Om Sabda pulang dengan mobil travel yang mengantarnya. Kebetulan Radit baru saja sampai dari sekolah. Di situ Om Sabda pamit. Ia akan kembali ke Malang saat itu juga.
"Tolong ditemani dulu drivernya ya, Pak Sugeng. Bude bisa buatkan minuman sambil tunggu Om Sabda beres-beres."
Titah Radit langsung dilaksanakan oleh keduanya.
"Saya bantu siap-siap, Om." Radit mengantar Om Sabda menuju kamarnya di lantai dua.
Hanya tinggal memasukkan beberapa pakaian saja. Peralatan mandi hanya sikat dan sabun mandi. Sengaja ditinggal agar memudahkan saat ia kembali berkunjung saat acara empat puluh harinya Reza.
"Sekali-kali berkunjunglah ke Malang. Tengok makam orangtuamu," pesannya. Satu kemeja yang digunakan ke acara pernikahan Steven masih kusut, tapi sudah dicuci.
"Nanti Om, kalau di rumah sudah kondusif. Radit juga sudah minta pengurus makam buat jaga kebersihan makam Bapak sama Ibu, kok."
Setiap bulannya, Radit mengirim sejumlah uang untuk membayar petugas makam membersihkan area pemakaman orangtuanya. Dan jika dibutuhkan, Radit sering meminta foto kondisi di sana. Jika dibutuhkan perbaikan, Radit akan langsung turun tangan.
"Uang tidak bisa menggantikan kehadiran raga yang utuh."
Om Sabda mengambil dompet untuk memastikan ada uang tunai yang ia bawa, "Sekalipun yang didatangi raganya tak lagi utuh."
Radit tahu, salahnya juga lama tidak berziarah. Meski demikian, doanya tidak pernah berkurang ditujukan untuk orangtuanya.
"Harusnya di Surabaya saja dulu mereka dimakamkan," ujar Radit, "domisili Bapak dan Ibu kan di Surabaya."
"Dulu kita tertahan, Dit. Di rumah sakit daerah Mojokerto."
Om Sabda sedikit bercerita sambil terus berbenah barangnya. "Kecelakaan itu di jalur perbatasan, sedang ada perbaikan jalan di sana. Om tidak tahu, karena Om pingsan lumayan lama. Kamu juga dilakukan tindakan cukup serius. Polisi dan warga bingung mau menghubungi siapa," Om Sabda selesai. Radit membantu membawakan tas itu untuk keluar kamar.
"Kenapa, Om?"
"Ndak tahu kenapa, identitas seperti KTP milik Bapak dan Ibumu tidak ada. Alhasil, mereka bermodal kartu santri milik Om yang masih memakai alamat Malang."
Radit tertegun, mau bagaimana lagi. Saat itu masih serba keterbatasan. Akses komunikasi juga tidak semudah saat ini. Dalam hati Radit tetap bersyukur, saat insiden itu kedua orangtuanya masih diperlakukan dengan layak.
Di luar, seorang driver dari pihak agen travel diajak untuk keluar sejenak. "Ada minuman dan camilan, Mas. Silakan," ajak Anggi dengan Shanum bergelayut manja padanya tidak mau turun. "Mbaknya yang di dalam juga nggak apa, Mbak. Mari turun dulu. Takutnya lama yang beres-beres di dalam."
Kaca mobil bergerak turun perlahan. Sosok wanita muda dengan rambut hitam berombak tersenyum manis kepada Anggi. "Terima kasih, Bu. Saya tunggu di sini saja," sapanya.
Driver yang menyempatkan turun, menerima tawaran camilan dari Anggi dan Bude. Bersama Pak Sugeng, pria muda itu mengaku belum minum kopi sejak pagi. "Paling enak ya minum kopi. Senjata buat perjalanan," ujarnya.
"Biasanya ini akan jemput penumpang lain yang pesan travel yang sama?" tanya Anggi.
"Iya, bu. Tapi hari ini hanya Bapak Sabda sama Mbak yang di dalam. Kebetulan tadi di travelnya bareng. Tujuannya juga sama. Ya, sudah digabung saja."
"Oh, berarti Mbaknya itu juga penumpang?"
"Begitulah, Bu. Katanya dari Jakarta. Di Surabaya ini mau ke rumah Papanya. Terus lanjut ke Malang."
Tidak lama kemudian, Om Sabda dan Radit keluar. Driver itu pun membantu membawakan tas Om Sabda agar dibawa masuk ke mobil.
"Pamit dulu ya, Ngi. Pas acara tahlil Om balik lagi."
Anggi menyalami dengan hormat lantas berkata, "Kabar-kabar saja, Om. Nanti biar dijemput kalau tidak ada yang antar. Iya kan, Mas?" ujarnya meminta persetujuan Radit.
"Benar, Om. Nanti biar Pak Sugeng jemput ke pondok. Pokoknya jangan bawa mobil sendiri."
"Iya, iya. Kamu juga, jaga kesehatan. Kalau sakit juga, siapa yang jaga anak istrimu. Om mohon periksa, kontrol ke dokter. Cek lab total," Om Sabda cukup lama mengusap pundak Radit, "Om sayang sama kamu. Om ndak mau terjadi apa-apa sama kamu, Radit."
Radit memelum tubuh pria paruh baya yang sudah sangat berjasa merawatnya sejak bayi. Om Sabda bukan lagi sekadar paman, melainkan lebih dari orangtua.
"Terima kasih, Om." Tidak ada ungkp lain selain terima kasih.
Pintu bangku depan di bukan. Om Sabda dipersilakan masuk setelah barangnya ikut dinaikkan. Beberapa camilan juga ikut dibawakan sebagai bekal perjalanan.
"Duduk di depan?" Tanya Radit masih memantau.
"Ada penumpang lain, Mas. Perempuan."
"Oh, pantas kok seperti lihat ada orang lain di mobil itu." Radit terdiam sejenak, dahinya mengerut berpikir, "tumben Om Sabda mau, ya?"
Mobil pun bergerak maju. Meninggalkan rumah hingga menghilang di jalan.
"Ada yang mau jalan-jalan ke Malang?"
Uqy dari dalam rumah muncul dengan susu kotak rasa ketan hitam. Wajahnya setertarik itu tiba sang Papa menawarkan liburan. Suatu hal yang jarang mereka dapatkan.
"Ke rumah Kakek?" tanya Uqy.
"Main di pesantren?" Aby ikut penasaran.
Radit mengapit si kembar di kanan dan kirinya. "Memangnya ke mana lagi kalau bukan ke sana?" Radit menggoda pipi Uqy yang mengembung dingin.
Sorak keduanya begitu bahagia. Akhirnya mereka akan ke Malang. Meski baru wacana.
"Awas ya, Mas, kalau anak-anak sampai tagih terus. Tak cubit kamu!" Anggi sebal. Suaminya itu suka sekali menjanjikan sesuatu yang kadang tidak ditepati demi membahagiakan anak-anak di awal saja.
Anak-anak dibawa masuk oleh Nabila dan Surya. Sudah mau Maghrib, Radit juga ingin berangkat ke masjid sebentar lagi.
"Mau ziarah ke makam Bapak sama Ibu. Kamu juga sudah lama kan, nggak ziarah ke makam Papamu? Sekalian kita mampir ke Batu, nanti kita bersihkan makam Papa."
Anggi tidak mau berkomentar. Sudah lama ia melupakan Papanya. Kalau tidak salah ingat, Anggi berziarah ke makam Papanya saat menghadiri peresmian salah satu usaha percetakan Radit di Malang lima tahun yang lalu.
"Terserah kamu, Mas," lalu Anggi pergi. Tidak ingin berlama-lama membahas hal tersebut.
Tidak lama kemudian, suara klakson dari sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Seorang pria keluar sambil tersenyum.
"Itu, kan—"
"Minta tolong dibukakan gerbangnya, Pak Sugeng," titah Anggi.
Mobil Damar masuk dengan pengarahan Pak Sugeng. Kaca pintu mobilnya turun perlahan memperlihatkan ia tersenyum menyapa sang tuan rumah. Anggi mengangguk di tempatnya sementara Radit hanya terpaku di mulut pintu.
"Kamu ajak dia datang ke sini?" Tanya Radit. Ia mengira setelah pertemuan di hotel mereka ada niatan untuk bertemu kembali.
Anggi mengaku tidak. "Aku juga nggak tahu kenapa Damar ke sini." Anggi merubah ekspresi wajahnya agar bersahaja. Satu sikutan mengenai lengan Radit untuk memintanya mengikuti hal yang sama.
"Selamat sore, maaf baru bisa berkunjung sekarang. Sudah hampir gelap juga. Baru bisa free jam segini." Damar menyalami Anggi dan Radit bergantian.
Sebuah kantung besar diserahkan Damar untuk Anggi. Ada makanan seperti kue dan beberapa toples camilan keripik dan kue kering juga ada.
"Sekali lagi saya turut berduka cita atas meninggalnya putra kalian. Semoga amalnya selama hidupnya bisa diterima oleh yang maha kuasa."
Sepasang suami istri itu pun bersama mengamini doa Damar.
"Papa, aku pakai peci ini ya." Aby sudah memakai sarung anak dengan gambar bis animasi kesukaannya.
Radit membantu membenahi peci Aby tiba Uqy ikut menunjukkan peci baru yang dibelikan Om Sabda.
"Sini Om bantu pakaikan." Damar menawarkan bantuan kepada Uqy untuk memakaikan pecinya. "Ganteng banget, sih," puji Damar.
"Terima kasih, Om," sebut Uqy, "Om juga ganteng. Mau ikut ke masjid?"
Kebiasaan Uqy ceplas-ceplos terkadang menyusahkan juga. Anggi menahan Uqy untuk tidak terlalu jauh mengajak seseorang. Apalagi soal ibadah.
"Om Damar kan baru datang, kak," ujar Anggi.
"Tidak apa, salah saya juga datang bertamu pas waktu Maghrib. Mau ke masjid, ya?" Tanya Damar.
"Saya biasa ajak anak-anak salat di masjid." Radit mendengar Surya sudah bersiap dengan sarung yang dipakainya. Baru, milik Radit yang lain belum sempat dibuka. Hadiah dari doa bersama tetangga blok sebelah.
"Kalau tidak berkenan, saya tinggal dulu ke masjid. Tapi, kalau bisa silakan duduk di sini. Kalau di dalam saya harap kondisi pintu dibuka, ya. Karena tidak ada laki-laki di rumah."
Radit akan meninggalkan istrinya di rumah dengan pria yang bukan pasangannya, "Misal mau ikut ke masjid ...," Damar mengecek jam tangannya.
"Dengan senang hati, Pak Radit."
"Kalau begitu, saya izin bersiap-siap sebentar."
Radit masuk ditemani Anggi. Surya meminta Damar untuk duduk di ruang tamu sembari menunggu. "Teman Pak Radit?" tanyanya.
"Bapak yang waktu itu di hotel, kan?" Nabila masih ingat.
"Dulu teman satu kampusnya Bu Anggi, Mas."
"Oh, mangkanya akrab," kata Surya langsung disenggol Nabila. Surya harus menghormati tamunya siapa pun orangnya.
Di kamar, Anggi membantu mengambilkan peci dan baju koko lengan pendek untuk suaminya.
"Kamu ada masalah dengan Damar?" Tanya Anggi. "Aku ngerasa kamu kayak nggak nyaman setiap ada dia, Mas."
"Nggak nyaman gimana, sih?"
Radit menerima baju koko pilihan istrinya untuk dikenakan segera. "Saya nggak marah-marah sama dia." Radit mengusap kepala Anggi lantas mencium dahinya.
"Tadi?"
"Saya hanya ingin menjaga kehormatan kamu." Satu sajadah berwarna biru dibawanya keluar. Radit akan mengambil air wudu nanti di masjid saja.
"Selama ini kamu selalu menjaga aku, Mas. Sampai kapan pun."
"Karena saya suami kamu," jawab Radit singkat.
Anggi mencium tangan Radit sambil berkata, "selamanya akan jadi suamiku."
"Aamiin. Insha Allah."
Entah mengapa, Radit takut mengamininya.
***
"Orang itu ngaku temannya Bu Anggi. Tapi perasaan saya bilang—"
"Dia mantan kekasih Anggi, Pak." Radit memasang kembali kacamatanya selepas mengambil air wudu. Wajah Radit semakin terlihat segar dari tetesan air yang berjatuhan di wajahnya.
"Waduh. Benar, kan. Bisa begitu, gelagatnya aneh." Surya memerintah si kembar agar tidak lama-lama bermain air.
"Sebentar, hubungan mereka sudah selesai, kan? Sudah benar-benar selesai sebelum kalian menikah?" Ketakutan Surya berdasar. Ia takut jika Radit mengalami nasib yang sama sepertinya dan Nabila.
"Sudah lama mereka putus juga. Mantan pacar terakhirnya Anggi ya ... saya. Mereka pacaran saat kuliah." Cerita Radit sebatas yang ia tahu. Muncul rasa bangga tiba ia sebut sebagai kekasih terakhir Anggi.
"Nah, Pak Radit pacaran sama Bu Anggi sejak kapan?" Surya melirik lagi ke arah Damar di salah satu sudut area wudu.
"Waktu kami sama-sama ngajar di salah satu SMA. Cinta lokasi. Terus saya ajak nikah, deh." Radit meringis kembali menunggu azan selesai. Ia tetap berdiri sembari menunggu salat sunah yang akan ia laksanakan terlebih dulu.
Surya mengode bahwa Damar sudah kembali. Si kembar meminta agar Damar berdiri di ujung bersama Pak Sugeng mengapit mereka. Radit menyenggol Uqy supaya tenang.
"Nanti cerita lagi, ya. Saya penasaran," bisik Surya.
"Lho, kenapa?" Radit berbalas bisik dengan tenang. Jaraknya dengan Damar cukup jauh. Terpisah di antara Aby dan Uqy.
"Saya penasaran sama mantu saya di rumah. Apalagi pria itu, saya berharap kamu memang orang yang tepat buat istrimu. Bukan dia."
Jodoh yang tepat akan diterima oleh mereka yang baik. Batin Surya, putranya adalah orang baik. Pasti Tuhan pun menakdirkannya mendapat jodoh yang baik. Seperti Anggi.
"Kalau seseorang sudah sampai bercerai, artinya masalah dari hubungan mereka berat. Kasihan."
"Doakan saja, semoga jodohnya dunia akhirat," pinta Radit. Beberapa saat kemudian, ia pun memulai ibadahnya dengan tenang.
Sementara itu di rumah. Anggi menyusui Shanum dengan risau. Mumpung dirinya sedang datang bulan. Acara menyusui Shanum kali ini lebih tidak terburu-buru. Memang begitulah, setiap Magrib Anggi akan menemani anak-anak. Terutama Shanum sendiri yang masih cukup kecil.
Saat tiba waktu Magrib, sebisa mungkin harus ada seseorang yang berada di dekat Shanum. Begitu juga Adit. Anak-anak itu jangan sampai menangis atau terusik.
"Bu, Adek Sasa kalau sudah selesai nyusunya, biar ikut Bude dulu. Itu makanan yang buat Bapak, Bude nggak ngerti. Beneran."
Paket yang baru sampai tadi siang adalah bubuk akar teratai. Anggi membelinya dari salah satu toko online yang direkomendasikan oleh para ibu wali murid si kembar.
"Oh, iya. Baru mau coba nanti. Katanya agak susah buatnya. Ditinggal saja, Bude."
Bude sendiri tidak paham tentang makanan itu. Katanya memang baik untuk kesehatan. Saat tahu tentang makanan itu, Anggi segera mencari tahu dan membelinya untuk sang suami.
Shanum masih menyusu di balik bolero bergambar kucing yang menutup area dada Anggi. Dari arah kamar tamu, Nabila keluar setelah menyelesaikan salat.
"Belum selesai nyusunya, Bu?" Tanya Nabila. Adit sendiri tertidur setelah minum susu dari botolnya.
Tangan Anggi menunjuk salah satu akses membuka kain itu untuk melihat bagaimana Shanum di dalam sana. Si bungsu rupanya terpejam dengan mulut yang masih sibuk menyusu.
"Sudah kebiasaan jam tidurnya jadi Magrib begini sejak beberapa hari. Sambil nyusu pula, Bu." Cerita Anggi.
"Waktu saya tinggal, Adit bagaimana? Ini kok sudah pintar pakai botol kalau mau tidur."
Selama Nabila pergi, Anggi tidak mungkin menyusui Adit seperti Shanum. ASI milik Nabila dimasukkan ke botol untuk diminum oleh Adit. "Awalnya susah. Tapi ya karena terpaksa, akhirnya Adit mau juga, Bu. Kan, ada faktor saya juga." Anggi mengatakannya sambil malu-malu. "Nalurinya dari kecil sudah nyaman sama saya ternyata." Lantas ia tertawa.
"Terima kasih, Bu Anggi. Saya lega, Adit waktu dewasa bisa dapat jodoh yang baik." Nabila menggenggam tangan kanan Anggi ingin menunjukkan rasa terima kasihnya.
Anggi menghela napas dalam sambil bersandar pada sofa panjang, "Bu, saya juga bersyukur bisa mendapatkan Mas Radit sebagai suami saya. Mas Radit sangat menghargai dan menjaga saya sebagai perempuan, istri, dan ibu dari anak-anaknya," tuturnya.
Shanum menggelat kecil. Merubah posisi tangannya mencari pinggran baju yang dipakai Anggi.
"Selalu saya berdoa kalau sampai mati saya ingin ditakdirkan sebagai istri Mas Radit," sebutnya. Anggi mencium tangan Nabila bagai wanita muda itu benar-benar sosok ibu mertua bagi Anggi.
"Aamiin. Titip anak saya, ya. Diingatkan kalau dia salah."
Anggi bersyukur jika dari banyak pihak mendukungnya dalam merajut kehidupan berumah tangga bersama Radit. Selama ini ia tahu, dirinya belum sepenuhnya mejadi sosok istri yang baik. Namun, ia berharap apapun bentuk usahanya selama ini bisa membekas di hati sang suami.
"Assalamualaikum, Mama. Aku dapat ikan cupang dari Om Damar."
Uqy menunjuk satu kantung plastik berisi ikan berwarna merah.
"Punya Aby jatuh. Nangis." Uqy menunjuk Aby dengan mata sembabnya.
"Terus itu ikan siapa yang dibawa?" Anggi masih memeluk tubuh Shanum. Menyusunya belum selesai.
Radit masuk bersama Surya, Pak Sugeng, dan Damar. Anggi mengulurkan tangannya ingin mencium punggung tangan Radit segera.
"Dibeliin lagi sama Om Damar, Ma. Papa lupa nggak bawa uang tadi." Keluh Radit pada Anggi.
"Aduh, sudah bilang terima kasih belum sama Om Damar?" Pinta Anggi. Radit mengintip sebentar di balik bolero yang dipakai Anggi. Menggoda Shanum agar mau keluar dan menyudahi menyusunya.
"Malu, Dek, ada Om Damar, tuh," ajak Radit. Kepala Shanum keluar. Tersenyum sumringah mengetahui Papanya telah kembali.
"Salim dulu sama Om," ajak Damar. Shanum mengarahkan tangannya meminta tangan Damar untuk dicium punggung tangannnya.
"Bulu matanya lentik sekali. Bibirnya mungil, cantik. Kayak Mamanya."
Mungkin di telinga orang lain terdengar biasa, hanya saja Radit yang mendengar pujian untuk putrinya itu terasa panas di badannya.
"Saya punya dua Anggi di rumah. Sama-sama cantik. Ya kan, Dek?" Sebut Radit. Ia kembalikan Shanum untuk bermain di area keluarga. Nabila yang menggandengnya berjalan. Surya pun ikut serta.
"Pak Radit cemburu kayaknya," bisik Surya.
"Hus, sudah. Jangan ikut-ikut."
Surya memilih ingin berganti pakaian.
Takut terlalu malam, Pak Sugeng meminta izin untuk pulang. "Besok pagi seperti biasa ya, Pak." Pesan Radit.
"Baik, Pak. Saya pamit dulu."
Tinggallah Radit, Anggi, dan Damar di ruang tamu. Sama-sama berdiri tapi dengan rasa canggung masing-masing.
"Sekalian makan malam bersama saja." Ajak Radit. Ia menyebutkan Bude dan Anggi bersama Nabila sudah memasak beberapa makanan yang cukup jika ada tamu datang. Hari ini mereka sedang merayakan kepulangan Surya dan Nabila ke rumah dengan hubungan yang lebih baik.