segan. Pagi ini sudah pukul tujuh, tapi sepasang suami istri dari dalam kamar itu belum kunjung bangun. Paksaan Shanum agar diantar ke kamar utama mau tidak mau Nabila turuti. Tapi, sebelumnya ia memastikan apakah baik ikut masuk atau cukup menunggu di mulut pintu.

Suara Anggi seperti serak khas bangun tidur. Ada pula bisikan Radit lamat-lamat ikut terdengar dari dalam. "Sepertinya biar Shanum saja, Bu. Maaf, ya." Anggi mengatakannya dengan muka tertutup selimut. Suaranya jatuh mirip seperti sedang bergumam.

"Ini sudah saya gendong, kok. Terima kasih, Bu. Sebentar lagi kami turun." Pintu terbuka sedikit dengan memunculkan wajah Radit. Ia mengucapkan terima kasih dan mengizinkan Nabila untuk kembali. Shanum aman bersamanya. Nabila pun memutuskan pamit dan akan membantu Bude menyiapkan sarapan. Takut kalau terlalu lama ia bisa mengganggu. Belum lagi pasti menantu dan putranya itu bisa malu dengan kehadirannya.

"Udah sana bawa keluar dulu anaknya. Mau mandi." Anggi mengerang lemas.

"Saya bakal lama nggak lihat kamu beberapa hari. Biar jadi obat kagen."

"Alasan." Goda Anggi. Badannya benar-benar lengket dan ingin segera mandi. Malu sendiri kalau ia tidak lekas untuk turun. Toh meski demikian, banyak orang di lantai bawah seperti Nabila dan Bude sudah menjadikannya sebagai bahan obrolan pagi hari. 

"OK, sayang. Sekalian mau cek si kembar sudah siap apa belum." Radit akan membantu si kembar bersiap untuk berangkat ke sekolah. Hari ini sekolah si kembar masuk sedikit lebih siang. Ada rapat guru yang diadakan pihak yayasan sekolah. Radit lupa memberi tahu Pak Sugeng. Kemungkinan Pak Sugeng sudah sampai di rumahnya untuk mengantar si kembar.

Nabila menuruni tangga begitu lama. Fokusnya sedang terpusat pada ponsel yang terus ia genggam. Benda paling canggih yang pernah ia pakai seumur hidup ini tidak lepas dari genggamannya semenjak Surya pergi. Sedia dalam kantung pakaiannya atau dia masukkan ke tas kecil setiap keluar rumah.

Benda itu menciptakan satu kegemaran baru Nabila ... memotret semua aktifitas Adit.

Mulai dari bangun tidur, mandi, makan, hingga bermain. Ia rekam atau cukup difoto. Setelah mendapat hasil yang cukup baik, ia akan mengirimkannya kepada Surya.

Karena ketidaktahuannya, Nabila pernah kebingungan terhadap sistem perpesanan singkat itu. Setahunya, keterangan dua tanda centang menandakan pesan terkirim. Tapi satu pun tidak ada balasan datang. Aby dengan cekatan meminta ponsel Nabila untuk ia periksa. Murid bangku kanak-kanak itu menjelaskan seperti layaknya ahli teknologi. Pada kenyataannya memang seluruh pengetahuan Aby jauh lebih maju dibandingkan Nabila.

"Ini sudah dibaca. Warnanya biru." Aby yakin jika si penerima sudah membaca pesan yang dikirimkan.

Nabila terkejut bukan main. Jadi selama ini, Surya membaca dan melihat semua gambar yang ia kirimkan. Namun satu huruf pun tidak ada balasan yang dikirim untuknya. "Kamu kenapa, Mas? Saya mohon balas," pintanya. Bude memintanya untuk duduk menemani anak-anak yang akan sarapan. Pak Sugeng juga terlihat sampai di rumah. Motornya ia parkirkan di garasi untuk nanti ia bertugas mengantar dengan mobil.

"Sudah ada kabar dari Mas Surya?" Tanya Pak Sugeng mengejutkan Nabila. Pikirannya terlalu ke mana-mana.

Nabila menekan tombol pengunci pada ponselnya dan memangkunya terbalik. Ia menggeleng. "Sebentar lagi juga ketemu." Pak Sugeng menyemangati.

"Pagi, Pak Sugeng. Maaf, belum sempat kabari. Si kembar masuk agak siang hari ini. Jam delapan." 

Radit turun dengan kaus santai dan celana training. Lensa kacamatanya kotor dengan bekas jempol Shanum. Menyalami Pak Sugeng dan mempersilakan untuk sarapan lebih dulu. Pak Sugeng sendiri sudah diberi tahu oleh Bude jika tugasnya mengantar hari ini sedikit lebih siang. "Saya keluar sebentar buat isi bensin motor, Pak. Ini baru balik lagi," ujarnya.

"Tepat sekali. Kalau begitu sarapan dulu saja. Bude kayaknya sudah masak. Nasi goreng?"

Bude mengacungkan jempolnya. Mukanya berkeringat hingga basah bagian lingkar lehernya. "Bude buat banyak pagi ini. Sebagian pedes sudah selesai, sisanya pedes. Makan sepuasnya, ya. Kalau lapar, bisa langsung dihajar. Bagus buat kembalikan stamina setelah perang. Bukan begitu, Pak?" Sebut Bude menyindir Radit secara tersirat.

"Pinter banget nyindirnya, Bude." Radit menggerutu pelan.

Shanum diturunkan dari gendongan Radit. Membiarkan bocah kecil itu bergabung dengan Adit di depan sekotak mainan.

"Bude ini veteran perang, Pak. Masih paham rasa bahagia dan capeknya kayak apa. Eh, si Bapak—" Bude menepis tangan Radit saat ingin mencicipi nasi goreng buatannya. "Mandi?" Tanyanya.

"Wudu. Gantian ibu negara dulu." Radit masih penasaran dengan nasi goreng di hadapannya.

"Aduh, manisnya." Bude memekik tidak sanggup membayangkan keromantisan majikannya.

"Sudah, Bude. Pak Radit juga. Kasihan Mbak Nabila."

Pak Sugeng menunjuk Nabila yang kembali memainkan ponselnya. Wajahnya murung seperti sejak ia duduk di sofa menemani Adit bermain. Itulah sebabnya Bude membiarkan Nabila untuk tidak perlu membantunya menyiapkan sarapan. Nabila tidak fokus sama sekali. Selalu mengecek ponselnya sampai satu insiden kecil terjadi di dapur. Nabila menjatuhkan satu butir telur sampai mengotori lantai.

"Mangkanya Bude biarkan Nabila istirahat."

Ketiganya sampai harus terdiam memikirkan nasib Nabila yang belum kunjung tahu kabar dari suaminya. "Tenang ... yang penting saya sudah usahakan untuk mereka bertemu lagi. Besok kami terbang pagi. Pak Sugeng jangan lupa, ya. Boleh juga menginap di sini. Biar Bude siapkan tempatnya di kamar kosong belakang seperti biasa."

"Baik, Pak. Terima kasih. Besok akan saya antar ke bandara," tukas Pak Sugeng hormat.

Bude tetap tegas mengusir Radit agar mandi lebih dulu sebelum makan. Pamali, katanya. Bude sudah dianggap Radit sebagai orangtuanya sendiri dengan semua petuah dan sikap yang begitu ngemong. Saat Radit berjalan menuju arah tangga, dirinya bisa melihat dengan jelas bagaimana kacaunya Nabila. benar kata Bude, matanya selalu sembab dan lingkar hitam di sekeliling mata yang berarti sesuatu. Dalam beberapa hari pasti Nabila sulit sekali untuk tidur nyenyak.

"Saya mandi dulu ya, Bu. Kalau kelamaan tunggu saya sama Anggi, bisa makan duluan saja. Jangan sampai sakit, besok kita ketemu Bapak," pinta Radit.

"Baik, Pak. Sebentar lagi saya bantu Bude."

Radit memperingatkan Nabila sekali lagi agar tidak memaksakan dirinya. Mereka semua mengerti keadaannya.

Ya, semua orang di rumah itu tahu keadaannya. Tahu betapa jahatnya ia dengan suaminya sendiri. Merusak dari batin bukan fisik. Itu jauh lebih menyakitkan meski tidak muncul luka sedikit pun di badan. Surya yang menderita. Bukan lagi sembarang satu dua hari. Tapi bertahun tahun sejak hidup dengannya.

"Ibu foto ya, Nak. Senyumnya ganteng sekali putranya Ibu ini. Masya Allah!" 

Nabila mengarahkan ponselnya untuk mengambil gambar Adit tertawa girang bersama Shanum. Bagus dengan posisi yang tepat. Setelah ia dapat satu potret Adit yang sedang tertawa, arah tujuan potret itu ia kirimkan pada satu kontak yang selalu setiap jam ia kirim pesan singkat tentang kabar.

Adit senang coba mainan baru yang dibelikan Bu Anggi.

Setelah gambar terkirim, Nabila membubuhi pesan singkat lainnya.

Kapan Mas mau balas? Saya rindu kamu, Mas.

Demikianlah Nabila, berulang kali mengirim pesan yang sama. Hasilnya harus kembali ikhlas dengan keterangan pesan dibaca. Surya tetap membaca semua pesan Nabila tanpa melakukan balasan. Tidak mau terlarut dalam kebimbangan, Nabila meletakkan ponselnya. Melupakan sejenak bahwa hatinya masih terus bertahan menunggu. Satu kabar yang akan membuat dirinya merasa lebih tenang. Pesan dari seseorang yang kini sama merananya.

...

Pasti ada kabar menyenangkan setiap Surya membuka ponselnya. Pesan-pesan dikirimkan Nabila dapat ia terima dengan baik. Apalagi dengan wajah Adit menyertai setiap pesannya. Menjelang malam ia akan beristirahat sambil menikmati tingkah apa yang putranya lakukan di rumah.

"Bapak kangen, Dit."

Gambar di ponselnya bisa sedikit lebih besar seperti yang diajarkan Pakcik Samsul, seorang pria yang tinggal di sebelah rumah Pak Samuel. Untuk memperbesar tampilan gambar, cukup di gerakkan dua jarinya melebar dari pusat layar ke area tepi. Surya bisa melakukannya. Dengan sedikit kaku, ia perbesar bagian wajah putra sematawayangnya itu. Adit tertawa lebar membawa sebuah mobil-mobilan kecil berwarna kuning. Sementara di badannya, mengenakan satu kaus yang belum pernah Surya lihat sebelumnya. Itu baju baru. Tidak penting Surya tahu Adit mendapatkannya dari siapa, yang ia lihat hanya sosok putranya yang begitu tampan.

Sampai ia tidak menyadari satu sudut potret Adit yang baru saja dikirim tadi menunjukkan satu pantulan gambar dari kaca di ruang tamu keluarga Radit. Tampak sosok Nabila tersenyum getir mengarahkan ponselnya ke sudut Adit berada. 

"Nabila," panggil Surya tanpa sadar. Baru kali ini ia bisa kembali melihat wajah istrinya. Tidak begitu jelas. Gambar bisa semakin pecah saat diperbesar.

"Minta istrimu kirim fotonya juga. Jangan Adit mulu."

Pak Samuel ikut duduk di depan Surya setelah menerima telepon dari seseorang. "Dulu saya hancur sekali mengetahui istri saya sudah tidak bernyawa. Kamu tahu? Dokter yang menangani dia sampai saya maki habis-habisan." Sebotol air mineral ia tenggak sebelum kembali bercerita.

"Semua orang menenangkan saya. Kanan kiri tangan saya dipegang kencang sekali. Diseret ... dikeluarkan dari ruangan. Sampai waktu kremasinya tiba, tempat abunya tidak bisa lepas dari tangan saya." Saat menceritakan kenangan itu, mata Pak Samuel berkaca-kaca hebat. Setiap kali ia kembali mengenang mendiang istrinya, sekalipun baru saja ia main catur dengan Pakcik Samsul dan menang telak, ia bisa langsung menangis saat mulutnya berkisah tentang hari itu.

"Satu hal yang lantas membuat saya kecewa adalah tidak ada waktu lagi untuk saya membuatnya bahagia."

"Beliau sudah meninggal, Koh."

"Saya ngerti, Surya. Saya sendiri yang tebar abunya di laut." 

Surya meletakkan lagi ponselnya di atas meja. Memilih fokus mendengar pembicaraan Pak Samuel dengannya. Surya mulai terpengaruh untuk selalu bergantung pada ponsel itu. "Apa yang anda rasakan saat itu?" Surya penasaran.

"Saya menyesal," tarikan napas dalam Pak Samuel sampai terdengar sesak di telinga Surya. "Tuhan tidak memberikan kesempatan saya mendengar permintaan terakhirnya." Sebutnya tentang keterbatasan mendiang istrinya yang terkena stroke.

"Apa dia mau ditebar di laut atau di gunung. Berapa lama kebaktian yang harus kami buat untuk mendoakannya. Dia pakai baju apa sebelum dikremasi, saya tidak tahu maunya apa, Surya. Itu yang membuat saya menyesal. Tidak mau mendengarnya."

Pak Samuel juga bercerita bahwa ia sudah menitipkan pesan ke putra-putrinya perihal cara perawatan jenazahnya saat ia tiada. Bahkan satu stel pakaian baru sudah ia siapkan untuk jenazahnya pakai kelak.

Pak Samuel genggam salah satu tangan Surya dan berkata, "Sampaikan, Surya. Sampaikan apa yang kamu mau. Yakinkan, agar tidak ada hati yang menyesal di kemudian hari. Saya percaya kamu pria yang kuat. Kamu punya prinsip," tutur Pak Samuel penuh keyakinan.

"Sejak awal hubungan kami sudah tidak sehat, Koh. Saya mencintai dia jauh sebelum dia mengenal saya. Saya pikir, perasaan saya saat itu hanya suka-sukaan biasa. Sebab dia mencintai orang lain ... bukan saya."

Surya merasakan jatuh cinta yang sangat dalam. Sama seperti Nabila yang mencintai pria lain sama dalamnya. 

"Saya tahu rasanya bagaimana mencintai seseorang tapi ... Saya lelah berjuang sendirian, Koh." Surya mengusap layar ponselnya yang mati, "cinta saya terlalu berisik buat dia."

Ponsel Pak Samuel kembali berbunyi. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang membuatnya sontak terkejut. "Putuskan sekarang, Surya," pintanya tiba-tiba.

"Dalam beberapa hari ini saya berharap kamu telah mendapatkan jawaban atas masalahmu."

Surya mengangguk. Satu keputusan terakhir yang akan ia lakukan segera. "Saya sudah yakin dengan keputusan saya, Koh. Saya harap, ini yang terbaik untuk saya, Nabila, dan—" Surya menunduk. Ia tidak sanggup mengorbankan putranya.

"Saya yakin Adit bisa tumbuh dengan baik tanpa saya."

***

Dua koper berukuran sedang dibawa Pak Sugeng menuju mobil. Koper yang dipakai Nabila adalah milik Anggi. Mereka hanya pergi beberapa hari saja. Tidak membutuhkan banyak barang atau pakaian. Kalau dibutuhkan barang lain, lebih baik mereka akan beli saja di tempat. 

"Kabari kalau sudah sampai ya, Mas. Dijaga emosinya." 

"Iya, jaga diri di rumah, ya. Titip anak-anak." Dibiarkannya punggung tangan Radit dicium oleh sang istri. Dilanjut Shanum yang ikut menyalami tangan Radit.

Shanum melambaikan tangannya seperti kebiasaannya setiap Radit akan berangkat kerja. Ya, Shanum tidak rewel saat akan ditinggal Papanya kali ini. Sejak awal menata barang-barang yang akan Radit bawa, Shanum sebenarnya menunjukkan tanda-tanda panik. Tapi, berkat bujukan dan pengertian yang Anggi berikan, sedikit banyak menenangkan Shanum agar tidak ikut saat Papanya pergi.

"Papa kerja dulu ya, Dek." Alasan klise.

Shanum mencium pipi sang ayah dan tidak lupa berteriak kegirangan. 

"Adit biar sama Bude. Nggak papa. Hati-hati di jalan, ya. Semoga urusannya cepat selesai." Bude memeluk Nabila sebelum akhirnya mengambil alih Adit dari gendongannya.

"Sabar." Pesan Bude lagi. Belum pernah sekalipun Nabila meninggalkan putra kecilnya itu keluar kota. Hatinya masih tidak tega berjauhan dengan Adit. Berat tangannya seolah ingin menggendong dan turut serta membawanya pergi. Namun tidak bisa, akan lebih susah kalau Adit diajak ikut serta. 

Menginjak pukul enam lebih sepuluh menit, Radit dan Nabila akhirnya berangkat. Pak Sugeng mengantar keduanya menuju bandara untuk penerbangan pagi sekitar pukul delapan. Tidak boleh terlambat. Perjalanan kali ini mempunyai misi yang sangat penting. Untuk keberlangsungan hubungan Nabila dan Surya begitu juga nasib di masa depan. Radit melambaikan tangannya melepas keluarga kecilnya. Ada harapan besar yang ingin mereka dapat. 

"KTPnya dibawa, kan?" Tanya Radit dari dalam mobil. Nabila duduk sendirian di bangku tengah sementara Radit di sebelah Pak Sugeng yang menyetir.

"Yang baru? Iya." Tepukan dua kali Nabila lakukan pada tas kecilnya.

Radit kembali menegakkan duduknya dan menikmati sepanjang perjalanan. Akhirnya, perjalanan mereka akan segera dimulai.

***

Pengalaman pertama Nabila untuk naik. Seumur hidup ia tidak pernah menguudara dengan si burung besi ini.

"Pernah naik kapal, Pak. Ke Jakarta," ungkapnya. Semua pengurusan ada pada Radit. Nabila hanya bisa terus mengekori Radit kemana pun ia pergi. Dengan penuh ketelitian, Nabila mendengar percakapan Radit kala pengecekan tiket mereka. Ada satu pertanyaan yang diberikan kepada Radit membuat Nabila gugup bukan main.

"Istrinya hamil?" Tanya petugas pemeriksaan.

Nabila mendapat tatapan Radit untuk segera menjawab pertanyaan tersebut. Gelengan kepala yang akhirnya Nabila lakukan. Sampai akhirnya mereka masuk ke pesawat yang dituju. Tidak pernah Nabila bayangkan akan menaiki pesawat sebesar itu. Seumur-umur ia hanya pernah ke bandara. Belum pernah masuk ke area dalam apalagi sampai memasuki kabin pesawat. 

Sapaan hangat dan ucapan selamat datang ia terima. Pelayanan yang ramah dari wanita-wanita berseragam cantik mengantarkannya pada salah satu barisan bangku di dekat jendela. Radit mendesah lega tidak mendapat bangku di dekat area sayap. Ia tidak mau harus dipindah bangku dan menjauh dari Ibunya itu. Tidak beberapa lama kemudian, seorang pramugari menangkap kebingungan di wajah Nabila sejak menemukan satu bangku sesuai boarding pass miliknya. Nabila kebingungan harus bagaimana lagi. Ia tetap berdiri di belakang badan Radit yang sibuk meletakkan koper kecil mereka di bagasi kabin. Terus menunggu saja. Pengecekan saat check-in cukup menguras rasa takut Nabila. Apalagi kalau tidak dengan pemeriksaan identitasnya. Ia tidak ingin ada yang mengungkit atau menanyai masalah jati dirinya.

"Permisi, Ibu, ada yang bisa saya bantu? Sudah tahu tempat duduknya?" Seorang pramugari bersanggul kecil menyapa Nabila begitu bersahabat. Wajah terpukaunya dengan segala macam sudut kabin buyar seketika.

Badannya pun bergetar.

Boarding pass Nabila kembali diminta untuk diperiksa. Seperti baru mendapat sidak, Nabila takut telah melakukan kesalahan. "Eh, ini. Saya—" Satu-satunya yang ada di pikiran Nabila adalah mencari bantuan. Ia meminta ke Radit untuk menjawab pertanyaan pramugari tersebut. Sulit sekali satu kata ia keluarkan dari mulutnya.

Tarikan tangan Nabila ke jaket Radit berakhir sesuai harapan, Radit sedikit menunduk menanyakan masalahnya. "Ada apa, Bu? Kenapa nggak duduk?" Tanya Radit hingga terdengar ke telinga pramugari itu.

"Oh, begini, Pak. Saya hanya menanyakan apakah istri Bapak ini membutuhkan bantuan."

Radit mengernyit bingung. Senyuman manis dari si pramugari masih menyambut Radit untuk coba bersuara. Telinga Radit tidak salah dengar. Pramugari itu menyebut Nabila sebagai istrinya. Lagi. Sama seperti saat melakukan check in di awal. Apalagi sudah jelas tadi ia memanggil Nabila dengan sebutan Ibu.

"Pak, ini saya ditanya kertas yang tadi," bisik Nabila. Malu rasanya ia tidak tahu apa-apa.

"Sudah menemukan tempat duduknya, Bapak dan Ibu?" Tanya pramugari itu lagi.

Radit menunjuk bangku dengan nomor yang sesuai. "Sudah, kami duduk di sini." Radit menunjuk bangku mereka. Nada bicaranya ikut tenang berharap Nabila tidak terserang kepanikan lebih parah. "Iya kan, Bu? Ayo, duduk dulu. Kasihan sama penumpang lain. Nggak bisa lewat," ajaknya. Radit tidak lupa mengucapkan terima kasih atas perhatian para pramugari kepada mereka.

Pesawat take off tepat sesuai jadwal pada pukul delapan lewat dua puluh menit. Nabila tersenyum lega selepas pengumuman menjelaskan bahwa ketinggian mereka sudah cukup stabil. Radit mengecek layar monitor kecil di hadapannya mencari hiburan yang sekiranya menarik. Masih ada kurang lebih enam jam mereka berada di udara sebelum sampai ke tujuan. 

"Ibu mau nonton apa? Ini banyak film animasi juga. Kesukaan si kembar." Radit menawarkan untuk membantu Nabila mengoperasikan LCD di bangku depan mereka. Nabila menolak dan memilih duduk dengan pemandangan dari jendela di sisinya. Pemandangan awan putih cukup menghibur Nabila saat ini.

Sembari tersenyum, Nabila berkata, "Nanti jangan panggil Ibu lagi, Pak." Radit menghentikan jarinya menekan pilihan film yang akan ia tonton, "kita sudah dua kali dikira suami istri." Nabila malu-malu. Karena sikap perhatian dan panggilan dari putra masa depannya itu, membuat banyak orang mengira mereka adalah pasangan suami istri.

"Atau bahkan dikira istri kedua saya." Dan Radit pun tertawa. 

Tidak ada yang salah memang. Mereka serasi. Ada kemiripan wajah yang dikira sebagai tanda berjodoh. Belum lagi masing-masing memakai cincin pernikahan di jari manis. Bukti apa lagi yang akan menampik bahwa mereka bukan suami istri tapi ibu dan anak. Tidak masuk akal.

"Jangan sampai Bu Anggi dengar kata-kata itu."

"Aduh, bisa perang dunia kalau tiba-tiba ada orang yang mengenal saya dan melihat kita di sini berdua." 

Bagai diingatkan, Radit melirik sisi kirinya. Seorang pria muda dengan tatapan penuh tanya tersenyum ke arahnya. Radit mengangguk bersikap biasa.

"Terus saya panggil apa? Sayang?"

"Pak." Pekik Nabila ditambah satu pukulan mendarat di paha Radit. "Jangan aneh-aneh. Nanti didengar orang. Jahil banget, mirip bapaknya."

Radit dengar itu, hatinya tersentuh.

Perjalanan mereka masih jauh. Radit bahagia, akhirnya ia bisa menikmati sebuah perjalanan panjang hanya berdua dengan ibu kandungnya. Kalau tidak mengingat ada orang lain di sebelahnya, Radit akan memeluk tubuh kecil Ibunya dan mengucapkan rasa terima kasih dan sayangnya. Radit cukup menahannya saja. Nanti akan ada waktunya ia mengungkapkan semuanya. Untuk kali ini, perasaan ibunya lebih penting. Hubungan kedua orangtua Radit sedang tidak baik-baik saja. Tidak pantas rasanya ia bermanja-mana tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Dua kali merasakan turbulensi ringan hingga sedang, Nabila bersama Radit mendarat dengan selamat. Tidak ada bagasi yang harus mereka tunggu sedikit membantu mereka menghemat waktu langsung menuju pintu keluar. Ponsel Radit kembali diaktifkan normal. Pesan-pesan dari Anggi bermunculan menanyakan kabar mereka. Dua pesan lain datang dari nomor yang tidak Radit kenal.

"Pak, kita setelah ini bagaimana? Bapak tahu jalan?"

Roda koper Radit sempat tersendat akibat tisu seorang anak yang dilepar begitu saja. "Kita bisa cari kendaraan untuk ke hotel dulu. Tapi—ini ada orang yang kirim pesan. Katanya rekan Pak Galih ada yang mau jemput." Radit menggeleng tidak percaya. Pak Galih benar-benar membantu mereka untuk perjalanan ini.

Sesuai pesan yang diterima Radit, pria bernama Hong sudah bersiap dengan papan bertuliskan Bapak Raditya Bagaskara & Ibu Nabila. Mereka mendekati pria bertubuh kurus dengan mata sipitnya. "Selamat siang, Pak Radit dan Ibu. Saya supirnya Pak Daud, kawan Pak Galih dari Surabaya. Pak Daud sedang ada acara di Toboali. Seminggu di sana. Jadi, saya sendiri yang diminta jemput."

"Alhamdulillah, terima kasih, Pak Hong. Sampaikan salam hormat saya untuk Pak Daud," kata Radit diikuti anggukan Nabila. Keduanya diajak masuk ke mobil yang sudah menunggu mereka. Radit menyegerakan untuk menelepon Pak Galih mengucapkan terima kasih. 

Pesan dari Steven baru saja masuk setelah mobil Pak Hong keluar area bandara. Sedikit sungkan, Radit menunjukkan alamat yang Steven kirimkan padanya. Sebuah penginapan di daerah Sijuk. Itu adalah milik Pak Samuel yang telah dirintisnya bersama mendiang istrinya puluhan tahun lalu. Rupanya Pak Hong mengenal sosok Pak Samuel.

"Ah, orang baik ini rupanya. Anda tahu, Koh Giok ini sampai memberdayakan warga sekitar buat kerja di cottagesnya."

Radit percaya, Pak Samuel bukanlah orang sembarangan yang berbahaya. Banyak orang yang mengakui kedermawanannya. Meski sosok keras dan tegasnya dalam berbisnis tidak mengurangi rasa hormat orang-orang di sekitarnya. Menurut Pak Hong, perjalanan dari bandara menuju tempat Pak Samuel tidaklah lama. Kurang dari satu jam wilayah penginapan milik Pak Samuel pun sudah terlihat. Pak Hong bercerita jika dulu daerah di sana sangat kumuh karena pecahan wilayah desa nelayan yang tidak terurus. Pak Samel membelinya dan merintis penginapan dengan pemandangan langsung menuju pantai. Sosok Pak Samuel berhasil menaikkan daya pikat pariwisata di sana. 

Sementara itu di tempat yang dituju, Pak Samuel menelepon penjaga untuk mempersilakan masuk jika melihat dua orang yang identitasnya dikirimkan olehnya. Senyumannya yang merekah berarti sesuatu. Sementara itu, sepiring bolu kukus mekar Surya letakkan di meja dengan tatapan kosong. Makanan itu mengingatkannya kepada Nabila. Cantik dan harum kue itu tidak bisa disamakan dengan buatan Nabila. Tidak ada muncul selera dari Surya untuk memakannya, sebab itu bukan buatan Nabila.

"Mak, buahnya jangan lupa dikupas juga. Biar enak memakannya." Pak Samuel memerintahkan asisten rumah di sana untuk menyiapkan makan siang. Cukup lengkap kalau hanya dimakan dua orang saja. 

"Akan ada tamu?" Surya penasaran.

"Iya," Pak Samuel terbahak membaca pesan dari penjaga di area depan. "Dasar, dikira suami istri lagi. Padahal bukan. Ya, Tuhan!"

Surya tertawa sebab terbawa Pak Samuel yang begitu bersemangat. Hanya bisa menerka-nerka, siapa yang akan datang sampai Pak Samuel menyiapkan beberapa makanan atau camilan khas Belitung. Itu artinya kemungkinan besar tamu mereka adalah datang dari luar daerah sana.

"Jangan makan dulu, Surya. Mereka sudah sampai. Kita nanti makan bersama." Tidak lama suara mobil mendekat, "nah, itu dia," tunjuknya.

"Siapa, Koh? Tamu spesial?"

Lihat selengkapnya