Pintu kamar ditutup perlahan oleh Anggi. Ia tidak mau orang lain bertanya sesuatu tentang apa yang terjadi pada Radit. Kondisinya begitu mengejutkan banyak orang. "Astagfirullah!" Bisik Anggi dalam isaknya. Ketakutannya selama ini perlahan jadi nyata. Ia mungkin akan terus dibayangi hal terburuk yang bisa saja terjadi lebih cepat. Anggi ingin jujur pada Tuhan, kalau pun apa yang dokter katakan terbukti benar, satu hal yang Anggi rasa.
Ia belum siap.
"Mama, Om Damar bawain mainan. Aby juga dapat, Adek Sa, sama Adek Adit juga. Sini lihat, Ma. Bagus banget."
Ditatanya perlahan hati Anggi. Belum saatnya ia bersedih seperti ini. Ia menguatkan bahwa belum ada kepastian secara medis yang membuktikan jika Radit benar-benar sakit parah. Dirinya pula tidak mau mengharapkan itu terjadi. Rasanya, ia ingin kembali memundurkan waktu. Membiarkan tugas menjaga anak-anak tidak ia serahkan pada Radit. Biarkan suaminya istirahat dan ia yang menemani anak-anak serta Bude yang akan keluar. Semua itu tidak akan terjadi.
Namun mau bagaimana lagi, ia tidak bisa memutar waktu barang sedetik.
"Selamat siang, Bu Anggi."
"Nggak perlu formal begitu." Anggi menyalami Damar lalu mempersilakan duduk. Anak-anak menunjukkan mainan baru mereka sebelum berlari ke area bermain kembali bersama Surya dan Nabila.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Damar menyadari ada yang aneh dengan Anggi. Tangannya bergerak hendak mengusap pipinya namun segera urung.
"Nggak papa, kok. Terima kasih sudah kasih hadiah ke anak-anak. Mereka seneng banget."
Damar mengaku hal yang sama. Ia senang keluar masuk toko mainan. Sejak dulu hobbynya mengoleksi lego. Rutin ia akan mendatangi toko mainan demi berburu seri yang ia ingin koleksi. "Saya lumayan ada ilmu soal mainan. Kebetulan tadi cari lego edisi yang terbaru. Ternyata belum siap di toko langganan saya itu. Daripada nggak beli apa-apa, saya belikan mainan buat anak-anak kamu. Sekalian mampir." Ceritanya.
Damar memeriksa jam tangannya untuk memastikan masih ada waktu luang bertamu sebelum kembali ke hotel.
"Oh, ya. Pak Radit di mana?"
"Oh itu," batin Anggi yang sempat mulai tenang kembali terusik. Bayangannya tertuju pada sang suami dan keterbukaannya tadi. "Mas Radit tidak enak badan. Tadi sempat pingsan," ungkapnya dengan suara bergetar.
"Terus, kondisinya sekarang?" Damar ikut merasa khawatir. Pandangannya sesekali beralih dari Anggi ke lantai atas lalu kembali ke Anggi. Wanita itu dulu selalu ada untuknya, mengkhawatirkannya, kini memiliki sosok lain yang jadi prioritas utamanya. Tidak lain dan tidak bukan adalah Radit, bukan dirinya lagi.
Anggi menunjuk ke arah kamar utama. Benar batin Damar. Radit memang masih ada di rumah itu. "Istirahat. Mungkin kalau sudah mulai tenang saja saya bawa ke rumah sakit," jelasnya. Tidak lama kemudian, Bude datang dengan satu gelas minuman dingin dan sepiring kue. Bude sempat ditahan lengannya oleh Anggi. Dibisiki sesuatu sebelum kembali diperbolehkan kembali ke belakang.
Anggi mengucapkan terima kasih Bude mau mengerti dirinya. "Kalau lagi ribet, bisa minta bantuan Nabila. Anak-anak sedang main. Bisa sedikit ditinggal," imbuh Anggi. Sebuah permintaan membuatkan sup tahu sutra untuk Radit. Makanan ternyaman sang kepala keluarga setiap tidak enak badan. Semoga dengan makanan itu tubuhnya lebih cepat pulih. Meski dibuat oleh Bude, besar harapan Anggi sendiri yang membuatnya. Sayang sekali, ada Damar yang bertamu. Mungkin ia akan menemani sampai tamunya pamit. Tidak enak kalau dibiarkan sendiri. Apalagi Radit sedang tidak ingin diganggu.
Mendengarnya sama-samar, Damar tahu Anggi memberikan instruksi masakan yang dikhususkan untuk diberikan kepada Radit. "Em, kamu mau masak?" Tanya Damar. Dari kejauhan, suara teriakan si kembar bersorak bahagia memainkan mainan barunya. Ada juga Shanum bersama Adit ikut bermain boneka dan mobil-mobilan pemberian Damar juga.
"Bisa Bude yang buat. Nggak masalah, kok."
"Tapi itu buat suamimu, kan?"
Anggi terdiam. Benar memang. Dialah yang biasa membuat sup itu jika suaminya sakit. Bukan orang lain. Sebab pasalnya Radit sendiri tahu siapa yang membuat makanan itu dari rasa yang ia dapatkan. Radit hapal bagaimana masakan istrinya.
"Dulu, setiap saya sakit, kamu selalu buatkan makanan. Bahkan sampai diantar ke tempat kos." Damar mengingat kenangan lamanya. Dirinya tahu Anggi akan melakukan hal yang sama. Apalagi itu untuk suaminya sendiri.
"Terus kamu bagaimana kalau saya tinggal sebentar buat masak makanan Mas Radit?"
Damar menunjuk kursi tinggi di meja island dapur. "Kalau tidak keberatan."
Uqy berteriak meminta tolong Bude membuatkan susu coklat hangat. Uqy tidak mau tahu. Anak itu memaksa untuk Bude yang membuatkan.
"Ya, sudah. Bude buatkan susu buat Uqy saja. Biar saya yang masak."
Bude melihat sekilas Uqy di ruang tamu. Gerutu dari salah satu kembar tampan itu menginginkan susu coklat hangatnya segera ada di hadapannya. Satu persatu bahan yang diingat Bude masih ada di dapur menjadi saran darinya untuk menambah isian sup yang bisa Anggi buat nanti. Bakso ikan dan beberapa olahan beku yang baru saja dibeli Anggi bisa dipadupadankan nanti.
"Terima kasih, Bude."
Damar ikut mengucapkan hal yang sama dengan Anggi. Kini tinggallah Anggi dan Damar di sana. Anggi meminta izin untuk menuju dapur. Dipersilakannya Damar untuk ikut. Ada beberapa kursi di sana bisa ia gunakan. Damar memilih duduk di tempat yang biasa Radit gunakan mengamati istrinya saat memasak. Sudut yang begitu dekat apabila Anggi sedang menyiapkan bahan-bahan. Serta sudut yang pas untuk mengamati raut wajah serius namun tenang saat Anggi memasak di depan kompornya.
"Kalau tahu begitu, saya bawakan makanan resto hotel. Hari ini mereka juga membuat sup jamur dan kimlo untuk pilihan makan malam tamu."
Anggi hanya tersenyum. Fokusnya tetap pada bahan-bahan yang digunakan untuk isi supnya. "Mas Radit suka yang rasa rumahan. Katanya comfort foodnya ya, sup ini," kata Anggi.
"Apalagi buatan kamu. Saya juga senang. Dulu." Damar tidak menyadari tentang apa yang diucapkannya itu. Sampai tangan Anggi yang sibuk memotong terhenti tiba-tiba. Meski tidak melihat wajah Damar dengan jelas, sikapnya tadi tentu menarik perhatian Damar yang mendominasi percakapan mereka.
Pandangan Anggi tidak kemana-mana. Semua bakso-baksoan lanjut ia potong, jamur dan tahu juga ia siapkan. Wadah-wadah kecil dengan komposisi bumbu dan potongan daun bawang sebagai aromatiknya tinggal beberapa bagian lagi. Anggi hanya tinggal mengolahnya saja dalam beberapa menit lagi.
"Maaf." Damar mengaku ia kelewatan.
"Untuk?" Tanya Anggi. "Memang benar kok kalau Mas Radit juga suka kalau saya yang masakkan. Seperti kamu dulu." Ungkapnya tidak masalah.
Kecanggungan yang tidak bisa dihindari antara mereka. Damar mengendalikan dirinya untuk tidak mengatakan satu kata pun saat Anggi masih mempersiapkan bahan-bahan masakannya. Sampai tiba Anggi mengambil satu panci dan mengisinya dengan air secukupnya. Tidak banyak, setidaknya itu cukup untuk satu porsi sekali makan. Kalau pun lebih, bisa dijadikan untuk makan siang Shanum atau Adit.
Di situ Anggi tidak banyak bicara. Mendidihkan airnya dan memasukkan beberapa bahan yang memang lebih dulu untuk dimatangkan.
"Sekalian makan siang di sini, ya? Tadi Bude sudah masak—"
"Maafkan saya, Anggi." Damar meraih minuman dingin yang kembali Anggi berikan dari lemari pendingin. Sebuah jus kotak bergambar apel mungkin bisa jadi teman menunggu sembari Anggi memasak. Saat menyerahkannya Anggi menyunggingkan senyum, berharap Damar tidak keberatan dengan suguhannya.
Anggi berdehem pelan. Tenggorokkannnya terasa tercekat saat ingin berbicara. "Kita tidak ada masalah, kan? Kalau mungkin ada, saya yang harusnya minta maaf. Kamu bertamu malah keadaan rumah seperti ini."
Sebagai tuan rumah, tidak selayaknya tamu ia biarkan untuk mengerjakan yang lain.
"Kita belum selesai, kan?"
Tak! Kompor yang membantu mematangkan sup Anggi sudah dimatikkan. Panci yang tidak terlalu besar dipindahkan ke atas meja dengan alas penahan panas.
"Kamu yang belum memutuskan kita selesai, kan?" Damar melanjutkan.
"Saya?" Anggi menuang sebagian supnya ke dalam mangkuk. Mengambil nampan dan satu sendok untuk dibawa ke lantai atas. "Maaf, bisa ambilkan gelas di sana?"
Damar menyerahkan satu gelas kaca kosong pada Anggi membiarkan wanita itu mengisi sendiri air yang dibutuhkan.
"Anggi—"
"Saya rasa, hubungan kita memang sudah selesai sejak saat itu." Gelas telah terisi air. Siap untuk membawanya ke kamar utama. "Meskipun itu tidak muncul juga dari mulut saya, keputusan kamu waktu itu sudah menjelaskan semuanya. Kita sudah selesai."
Pamit, Anggi meminta izin untuk ke kamar mengantarkan sup untuk suaminya. "Ada orang yang sangat membutuhkan saya sekarang. Saya juga sangat membutuhkan dia saat ini. Bukan orang lain. Terima kasih, ya." Anggi menilik sekilas anak-anak yang sibuk bermain.
"Anak-anak senang dengan mainnanya. Terima kasih."
"Saya tidak bermaksud mengusik kamu dan suamimu. Saya kemari karena—" Damar mendesah pasrah, ia tidak bisa lagi membohongi dirinya lagi. "Saya senang bisa bertemu dengan kamu lagi saat di hotel waktu itu. Lalu melihat kamu dengan Pak Radit begitu bahagia, saya tidak bisa bohongi perasaan saya. Maaf."
Senyuman Anggi begitu tulus. Bukan saatnya ia marah. Hari ini ada seseorang yang berusaha mendekatinya di saat rumah tangganya sedang diuji. "Saya paham. Tapi saat ini, saya mohon jangan ganggu saya. Saya mau fokus sama Mas Radit. Pertemuan kita saat ini hanya untuk menjalin hubungan baik saja."
"Tapi saya merasa Tuhan punya alasan lain kita dipertemukan lagi."
Anggi menghentikan langkahnya di depan anak tangga pertama. "Saya hanya mau jujur, kalau saya masih mengharapkan kamu."
Sama sekali tidak memedulikannya. Anggi berlalu menuju lantai dua dan menghilang di dalam kamar utama. Meninggalkan Damar seorang diri ... di dapur dengan jus kotak yang tidak sempat ia minum.
Di sudut tak jauh, Nabila tidak sengaja melihat Damar menatap kepergian Anggi dengan pandangan yanb berbeda.
"Pak Damar sedang apa?" Nabila tahu apa percakapan sepasang mantan kekasih itu beberapa menit lalu, namun ia memilih untuk tetap diam tidak ikut membahasnya.
Damar menunduk sopan pada Nabila. "Saya pamit dulu, masih ada urusan. Bu Anggi juga mau mengurus Pak Radit yang sakit. Saya ... titip salam saja, ya." Damar ikut mengangguk saat Surya datang menggendong Shanum.
"Nanti saya sampaikan. Anda orang baik, Pak Damar. Anak-anak senang dengan hadiahnya. Sangat disayangkan saja kalau hari ini kebetulan Pak Radit sakit. Jadinya Bu Anggi harus menemani suaminya. Begitulah seorang istri yang baik, apapun urusannya akan disingkirkan." Ungkap Nabila. Shanum meraih-raih tangan Nabila meminta untuk digendong.
"Pikiran dan hatinya sudah bertuan. Tidak ada yang bisa menggoyahkan. Seperti kamu. Ya kan, Sayang?" Surya menyenggol lengan Nabila. Keduanya tersenyum memasang wajah manjanya. Kecuali Damar. Pria itu mengangguk dan undur diri.
Surya dan Nabila mengamati keperian Damar hingga menghilang di jalanan perumahan. "Pak Damar pasti tersiksa dengan perasaannya," tebak Nabila.
"Hemm, asalkan bukan putra kita yang tersiksa."
Surya menghampiri Adit yang berjalan tertatih. Anak itu menunjukkan mainannya yang copot kepada Surya. Adit masih belum mampu memperbaiki masalahnya. Mungkin nanti, saat ia telah dewasa, ia akan mampu menyelesaikan apapun meski jiwa dan raganya harus terluka. Adit atau Radit sebagaimana kini mereka kenal, adalah seseorang yang kuat. Seseorang yang memiliki Anggi sebagai penyemangat hidupnya.
"Mas harus yakin, kita bisa selesaikan semua ini nanti. Jangan takut ya, Mas. Sampai kapan pun, aku milik kamu." Bisik Anggi tepat di sisi Radit yang tertidur.
***
Dua kardus besar dikirim oleh sebuah mobil dengan mengatasnamakan pihak percetakan. Sang petugas menyerahkan invoice pemesanan yang dinyatakan lunas dengan keterangan pemesan adalah Pak Galih. Bude membaca ulang jika benar isi dua kardus itu adalah buku doa untuk acara empat puluh harinya Reza besok. Sebelumnya Bude memang telah diberi tahu jika akan ada pengiriman buku doa pesanan Pak Galih untuk acara nanti. Anggi sendiri yang meminta Bude supaya menerima saja dan menyimpannya di dalam rumah.
"Bisa bantu masukkan, Mas. Itu pasti berat, Bude nggak kuat," pintanya sambil nyengir.
Setibanya dua kardus di dalam, anak-anak berburu penasaran dengan isinya. Anggi dengan satu bandel daftar persiapan untuk besok sedikit merasa lega. Dirinya meminta anak-anak tidak membuat ulah kepada dua kardus itu. "Itu buat besok, anak-anak! Mainan yang lainnnya saja, ya." Anggi menggiring anak-anak agar tidak sibuk mencari tahu isi dalam kardus itu.
"Memangnya isinya apa, Ma?" Tanya Aby.
"Buku yasin, Kak." Radit menjawab lebih dulu. Ia baru saja mengirim hasil akhir laporan bulanan dari minimarket untuk manager yang bertanggung jawab.
Anggi coba membuka kedua kardus itu. Mengecek jika memang isi yang dikirim sudah benar. Buku bersampul biru dengan motif embose bingkai emas yang berlubang untuk mempertegas foto Reza di sana. Satu buku yang sama diserahkan Anggi untuk ikut diperiksa Radit.
"Ini Pak Galih ambil yang harga berapa, ya? Bagus banget," pujinya. Buku doa yang dicetak kali ini berbeda dengan saat tujuh harinya lalu. Cetakannya lebih bagus dan terlihat premium pada setiap lapis kertasnya.
"Ini waktu pesannya lebih lama, Mas. Toh, percetakannya juga punya Pak Galih sendiri, kan. Jadi pasti bisa diatur."
Radit menggeleng tidak percaya. Sudah terlalu banyak Pak Galih membantu mereka untuk acara Reza. "Kita harus balas apa ke Pak Galih? Sudah sering Pak Galih menolong kita." Radit melihat ke arah Surya di sebelahnya. Surya dan Pak Sugeng bersama-sama mempersiapkan box untuk tempat snack besok. Mereka sengaja tidak memesan langsung paket makanan ringan untuk pendamping nasi kotaknya. Dari beberapa info yang mereka dapat, beberapa rekan dan sahabat kenalan Radit dan Anggi meminta untuk memberikan kesempatan bagi mereka menyumbangkan makanan di acara nanti. Anggi dan Radit sebenarnya merasa tak enak dengan semua bantuan itu. Banyak sekali yang menyayangi Reza. Mungkin dengan cara itu, mereka tahu kalau kepergian Reza meninggalkan banyak hal yang tidak terduga. Tuhan memberikan anugrahnya dengan cara sederhana namun begitu berkesan.
"Rezekinya Bang Reza Masya Allah banyak sekali ya, Pak. Saya sampai merinding lihatnya." Pak Sugeng terharu.
"Orang baik, akan semakin terlihat saat ia pergi. Tidak ada yang tahu, anak sekecil Reza punya amalan apa sampai Gusti Allah kasih barokahNya seperti ini. Satu persatu datang tanpa kita minta. Hebat!" Sebut Surya pada beberapa kardus makanan yang sudah dikirim hari ini.
Anggi menggendong Shanum untuk dipangku duduk bersamanya. Radit menutup laptopnya selepas semua urusan pekerjaannya rampung. Berkas dari salah satu usaha jasa landscape design yang ikut ia gawangi bersama rekan bisnisnya ditata kembali di atas laptop. Urusannya selesai. Tangannya terulur untuk membantu Surya dan Pak Sugeng, tapi buru-buru Surya menahannya.
"Kamu tahu kan kalau istrimu galak?" Tunjuk Surya pada Anggi di sudut meja.
Anggi hanya menatap tajam suaminya yang kesal.
"Pak." Gerutu Radit setalah mendapat penolakan mentah-mentah untuk ikut membantu melipat kardus makanan. "Apa capeknya, sih? Begutu doang." Keluh Radit kali ini ditujukan ke sang istri.
"Papa kan baru saja kerja. Pasti capek. Udah diem saja. Nih, main sama Adek di sini saja." Shanum diserahkan untuk digendong Radit. "Pangku!" Titah Anggi.