"Bapak maunya apa? Pisah sama Ibu?"
"Pada akhirnya juga kami berpisah, bukan? Pasti bukan jadi masalah untuk kamu."
Radit singkirkan semua masalah yang ada untuk mengingat satu kenyataan yang tidak bisa terbantahkan lagi. Karena pada kenyataannya, mereka dipisahkan oleh maut. Radit menggenggam ponselnya seolah ingin menghubungi sang istri segera. Untuk saat ini, ia sangat membutuhkan pelukan hangat Anggi.
Malam pun semakin terasa dingin hingga menusuk tulang. Ini hari pertama bagi Radit untuk tinggal di penginapan milik Pak Samuel. Badanya tidak karuan selepas keluar dari surau tadi. Matanya juga tiba-tiba berat.
"Istirahatlah, angin malam tidak baik buatmu."
Surya kembali mendahului Radit. Ia hanya ingin masalah itu tidak membuat orang lain jadi terbebani. Pak Samuel sudah cukup membantunya dalam memberikan kesempatan waktu serta tempat untuk memantapkan diri. Ia berharap, keputusannya kali ini tidak akan menjadikan putranya, Radit, sebagai suatu hal yang menakutkan. Perpisahan akibat kematian jauh lebih mengerikan. Seorang Radit dipercaya Surya mampu menjalaninya. Surya tidak akan segan untuk pada akhirnya benar-benar berkeinginan menjalani sebuah proses perpisahan.
Perintah itu tidak mampu membuat Radit bereaksi. Surya rupanya juga menyadarinya. Sempat ia melihat ke belakang, Radit tetap berdiri diam.
"Mau sakit? Ingat umur, Bapak Raditya." Suaranya tajam sekali.
Langkah Surya kembali dipercepat. Bergegas pergi dengan menggenggam ponselnya yang baru ia keluarkan dari saku celana. Tapi rupanya tidak demikian arah Surya berlalu. Kakinya bergerak menjauh dari arah tempat Pak Samuel. Menuju area dermaga buatan yang biasa digunakan para pengunjung untuk menikmati suasana pantai. Ingin rasanya Radit mengejar. Sayang, hati kecilnya menolak.
"Sabar, Pa, Kakek Surya hanya sedang bingung. Kakek masih ragu sama perasaannya. Belum bisa jujur. Bantu kakek ya, Pa," Panggil sebuah suara dari arah belakang Radit. Telinganya merasa begitu akrab. Suara yang sangat Radit kenal.
Seorang anak laki-laki tersenyum padanya. Ya, Reza berdiri dengan senyuman terbaiknya.
"Kuatlah, Papa."
***
"Alhamdulillah," Nabila mencegah Pak Samuel melanjutkan perintah kepada anak buahnya, "tidak perlu, Dia sudah sadar."
Radit mengerjapkan matanya. Berat seketika menyerang sekitar dahi dan sekeliling matanya. Rasa nyeri juga terasa pada bagian belakang kepala dan siku kirinya. Ada luka gores di sana. Jejak darah sedikit mengotori baju yang Radit pakai. Entah untuk bagian belakang.
"Bawa obat, kan? Biar diambilkan Nabila."
Radit berpesan untuk mengambilkan kantung hitam yang diletakkan di atas meja dalam kamarnya. Di situ obat-obat yang dibawakan Anggi disimpan. Pak Samuel meminta Nabila bergegas. Tiga orang pria yang mengantar Radit mulai berpamitan untuk kembali. Radit tidak tahu jelas siapa saja. Kacamatanya tidak ia pakai. Tidak tahu berada di mana. Radit hanya mengucapkan terima kasih sekuatnya. Sampai tiga tubuh orang dewasa—dan rupanya satu anak-anak pergi begitu saja.
Berkat bantuan Pak Samuel, Radit menerima kacamatanya. "Kamu pingsan di dekat surau. Angin malam tidak baik. Apalagi dekat pantai begini."
Kestabilan kesehatan Radit belum cukup ditambah kelelahan sepanjang perjalanan mengakumulasi malam ini. Badan Radit sedikit panas. Obat yang harus ia minum setelah makan malam diberikan Nabila bersama dengan segelas air. "Langsung istirahat, ya. Takut semakin parah," pinta Nabila.
"Belum memberitahu Anggi, kan?" Tanyanya cepat. Radit menenggak kembali air minumnya.
"Belum. Hanya Koh Giok yang sempat mau hubungi ambulan."
Radit sedikit lega, dirinya takut membuat panik istrinya di rumah. Setelah memastikan hal tersebut aman, Radit mengingat Surya. "Bapak sudah pulang, Bu?" Setidaknya ia sempat bertemu beberapa saat lalu meski ditinggalkan begitu saja.
Nabila menggeleng. "Kata salah satu yang mengantar tadi, Mas Surya di dermaga," ujarnya tidak bersemangat. Di saat putranya sakit, Surya malah tidak ada. Tetap dalam posisi bersimpuh, Nabila terus memasang perhatiannya pada Radit. Meski putranya itu berbeda usia jauh dari anak yang selama ini dalam buaiannya, namun satu hal yang tetap sama di mata Nabila.
Radit adalah Adit, putranya.
"Saya tidak apa-apa, Bu. Sudah agak baikan. Ayo, duduk sini."
Pak Samuel pamit untuk menelepon kembali Steven untuk menanyakan masalah hall tempat resepsi yang mengalami kerusakan. Kondisi cuaca sedang tidak menentu saat ini di Jawa. Tidak ada lagi waktu panjang untuk terus menunda. "Temani, Nabila. Saya pamit ke depan dulu." Pak Samuel menepuk pundak Radit memberikan semangat dan pesan untuk tetap beristirahat.
Satu kursi Nabila tarik mendekat di sebelah Radit setengah berbaring di sofa. "Kamu setiap sakit selalu begini. Diam terus. Melas." Gelas berisi air yang dibawa Radit diambil alih oleh Nabila. Menutupnya lalu meletakkan kembali di atas meja bersama satu kantung obat tadi.
"Ibu sama seperti Anggi. Suka panik kalau lihat saya lemas."
"Ibu mana yang tidak khawatir lihat putranya sendiri sakit sampai lemas?"
Radit tertunduk mengingat kembali kejadian yang membuat dirinya hilang kesadaran. Memang Radit akui, sejak sampai di tempat itu kondisi badannya terasa tidak sehat. Kepalanya sering nyeri dan pandangannya sesekali kabur sampai hilang fokus. Terakhir, ia merasakan itu saat bersama Surya sebelum meninggalkannya seorang diri—tidak, Radit ingat ada orang lain.
"Ada Abang, Bu," sebut Radit.
"Reza?"
Lagi, Radit pastikan di depan tidak ada orang lain yang ia kenal. Anak-anak yang berada di sana juga tidak ada satu pun ia kenal. Tapi Radit yakin, sosok Reza yang berpesan untuk dirinya tadi seperti benar-benar nyata. Ingin Radit bangkit dari posisinya kini, sayangnya Nabila lebih dulu menahan dirinya tetap pada posisinya setengah berbaring.
"Saya merasa Reza ada di sini, Bu."
"Reza sudah meninggal. Memang bisa orang yang sudah meninggal tiba-tiba saja datang?"
Astaga. Nabila terjebak dari pertanyaannya sendiri.
"Bu, apa saya sudah gila, ya?" Radit mengusap ujung hidungnya. Dingin seperti kencangnya angin di luar sana. Ia ingat, Surya masih ada di luar. Sebagai anak ia khawatir kalau ayahnya mengalami sesuatu.
"Bukan gila. Berhalusinasi." Nabila pamit membawa gelas minum Radit. Ia akan menyiapkan air jahe hangat untuk bisa Radit minum. Nini sempat menunjukkan tempat penyimpanan rempah-rempah saat memasak makan malam tadi. Ia wanti-wanti agar Radit tidak kemana-mana terlebih dahulu. Pak Samuel juga sepertinya tidak terlihat di depan. Biasanya, setahu Nini, Pak Samuel berkunjung ke tempat Pakcik Samsul untuk bermain catur.
Tidak butuh waktu lama, Nabila kembali membawa segelas jahe hangat ke hadapan Radit.
"Biar hangat badannya."
"Terima kasih, Bu. Dan," Radit mengeluarkan ponsel dari sakunya. Hanya pesan singkat dari Anggi yang sampai beberapa saat sebelum salat Isya tadi, "ibu belum cerita ke Anggi, kan?" Muncul rasa khawatirnya itu lagi. Satu hal yang mengganggu pikiran Radit adalah istrinya bisa saja langsung mencari penerbangan tercepat demi menyusulnya jika tahu keadaannya seperti ini.
Senyuman Nabila tidak mampu menjelaskan semuanya. "Ibu belum kasih tahu Anggi, kan?" Astaga, Radit benar-benar takut.
"Belum, jangan khawatir." Nabila sambil setengah tertawa.
"Saya dilarang kelelahan, Bu. Apalagi dibagian mata dan kepala. Jangan sampai ada benturan."
Mata Nabila terbuka lebar sekali. Dengan reflek yang tidak bisa dibaca sebelumnya, kepala Radit langsung diperiksa secara menyeluruh. "Tadi terbentur sesuatu? Kata orang-orang yang antar kemari, mungkin bisa saja terbentur pohon kelapa." Kekhawatiran Nabila memang berdasar. Banyak pohon kelapa atau kayu-kayu yang berada di sekitar area surau. Belum lagi dengan beberapa luka aneh yang ada di badan Radit. Sedikit banyak saat ia terjatuh, ada benda asing yang melukainya ... mungkin saja.
"Nanti operasinya bagaimana? Lain kali hati-hati. Jangan banyak tingkah. Jaga kesehatan. Istrimu sudah susah payah cari dokter untuk kesehatan suaminya."
"Iya, Bu. Mangkanya jangan cerita ya kalau saya baru saja pingsan."
Lagi-lagi Radit ketakutan jika sang istri tahu, "Kalau tiba-tiba telepon dan khawatir? Hati seorang istri itu juga sama pekanya," ungkapnya.
"Ibu peka juga tidak ke Bapak?"
Tiba-tiba suara ponsel Radit berbunyi. Nama Anggi muncul sebagai pemanggil. Radit meminta izin supaya Ibunya tetap tutup mulut dan bersikap biasa saja. Ia memilih untuk duduk dan menerima panggilan itu. Suara Anggi langsung menyambut. Teriakan Shanum ikut terdengar juga dari sana. Nabila sampai harus menahan tawanya. Membayangkan tingkah cucu perempuannya itu.
"Eh, salam dulu, Dek. Assalamualaikum, Papa. Adek kangen, nih."
Radit membalas salam sang istri langsung. Shanum memanggil sekenanya berharap Radit segera membalasnya. "Kenapa nggak video call saja?" Tanyanya.
"Nanti malah panik kalau lihat wajah kamu. Mending suara saja, deh. Tahu ini si Adek tiba-tiba minta Papa-papa terus." Suara Anggi tiba-tiba menghilang. Seperti berbisik pelan sebelum kembali bertanya sebuah pertanyaan pamungkas. "Tapi kamu nggak apa-apa kan, Mas?" Anggi bertanya begitu dalamnya.
Radit dan keluarganya membutuhkan waktu untuk saling berbincang. Dengan isyarat tangannya, Nabila pamit untuk masuk ke kamarnya. Hanya saja Radit menangkap gelagat kekhawatiran tiba Nabila terus menatap luar rumah dalam beberapa kesempatan. Tangannya ikut diremas sangat kuat.
"Mas? Are you OK?"
"Ya, hanya kelelahan. Perjalanannya lumayan." Alasan Radit.
Anggi banyak bercerita tentang kegiatannya hari ini. Sekolah si kembar sampai perkembangan Shanum yang sudah mau makan makanan baru. Tidak hanya itu, ada beberapa masalah bisnis dan surat-surat yang ditujukan kepada Radit. Meski demikian, Anggi mengatakan masih bisa menghandlenya seorang diri. Serta satu hal yang Anggi lupa ingin menyampaikannya sejak pagi.
Om Sabda akan berkunjung besok.
"Dalam rangka?" Radit tidak tahu apapun kabar tersebut. Om Sabda juga tidak mengabarinya.
"Tadi sempat telepon Pak Sugeng, katanya minta dijemput di Juanda. Om Sabda dari Makassar. Katanya ada rekannya yang meninggal. Bawa oleh-oleh buat anak-anak, kepingin mampir dulu ke sini." Anggi sudah mengonfirmasikan langsung kepada Om Sabda jika informasi itu benar adanya. Pak Sugeng diminta untuk menjemput sekitar sore hari sesuai jadwal pesawatnya tiba.
Mungkin nanti Radit akan coba untuk menghubungi Om Sabda lagi. Karena ia sendiri sedang tidak ada di rumah.
"Terus, kabarnya bagaimana, Mas? Maksudnya, Bapak dan Ibu."
"Masih sulit. Bahkan ada signal untuk kemungkinan terburuk." Sebut Radit pada hal paling menakutkan terjadi pada sebuah hubungan pernikahan. "Saya takut dengan hubungan mereka. Sampai rasanya—saya hampir gila di sini. Saya tidak tahu apa ini wajar atau memang saya saja yang mulai gila."
"Meaning?"
"Saya sampai berhalusinasi bertemu Reza."
"Ya ampun, Mas. Rasanya aku mau nyusul kamu sekarang." Radit tersenyum, benar sekali tebakannya tadi.
Dan perbincangan itu terus berlangsung hingga berberapa menit. Sementara dari dalam kamarnya, Nabila terus mengamati salah satu foto yang berhasil ia ambil saat sore lalu. Sosok seseorang yang duduk terpaku di bawah pohon di halaman belakang. Surya—sedang menangisi gambar Nabila dari ponselnya tanpa ada yang tahu, kecuali Nabila yang tanpa sengaja melihatnya secara langsung. Lalu Surya tersadar dan menyembunyikan ponselnya kembali. Hingga pada akhirnya terlontarlah sesuatu yang tidak pernah Nabila bayangkan sebelumnya. Tentang perpisahan dan segala kemungkinannya.
Nabila tidak mau.
***
Efek dari kelelahan akibat perjalanan jauhnya, Nabila tidak terasa tertidur tanpa tahu suaminya di mana. Subuh ia bangun. Suara lantunan azan yang jelas ia kenal siapa pemiliknya menyadarkan satu hal, suaminya sudah berada di surau. Tidak tahu semalam di mana pria itu tidur. Sisi ranjangnya rapi seperti tidak tersentuh. Posisi bantal yang berubah saja sebagai tanda.
Keyakinannya hanya sedikit kalau memang Surya benar-benar tidur di sisinya. Emosi pria itu tidak mampu ia redam. Terlalu sakit dan sulit ia obati.
"Kenapa jadi begini. Saya harus apa, Mas?"
Nini menyambut Nabila yang membuka pintu kamarnya dengan mata sembab. Di tangannya sudah ada sajadah dan mukena berwarna hijau kelabu. Nabila ditawari untuk ikut bersama menuju surau. "Pak Radit baru saja keluar duluan. Barengan sama Koh Giok, Mbak." Cerita Nini.
"Koh Giok? Ke Surau?"
Nini malah terbahak lantas menjawab, "Kok Giok ikut jalan-jalan. Katanya mau ikut jalan-jalan di dekat surau. Ada jalanan setapak yang dibuat seperti pijat refleksi begitu. Batu-batu." Sebentar lagi azan subuh itu akan selesai. Saran Nini agar Nabila segera mengambil air wudu. Di sana tempatnya terbatas, belum lagi waktu yang tidak banyak. Akhirnya Nabila bergegas mempersiapkan dirinya dan ikut bersama Nini pergi ke surau.
Di surau, para pria kembali menunjuk Radit untuk menjadi imam salat mereka. Radit tidak yakin apakah ia mampu setelah kejadian semalam. Surya pun sampai menengahi jika saja Radit benar-benar tidak kuat, harus ada yang menggantikannya. Kedatangan Nabila dan Nini bertepatan dengan Radit memantapkan dirinya untuk menjadi imam. Kekhawatiran Nabila belum juga surut. Keluhan Radit dari nyerinya di kepala tidak bisa menenangkan Nabila. Putranya masih belum sehat betul.
"Alhamdulillah akhirnya bisa diimami Pak Radit. Ayo, Mbak Nabila. Kita maju."
Nabila diremas kuat oleh Nini agar menempati barisan cukup dekat dengan bagian barisan belakang para pria.
Dua pria yang berada tepat di belakang Radit tiba-tiba mendapat permintaan dari Surya. "Boleh saya di sana, Pakcik?" Pinta Surya pada seorang pria sepuh yang bekerja sebagai pedangang kelapa. Dengan ikhlas, beliau bertukar tempat di belakang Radit. Dengan cara itu, Surya bisa lebih dekat untuk menjaga Radit selama menjadi imam. Andai terjadi sesuatu, ia akan cepat bertindak.
Dan subuh itu terasa begitu khitmat dengan lantunan suara Radit yang nyaman di telinga meski tanpa pengeras suara yang mumpuni.
Bahkan Pak Samuel yang berolahraga di sekitar surau sampai memilih untuk duduk sambil menikmati suara Radit. "Doakan orangtuamu, Nak. Mereka membutuhkan doa dari anak yang taat memuja Tuhannya sepertimu." Lirih Pak Samuel dalam heningnya. Tidak banyak waktu yang dibutuhkan untuk ibadah di waktu matahari akan segera muncul itu. Selepas menjadi imam, Radit melanjutkan tugasnya untuk memimpin kembali para jamaah dalam sebuah kuliah subuh.
"Biasanya saya hanya jadi makmum di masjid dekat kediaman saya di Surabaya. Kalau sedang di rumah, memang saya akan bertugas seperti sekarang tapi jamaah saya hanya satu orang. Istri saya. Anak-anak masih sulitnya minta ampun." Radit mulai berkisah.
Salah seorang jamaah pria berkulit sedikit gelap tiba-tiba mengangkat tangan bertanya, "Katanya, pria lebih baik salat di masjid. Terus istri bagaimana? Kita tinggalkan istri buat salat sendirian atau imami istri di rumah? Pak Radit bagaimana?" Tanyanya.
Radit memperbaiki posisi duduknya. Melihat si penanya dengan menyunggingkan senyuman hangatnya. "Kalau saya lebih memilih salat di masjid. Lalu salat lagi untuk jadi imam istri saya. Kami masih punya bayi, jadi istri saya belum tega tinggal anak sendirian di rumah bersama asisten rumah tangga."
"Salat dua kali? Tidak capek, Pak?"
Radit mengatakan ia pernah mendapat pelajaran tentang masalah itu saat menempuh pendidikan di pesantren. Belum lagi Om Sabda pernah menasihatinya juga dalam beribadah bersama istri untuk kualitas keimanan yang lebih baik.
"Jin Dasim suka sekali dengan pasangan suami istri yang berjarak, apalagi tidak pernah salat berjamaah. Kalau sudah cinta, lelah pun rela kita lakukan untuk istri. Bukan begitu?" Sebut Radit tanpa ragu. Tatapannya dengan sengaja menyasar kepada Surya. Dalam hatinya Radit berharap, ibunya juga mendapat pahala yang sama seperti ia memperjuangkan ibadah bersama Anggi dalam rumah tangganya.
"Kita akan melakukan apapun demi kebahagiaan istri kita. Itu tugas dan naluri alami yang dimiliki setiap suami. Kalau itu Pakcik semuanya lakukan, artinya Pakcik sekalian telah menunjukkan rasa cintanya kepada istri. Rasa cinta tidak pernah bohong dalam bertindak."
Penutup kuliah subuh Radit mendapatkan ucapan terima kasih dari beberapa jamaah yang ikut keluar bersama. Sapaan mereka juga tertuju pada Pak Samuel yang berolahraga di depan surau. Pakcik Samsul menyalami Pak Samuel sambil bergurau kecil. "Ditahan lebih lama, Koh. Pak Radit biar terus di sini. Adem rasanya." Radit bersama Surya, Nabila dan Nini keluar bersamaan sambil menyalami kembali Pak Samuel dan Pakcik Samsul.
"Pak Radit ini kepala sekolah. Punya bisnis juga. Anaknya di rumah masih ada tiga. Yang kecil apalagi. Bisa nangis terus satu komplek perumahan kedengeran kalau bapaknya tidak pulang." Tawa para jamaah yang baru saja keluar pecah sudah.
Pakcik Samsul menanyakan kembali kepada Radit. "Yang bungsu baru satu setengah tahun, Pakcik. Perempuan." Sebut Radit. Tiba-tiba saja ia rindu Shanum dalam gendongannya.
"Ah, pasti cantik sekali. Bapaknya saja ganteng."
Pujian Pakcik Samsul pun berlanjut kepada Surya. Baginya, putra Surya yang sering diceritakan kepadanya itu juga pasti tampan. "Dan soleh, karena Bapaknya saja jago azan seperti Surya. Benar begitu, Koh," Pakcik Samsul mencari pembelaan. Sama sepakatnya, Pak Samuel membiarkan Pakcik Samsul untuk segera ikut dengannya berolahraga.
"Mumpung tidak pakai sarung. Ayolah, Koh!" Kata Pak Samuel.
Kini tersisa Nabila, Radit, Surya, dan Nini yang cepat-cepat undur diri karena tidak bisa terlalu lama berada di dekat Radit. Bagaimanapun juga, perasaannya tidak bisa bohong untuk tidak tertarik kepada sosok Radit.
"Sekarang," Radit berbalik. Menatap kedua orangtuanya, "kita mau apa?"
***
Matahari belum naik. Langit masih cukup gelap dengan suara deburan ombak di sekitar surau. Pecah terhempas bebatuan dan tebing buatan yang sengaja dibangun untuk memecah ombak ke sekitar penginapan. Dari salah satu pintu, masuklah sebuah mini bus ke area lobby utama.
"Tamu baru," Surya mengawali kekakuan mereka dengan berbasa-basi membawa masalah tamu yang baru saja masuk. "Sejak kamu datang, penginapan Koh Giok ramai. Kamu pembawa berkah di sini," ungkap Surya. Karena tidak ada tempat lain, Surya lebih memilih duduk di selasar surau sambil menikmati udara sejuk di sana. Nabila pun rupanya ikut duduk di sisi yang berbeda. Begitu juga Radit. Ia membersihkan lantai untuk ia duduki.
Radit menunduk tidak tahu rasa yang kini mengganggu pikirannya. "Tempat ini jadi ramai karena kedatangan saya. Membawa berkah. Padahal yang saya harapkan bukan tempat ini yang menerima berkahnya, tapi kalian berdua."
Tatapan Radit tidak sedikit pun tertuju antara Surya atau Nabila. Melainkan salah satu pohon yang menurut beberapa orang yang menolongnya semalam berada di sana. Itu artinya, di sanalah Radit merasa bertemu dengan Reza. Kalau memang benar Reza ada, di mana? Bagi Radit, saat ini batas antara realita dan imajinasi sangat tipis. Memikirkan itu, nyeri di kepalanya kembali terasa.
"Kehadiran saya di sini tidak memberi dampak apapun."
"Saya tidak pernah membayangkan akan berakhir seperti ini. Pertemuan dengan kalian berdua siang itu seperti berkah terbesar yang pernah saya dapatkan. Tidak pernah saya duga sebelumnya. Karena—saya pikir Tuhan menakdirkan saya tidak pernah mengenal kalian."
Dada Nabila menghangat. Tetesan air mata yang jatuh beralaskan mukena putih pemberian Anggi di hari pertamanya tiba di rumah Radit. Mukena yang sangat indah. "Tuhan punya alasan," tutur Surya. Matanya terpejam begitu erat. Rasa dingin tidak lagi ia rasa.
"Bapak tahu alasannya apa?"
"Saya bukan Tuhan, Pak Radit."
Kalimat pamungkas Surya menahan pertanyaan lain keluar dari mulut Radit. "Tapi—" benar-benar tidak bisa. Ponsel Radit tiba-tiba bergetar. Ia sengaja meredam suara ponselnya selama salat tadi berlangsung. Sebuah pesan masuk. Dari Pak Yanto. Tidak Radit buka sepenuhnya, tapi kalimat bagaimana, Pak? Sudah tidak ada waktu lagi bisa ia baca dengan jelas.
"Saya bukan Tuhan yang bisa dengan mudah membolak-balikkan hati manusia. Sulit. Sulit sekali. Saya sudah membuktikannya bertahun-tahun. Sampai saya lelah dengan sikap saya sendiri." Suara Surya semakin lama semakin melemah.
Tidak sanggup meneruskannya. Napasnya semakin sesak. "Maafkan saya, Mas—"
"Bukan, ini semua bukan salah kamu," ujar Surya cepat. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan beberapa langkah ke depan surau. "Bicara tentang siapa yang bersalah, kita berdua bersalah tapi ini bukan saatnya merasa siapa yang paling bersalah. Kita hanya butuh merelakan—mengakhiri yang seharusnya telah lama berakhir."
Surya mendekat perlahan ke hadapan Radit. Putranya itu sibuk menahan luapan rasa emosional yang bisa kapan saja meledak. Dengan sekali sentuh, Surya menitipkan satu pesan. "Tetap jadi pria yang baik untuk keluargamu. Beruntung kamu tidak tumbuh melihat saya sebagai suami dan ayah. Saya sudah gagal dan ... mungkin inilah jalannya. Kamu sendiri sudah membuktikan kalau kamu mampu hidup tanpa saya, tanpa kami. Saya yakin kamu paham apa maksud saya."
Radit tersenyum getir. Pada akhirnya, ia sadar ini akan segera terjadi. "Semalaman saya merenung. Apakah saya bisa menerimanya. Keputusan kalian ini," ungkapnya.
"Tolong jangan!" Pinta Nabila ikut menyuarakan permohonannya seolah tidak pernah didengar.
"Ibu pasti tahu, kan ... usaha kita berat. Kita memperbaiki sesuatu yang telah hancur. Kepercayaan seseorang yang telah hancur sangat sulit untuk kita kembalikan."
Seberapa besar usaha Nabila, nyatanya Surya tidak bisa.
"Maaf, Bu. Bapak. Saya tidak bisa bantu kalian. Mungkin Tuhan benar, saya memang ditakdirkan untuk melihat orang-orang yang saya sayangi pergi. Saya tidak bisa terus berharap yang tidak mungkin." Radit pasrah. Membiarkan keduanya saling menjaga jarak untuk menyelesaikan urusan tanpa perlu Radit jadi saksinya.
"Kamu mau kemana?" Nabila berusaha menahan Radit.
"Lakukan apapun yang kalian inginkan tanpa saya," Radit menunduk memberi salam sebelum pamit, "saya hanya tidak sanggup jadi saksi kehilangan untuk yang kesekian kalinya."
Radit berjalan cepat menuju arah pulang. Pak Samuel melambaikan tangannya memanggil bersama Pakcik Samsul yang sibuk berolahraga. Hampir saja Radit ikut bergabung dengan keduanya, ponsel Radit berdering untuk kedua kalinya. Pak Yanto menelepon. Perasaan Radit semakin tidak karuan.
"Maaf, Pak. Saya tidak sempat membaca pesan Pak—"
"Saya sudah tidak bisa menahan mereka lagi, Pak Radit. Usulan Pak Rangga juga ditolak. Saya baru dapat kabar kalau nanti siang jam pulang sekolah, pihak dinas lingkungan hidup langsung turun tangan." Mendengar penuturan Pak Sugeng, Radit seketika membatu.
"Pohonnya akan ditebang hari ini."
Radit benar-benar akan kehilangan untuk kesekian kalinya.
***
Pakcik Samsul menawarkan diri untuk mengantar Radit menuju bandara secepatnya. Lima belas menit menuju jam enam pagi, Radit berpamitan akan kembali ke Surabaya. Pakcik Samsul sudah siap membukakan pintu untuk Radit masuk. Kopernya pun sudah dibantunya untuk masuk.
"Saya tidak tahu harus dengan cara apa berterima kasih. Om Samuel sangat baik membantu saya."
"Ini tugas saya. Biarkan mereka di sini. Kembalilah."
Tanpa berusaha mencari Nabila dan Surya untuk berpamitan, Radit memilih untuk masuk ke mobil Pakcik Samsul dan berharap ia segera berangkat. Ponsel di tangannya dengan status pemesanan tiket pesawat pertama di pagi ini menuju Surabaya telah ia dapatkan. Harga berapa pun Radit ambil asalkan ia bisa segera sampai sebelum waktunya tiba.
Jika diperhitungkan secara kasar, paling terlambat Radit akan sampai ke tanah Jawa di siang hari. Belum lagi perjalanan yang akan membutuhkan waktu cukup panjang. Radit terus berdoa agar waktu tidak mempermainkannya lagi.
Perpisahan dengan Pakcik Samsul berlangsung singkat. Mereka saling mendoakan untuk urusan masing-masing dapat terselesaikan dengan baik.
Tiba di area pengecekkan barang, rasa gugup dan ketakutan Radit bercampur jadi satu membuatnya tidak bisa mengontrol tubuhnya yang lemas.
"Maaf," kopernya terjatuh setibanya keluar dari mesin pemeriksaan. Hampir saja menjatuhi kaki seorang perempuan muda. Sepatu abu-abunya sampai kotor terkena jejak tanah di roda koper Radit. "Sekali lagi saya minta maaf," ujar Radit lagi.
Suara gemerincing dari tas kecil yang dikenakan perempuan itu sampai tidak terdengar di telinga Radit. "Hati-hati, Pak. Butuh bantuan saya?" Tawarnya.
"Tidak, terima kasih. Maaf saya buru-buru." Tanpa melihat perempuan itu, Radit cepat menarik kopernya untuk melakukan check in di konter bandara. Tidak menunggu lama, Radit berhasil mendapatkan bangkunya. Semoga saja ia bisa sampai dengan selamat dan mencegah pohon itu untuk tidak ditebang.
Dan sepertinya memang semesta sedang berpihak kepadanya. Radit sampai dengan selamat meski mengalami keterlambatan beberapa menit. Sampai ia berada di bandara, satu kabar kepulangannya ini tidak ia sampaikan kepada Anggi. Tidak ada yang tahu. Badannya kembali terasa ringan tepat kakinya menapak di anak tangga terakhir.