Sementara untuk Kembali

Sifah Nur
Chapter #15

15. Kembali ke Rumah

Setelan untuk acara pernikahan Steven besok sudah Anggi siapkan.

Hanya untuknya dan Radit. Anak-anak tidak diajak. Bude dengan senang hati menjaga ketiga bocah itu dengan dibantu keponakanya. Rencananya ia akan datang. Yeni, namanya. Guru Kelompok Belajar yang memang sering dimintai tolong Anggi jika membutuhkan ekstra pengasuh.

"Besok kita berangkat sama Om Sabda. Katanya dapat undangan juga. Spesial dari Om Samuel."

Anggi terkejut. Dia tidak tahu kalau Om Sabda juga diundang. "Saya dikasih tunjuk undangannya tadi." Sebut Radit. Ia meminta untuk diambilkan undangan yang diberikan Steven waktu itu. Radit ingin memastikan tidak ada catatan khusus untuk busana para tamu nanti.

"Hanya rapi formal, Mas. Pakai ini, ya. Ganteng." Tunjuk Anggi pada setelan jas yang ia siapkan. Masih hangat selepas ia rapikan dengan setrika uap.

"Asal istriku juga cantik."

"Aduh, bahaya kalau terlalu cantik nanti. Bisa-bisa telat berangkat. Kayak waktu nikahan guru dari sekolahmu itu, Mas."

Radit tertawa sampai sakit perut. Benar ia ingat. Malam itu ia sudah rapi dengan kemeja batik dan Anggi dengan setelan kebaya. Rambutnya memang disanggul rendah, tapi di mata Radit itu sudah cukup memamerkan leher istrinya yang jenjang.

Radit tidak sanggup.

"Khilaf," jawabnya malu-malu. "Tapi aman kan, ya," godanya lagi.

"Awas ya, Mas. Kalau besok begitu lagi. Ini gaunnya agak—" Anggi menahan pendapatnya sendiri dan memilih mengalah. Toh, tidak nyaman juga.

"Ganti, deh. Ada Om Sabda juga. Nggak enak."

Anggi mengurungkan memilih dress lamanya. Pilihannya lantas jatuh pada dress dengan potongan tidak terlalu rendah. Warnanya juga tidak terlalu mencolok tapi manis di tubuh munggil Anggi. Elegan tapi masih menjunjung tinggi kesopanan berbusana.

"Terserah kamu, asal masih sopan." Saran Radit sejalan dengannya.

Sepakat, pakaian untuk mereka besok telah siap. Sore ini, Radit ingin menyelesaikan sisa pekerjaannya yang tertunda selama ia tinggalkan. Laptop menyala dengan layar terbagi beberapa bagian. Tampilannya berbeda-beda pula. Radit bersyukur, Pak Rangga dan Pak Andi selalu bisa ia andalkan sebagai backup dirinya. Masuk di periode kedua menjabat sebagai kepala sekolah, kepercayaan yang diberikan kepadanya tidak main-main. Yayasan yang menaungi sekolah menaruh keyakinan mereka terhadap kinerja Radit untuk meneruskan kepimpinannya di sekolah. Lalu permasalahan ini datang dan mengacaukan semua. Radit menilai dirinya tidak lagi profesional dengan pekerjaan. Bahkan urusan bisnis yang lain, kerja yang ia lakukan hanya mengecek laporan saja. 

"Saya kurang produktif akhir-akhir ini," ujar Radit saat Anggi diam-diam memandang kegiatannya di depan laptop dengan sangat serius.

"Tapi kamu juga harus melihat kemampuanmu sejauh apa. Akhir-akhir ini kamu makin kelihatan tidak sehat, Mas. Masih juga suka keluyuran, sampai ke luar pulau lagi."

"Astaga, itu kan mau kejar Bapak, Sayang."

Mengungkit masalah itu, Radit menghentikan pergerakan tangannya mengetik, "Bapak dan Ibu masih tidak ada kabar, ya? Besok pernikahan Steven. Om Samuel pasti sudah pulang."

Anggi baru sadar. Dari balik jendela kamar, Anggi memperhatikan area rumah Steven. Memang ramai dengan keluarga Om Samuel yang telah berkumpul sejak kemarin. Tapi sedikit pun ia belum menemukan sosok Om Samuel di sana. Begitu juga dua orang yang harusnya ikut kembali bersamanya. 

"Kalau pun Om Samuel kembail, mereka pasti ikut, Mas. Ya kali Bapak sama Ibu benar-benar jadi penduduk sana. Sudah, jangan banyak pikiran dulu. Ingat kesehatan."

Anggi pamit untuk keluar membantu Bude. Kasihan Om Sabda yang mengajak anak-anak main seorang diri sedangkan Bude harus menyiapkan makan malam untuk nanti. Meninggalkan Radit bergelut dengan tugas pekerjaannya yang harus ia tuntaskan dalam target beberapa hari saja. Sayangnya, pikirnya lagi-lagi terpecah. Selintas bayangan Surya dan Nabila terus datang tanpa tahu kejelasan tentang nasib keduanya. Bagaimana pun Radit tetap akan memikirkannya. Jelas, ikatan batinnya dicipta kuat kepada dua orang itu. 

Dalam helaan napasnya Radit memanjatkan doa. "Setidaknya biarkan saya berbakti kepada kalian berdua."

***

Genggaman erat tangan Nabila belum kunjung ia lepaskan sejak kakinya dan Surya menapaki lantai indah hotel bintang lima yang disediakan oleh Pak Samuel. Seorang ajudannya menujukkan satu kamar yang akan ditempati keduanya. Mereka diajarkan cara menggunakan akses keluar masuk kamar itu. Dengan wajah penuh keheranan, Surya mengangguk paham meski ia sendiri tidak begitu yakin.

"Koh, apa ini tidak mahal?" Surya berbisik pelan kepada Pak Samuel yang disambut dengan tawa renyah pria sepuh itu. "Kuncinya saja pakai sandi. Cuma disentuh pula." Surya menengok sebentar Nabila di sisinya. Walaupun sama-sama tegang, Nabila masih bersikap tenang tidak mencolok. 

"Kalian tenang saja. Besok, Steven menikah di ballroom hotel ini juga. Jadi, besok kalian datang sebagai tamu saya yang spesial."

Pak Samuel mengkode ajudannya agar mendekat dan membisikkan sesuatu. Anggukan pelan menandakan jika perintah diterima mempermudah niatan Pak Samuel menyembunyikan Surya dan Nabila sementara waktu. Pak Samuel sengaja tidak memulangkan keduanya di rumah Radit tetapi membiarkan mereka untuk tinggal berdua di tempat yang sudah ia sediakan. Sekalian untuk memperbaiki hubungan yang mulai membaik.

"Nanti akan dibawakan orang butik langganan keluarga saya untuk datang kemari. Kalian akan diukur dan dicarikan pakaian untuk pesta besok. Semua urusannya beres." Jaminan Pak Samuel yang luar biasa.

Pak Samuel mempersilakan Surya dan Nabila untuk masuk. Ia kembali berjanji, kehidupan mereka di hotel telah ditanggung semua olehnya. Surya dan Nabila diberi uang cash serta dompet digital di ponsel mereka juga ada.

"Terserah kalian mau pesan makanan dari luar. Sudah paham caranya, kan?" Tanya Pak Samuel. Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk.

Sempat ia balas pesan itu sebelum kembali pamit. "Walaupun yang menikah itu Steven, tapi malam ini adalah malam kalian. Enjoy!"

Sepasang suami istri muda itu menunduk hormat sambil tidak hentinya untuk berterima kasih. Seluruh kehidupan mereka ditanggung oleh dua orang yang sangat baik. 

"Banyak orang baik yang mau menolong kita, Mas." Nabila mendesah lega. 

"Benar. Koh Giok dan Pak Radit," spontan Surya memukul mulutnya, "maksudnya Radit, anak kita, semua menjadikan kita sebagai orang yang berharga." 

Nabila dan Surya masuk ke kamar yang dipesan khusus untuk mereka. Sebuah ruangan seperti ruang tamu menyambut keduanya. Sofa nyaman, meja dengan makanan ringan dan majalah yang ditata serapi mungkin. Satu area tidur lengkap dengan kamar mandinya. Luas, bahkan menurut Surya satu area kamar itu setara dengan satu rumah utuh.

"Ini bukan kamar lagi. Tapi rumah."

"Jangan lupa, Mas. Kamar ini ada di dalam satu gedung. Bayangkan saja sebesar dan seluas apa hotel ini."

Surya menyalakan televisi di salah satu sudut. Lebar dan luas. Ukurannya hampir mirip dengan televisi yang ada di rumah Radit. "Jadi kangen di rumah. Tempat ini luas tapi sepi. Beda kalau di rumah, ada anak-anak," keluh Surya.

Semenjak hubungannya dengan Nabila kembali membaik, banyak isi hati Surya yang dengan perlahan diungkap tanpa ragu. Surya jauh lebih tenang, lembut dan perhatian kepada Nabila. "Rindu Adit," ujarnya. Hanya ponsel yang genggamnya kini jadi pelampiasan. 

"Ingat kata Koh Giok, kita tidak boleh menghubungi orang yang ada di rumah, Mas."

"Iya, saya tahu."

Bagi Nabila maupun Surya tidak bisa menampik jika rasa rindu itu pasti ada kepada putra mereka. Namun, kebersamaan ini akan berdampak pula dengan hubungan mereka. Begitu Surya sadar dengan larangan itu, ponselnya ia letakkan. Semakin lama ia memegang benda itu, Surya seperti orang asing di tempatnya berdiri.

"Saya benci benda ini. Saya seperti orang gila yang kecanduan benda aneh. Lupa sekeliling. Saya heran, kenapa banyak orang yang bisa tergila-gila dengan benda ini. Harganya mahal loh, Bil." 

Nabila hanya tersenyum. Daripada diam dan kembali memikirkan putranya yang tidak boleh untuk dihubungi lagi, dirinya memilih untuk merapikan pakaian yang dibawanya. Koper milik Anggi yang sengaja dipinjamkan itu benar-benar tidak ada yang pantas untuk dipakai dalam acara besar semacam pernikahan di gedung sebesar ini. Ia sendiri ingat, ia jarang berdandan. Satu make up pun tidak ia bawa. Ada sebenarnya, sebuah bedak tabur yang lagi-lagi adalah milik Anggi. Menantu masa depannya itu menyiapkan beberapa piranti wajib yang sekiranya dibutuhkan seorang wanita.

"Besok kita harus bagaimana, Mas. Saya belum pernah datang ke acara orang kaya."

Surya tahu istrinya takut. Baju sederhana di tangannya berbanding terbalik dengan kondisi mereka saat ini.

"Kalau ada Bu Anggi, pasti bisa bantu."

"Kamu tidak dandan juga cantik." 

"Mas bisa bilang begitu karena—"

"Karena apa?"

Tidak tahu harus menjawab apa. Nabila terisak, ia jatuahkan wajahnya ke tubuh Surya. "Saya belum pernah dandan buat Mas Surya. Saya belum pernah membahagiakan hati Mas. Saya malu," ungkapnya dalam isakan.

"Koh Giok bilang, sebentar lagi ada orang kepercayaannya yang akan bantu kita. Jadi tenang, ya. Kalau kamu merasa tidak yakin untuk datang besok, saya juga tidak akan datang." 

Dikecupnya dahi Nabila sambil berkata, "Suami adalah pakaian untuk istrinya, begitu juga sebaliknya. Kita harus saling melindungi, menjaga kehormatan masing-masing. Dan kehormatan kamu adalah segalanya." Bisik Surya begitu menenangkan.

Begitulah pasangan. Jika ada di antara mereka merasa kurang, maka lengkapilah. 

***

Adit tidak sengaja melempar mainan mobil-mobilannya ke arah lain, celakanya ada Shanum di sana. Tangis jerit anak perempuan itu pun akhirnya pecah. Ia tunjuk dahinya yang terkena hantaman mobil polisi plastik itu. 

Dengan daster separuh basah, Bude menghampiri Shanum dan menggendongnya menjauh. "Adek Adit jangan begitu. Adek Sasa nangis ini. Aduh, sakit, sayang." Keluhan Shanum diwakilkan juga oleh Bude.

"Lho, ada apa ini?" Radit baru masuk bersama Om Sabda selepas pulang dari masjid. 

"Kena timpuk mainan Adek Adit, Pak."

Shanum sudah beralih tangan kepada Radit. Baju kokonya basah di bagian pundak akibat tangisan Shanum.

"Nggak sengaja, Sayang. Maaf, ya." Radit mengajak untuk duduk di sofa. Si kembar membantu Adit yang ikut menangis mendengar Shanum menangis.

Cepat berinisiatif, Om Sabda meminta si kembar mengajak Adit bermain di ruang keluarga saja. "Pecinya dilepas dulu nanti jatuh, kotor," titah Om Sabda.

"Kakek, tapi Adek Adit nangis terus. Nggak mau diem. Ini—" Panggil Aby. 

"Kayaknya Adek Adit kangen Tante Nabila sama Om Surya, deh." Uqy menarik kesimpulan. Aby mengangguk setuju.

Sejak ditinggalkan Nabila dan Surya, emosi Adit suka tidak tentu. Sedikit saja masalah, Adit pasti akan menangis kencang sekali. Suka melempar mainan seperti mencari perhatian. Bahkan menurut Anggi, sisi kesepian seorang anak bisa terlihat dari perilakunya.

"Sini, biar sama Kakek. Kakek tahu caranya biar Adek Adit nggak nangis lagi."

Aby dan Uqy mengambil jarak. Memberi kesempatan Om Sabda mengangkat tubuh Adit dan memangkunya.

"Hey, lihat ini." Selembar tisu dibentangkan di depan wajah Adit. Dengan perlahan, Om Sabda menutupkan tisu itu ke wajah Adit sambil membuat suara-suara seperti desisan. 

Tepat saat tisu itu kembali ditarik dari wajah Adit, anak itu seketika tertawa kegirangan.

"Wah, Adek Adit suka."

"Benar, kan. Kakek bisa buat Adek Adit tertawa."

Cara yang sama dari orang yang sama. Radit mengulas senyum. Om Sabdalah yang mengasuhnya selama ini. Pria itu tahu siapa dirinya sebenarnya. Tawa bisa ia ciptakan saat tangisnya pilu memekakkan telinga. Kesepiannya tidak terasa selama sosoknya ada melindunginya.

"Saya tahu, selama ini saya kuat karena siapa. Terima kasih, Om. Apa yang sudah hilang dalam hidup saya, rasanya ikhlas. Sebab ada Om."

Om Sabda mencium kepala Adit dalam pelukannya. "Om melakukan ini semua karena Om sayang sama kamu, Dit. Itu sudah tugas Om menggantikan peran Bapak dan Ibumu." Hati Om Sabda menghangat seketika. Selama ini usahanya tidak sia-sia mendidik Radit hingga menjadi seorang pria hebat.

"Bapak dan Ibu pasti lega, menitipkan saya ke orang yang tepat."

Radit semakin ikhlas menerima keadaan. Hidupnya telah berjalan sebagaimana mestinya. Melepas semua yang harusnya ia lepaskan. Berjuang lagi untuk kehidupan keluarga kecilnya yang sangat membutuhkannya.

Di waktu yang sama, Anggi terkejut bukan main kala sebuah mobil berhenti dan masuk ke area rumah Steven.

"Bude, itu benar Om Samuel, kan?"

Bude mengecilkan api kompornya dan mendekat ke jendela dapur. Telinganya mendengar suara yang tidak asing lagi.

"Koh Samuel pulang, Bu? Berarti Mas Surya sama Mbak Nabila pulang?"

"Bisa jadi, kalau sudah ada di sini, pasti mereka juga pulang—"

"Siapa yang pulang, Sayang?"

Radit muncul bersama Shanum. Anggi dan Bude saling menatap, entah bagaimana mereka mengatakan kepulangan Pak Samuel hari ini. Mereka sedang tidak ingin merusak suasana hati Radit yang mulai terobati.

***

Jas berwarna hitam dengan aksen silver di bagian lengan dan dada sangat pas di tubuh Surya. Penata rias yang datang pagi ini bahkan meminta secara khusus Surya agar membersihkan jenggot-jenggot tipis didagunya. 

"Begitu kan lebih ganteng. Fresh gitu, kan. Smooth like baby. Iya nggak, Mbak? Suaminya ganteng juga. Dapat dari mana?" Bisik pria dengan gaya sedikit melambai memberikan komentar agak kurang nyaman di telinga Nabila.

"Iya, Kak." Nabila menjawab singkat saja. Wajahnya sibuk dipoles sana sini untuk dirias. 

Surya harus menunggu di ruang tamu bersama seorang karyawan butik yang ikut mempersiapkan busana mereka. Pemuda yang juga berperawakan sedikit kemayu itu berkata jika beruntung sekali ada pakaian yang masih tersedia dengan ukuran mereka.

"Biasanya kalau dadakan nggak bisa, Mas. Apalagi kalau suit atau dress kayak yang dipakai Mbaknya hari ini, kami biasa terima fitting dulu sampai desainnya di studio," ceritanya.

"Terus ini kenapa bisa ada, pas juga buat kami." Surya mengambil majalah berbahasa asing yang tidak ia pahami. Niatannya hanya untuk mencari tahu apakah busana yang ia pakai ini memang sudah lazim untuk orang-orang di masa ini.

"Nah itu dia, waktu anak buah Pak Samuel hubungi butik, kita langsung cari beberapa yang memang sudah siap pakai. Ini harusnya untuk display, Mas. Tidak untuk dijual. Desainnya juga baru banget. Tapi karena tahu yang minta adalah seorang Bapak Samuel Hartiono. Apalagi disebut untuk orang spesial, kami lepas dua desain ini."

Seketika Surya merasa tersanjung ia diperlakukan sebagai orang yang tidak sembarangan. Memakai setelan jas yang tidak murah harganya, selama ini hanya mimpi bagi Surya.

"Tinggal kita tunggu Mbaknya selesai didandani. Cuttingannya di badan kalian berdua pas banget."

Ya, begitu Nabila selesai, Surya merasa tidak mengenali sang istri. Yang ia lihat dengan mata kepalanya kini serupa bidadari.

Merah carmine dengan aksen bordir bunga di beberapa bagian. Area dada tertutup hingga bawah leher dan panjang dress yang jatuh indah hingga betis Nabila.

"Perfect!" Ujar sang perias sukses mempercantik diri Nabila.

"Kebangetan, bisa-bisa Mbaknya lebih cantik dari pengantinnya hari ini."

Pujian demi pujian yang diberikan Nabila, tidak sebanding dengan pujian yang diberikan Surya. Pria itu hanya bisa terdiam. Tersenyum bahkan berurai air mata haru. 

"I-ini istri saya."

"Aneh ya, Mas?"

"Sama sekali tidak. Kamu sempurna, Nabila."

Mereka kembali dipersiapkan pada bagian alas kaki. Sandal hotel tipis mereka disingkirkan untuk diganti dengan sepatu yang indah.

Sudah lama Nabila tidak memakai sepatu dengan hak yang cukup tinggi dan runcing. Meski hanya lima sentimeter, lumayan membuat takut ia melangkah.

"Eh, pelan-pelan, Mbak!" Seru mereka saat Nabila hampir saja jatuh.

"Pegang terus lengan saya." Surya meraih tangan Nabila dan membimbingnya untuk kembali bangkit.

"Saya akan jaga kamu ... jangan sampai jatuh lagi."

***

Tangan kecil Shanum menepuk-nepuk pipi Radit. Matanya terpejam menahan sesuatu yang aneh di antara matanya. Rasa berat dengan selingan pusing di sisi kanan dan kiri pelipisnya.

"Nggak apa-apa, Sayang." Radit memberikan pemahaman sederhana pada Shanum.

"Yakin ikut? Sehat?" Om Sabda turun dari lantai dua sudah rapi dengan setelan kemeja batik dan celana hitamnya.

"Adek di rumah, ya. Nanti dibeliin jajan sama kakek." Om Sabda mengambil alih Shanum dari pangkuan Radit. 

Kacamata yang Radit pakai dilepas untuk memudahkannya memijat sekitar mata. "Sudah mendingan, kok. Minum obat tadi," ungkapnya.

"Kamu minus berapa sih, Dit?"

"Terakhir observasi delapan koma tujuh lima."

"Observasi untuk lasik?" 

Radit mengangguk. "Rencananya minggu depan observasi lagi. Buat memastikan. Lanjut operasi atau tidak."

"Menurut Om, kamu periksa lagi, deh. Periksa kesehatan."

Shanum melambaikan tangan ke sang Mama saat Anggi telah siap dengan dress berwarna abu-abu dan jas Radit.

"Kecapekan saja, Om. Lasiknya juga rencananya mau ambil yang minim risiko."

Anggi meletakkan tas tangannya untuk membantu Radit memakai jasnya. "Sini, Mas. Biar nggak kusut," bantunya.

"Dasar, sama kayak ibunya. Suka tidak peka sama badan sendiri." Gumam Om Sabda mengatai Radit.

Selesai, Radit mengenakan jasnya dengan rapi. Anggi menepuk dada suaminya meluapkan rasa bangga. "Ganteng banget suami orang," godanya.

"Istriku bukan orang, tapi bidadari." 

Wajah Anggi seketika bersemu merah. Niatnya dia yang ingin menggoda sang suami, malah berbalik ia yang dibuat meleleh dengan rayuan yang sama.

"Aduh, Dek. Jadi obat nyamuk kita di sini."

Mereka tertawa bersama. Bude pun ikut hal yang sama. Keponakan Bude yang datang segera mengajak Shanum untuk bermain di ruang tengah. Mengalihkan perhatiannya agar tidak menangisi para orang dewasa itu berangkat.

"Ayo, Pak Sugeng. Langsung, takut anak-anak sadar nggak diajak." 

Perintah Radit dilaksanakan oleh Pak Sugeng secepat yang ia mampu. Mobil siap di area car port. Gerbang juga sudah dibuka. Pak Sugeng membantu membukakan pintu depan untuk Om Sabda, sedangkan Radit membantu Anggi naik lebih dulu di bangku tengah. 

Lihat selengkapnya