"Semua pertanyaan ada jawabannya. Tenang saja. Saya pun sedang berusaha mendapatkan jawabannya."
Seorang wanita muda duduk dengan tenang memangku tas kecilnya. Ada banyak gantungan yang saling bertumbuk menghasilkan bunyi gemerincing yang unik. Radit tidak bisa bergerak. Tiba-tiba semua orang tidak ada. Hanya mereka berdua.
"Siapa kamu?" Radit tidak bergeming. Badannya seketika kaku dibuatnya.
Senyuman manis dengan satu lesung pipinya tercetak begitu indah. "Belum saatnya anda tahu," ujarnya.
Radit hanya bisa menunggu. Untuk apa dan untuk siapa semua itu.
"Sabar. Jika nanti rasanya sakit. Tolong tahan, itu semua ada alasannya. Itu semua akan ada jawabnya."
"Jawaban apa? Jangan permainkan saya."
Wanita itu tersenyum semakin lebar. Berdiri dari duduknya, melangkah menuju pintu depan. Meninggalkan Radit sendiri tanpa memberikan jawaban yang bisa melegakan. Suara Radit serak, berteriak meminta wanita itu untuk menunggunya. Sayang, langkah Radit terlalu berat untuk mengejar. Bumi yang diinjaknya melekat erat dengan kakinya. Sulit. Bahkan di mimpinya juga Radit tidak berdaya.
"Mas!"
Suara itu muncul. Namun berbeda. Itu Anggi.
"Bangun, Mas! Pelan. Atur napasnya!" Tangan Anggi dingin menyentuh dadanya. Kancing bagian atas piama Radit dibuka sebagian. Dahinya penuh peluh.
Posisi badan Radit masih berbaring. Ia ditarik pelan agar bisa separuh duduk bersandar. Tangan Anggi menyelip di bagian tengkuk. Memegang lengan kirinya. Sulit, tentu. Anggi tidak bisa semudah itu untuk membangunkan tubuh suaminya yang mencapai 177cm. Tetap saja, Anggi terus berbisik pelan mengajak Radit kembali ke kesadarannya.
Mata Radit terbuka. Dua bantal ditumpuk tinggi membantu menyangga bagian punggung hingga leher.
"Mas," panggil Anggi lagi. "Minum, ya?"
Radit mengangguk. Air setidaknya bisa membuatnya sedikit tenang. "Minum obat, ya? Biar agak tenang badannya." Gemetar di sekujur tubuh Radit masih terasa meski tidak sehebat tadi. Radit menolak keras diberikan jenis obat penenang resepan dokternya.
"Makin aneh-aneh nanti. Nggak usah." Tolaknya.
"Mangkanya disuruh minum biar kamu tenang, Mas."
Radit mendapatkan resep obat sementara dari rumah sakit. Siang ia meminumnya, efek lemas hingga mengantuk menyerang secara bertubi-tubi. Tidak hanya itu, efek samping yang ia rasakan semakin memperparah halusinasinya. Selama ini Radit sering melihat hal-hal aneh, mendengar suara tidak jelas, bahkan indera penciumannya ikut sensitif dari biasanya. Ditambah efek samping obat itu, penderitaanya berlipat ganda.
"Kamu panggil-panggil seseorang. Kamu mimpi siapa, Mas?"
Tidak yakin, Radit mengaku wajah seseorang dalam mimpinya tidak asing di kepalanya. "Pernah bertemu. Tapi tidak tahu siapa," cerita Radit. Ia sentuh kepalanya lagi. Radit yakin itu benar-benar nyata.
Anggi tidak mempermasalahkan itu. Kondisi seperti ini tidak baik untuk mencecar Radit dengan pertanyaan yang begitu berat. Dirinya cukup menunggu sang suami bercerita dengan sendirinya. Dalam usahanya mengingat, Radit menyebut tentang jawaban.
"Dia berkata kalau sedang berusaha mendapatkan jawabannya."
Anggi tidak bereaksi. Meski dalam hati ia menyebut kalau halusinasi suaminya sangat aneh. Cukuplah sudah Anggi tidak membahas itu dan menjaga emosi diri sang suami pasti sedang naik turun.
"Saya sudah gila, ya?"
"Bukan, jangan bilang begitu, Mas." Kepala Radit dipeluk meski tidak begitu erat. "Kamu cuma lagi nggak sehat aja. Jangan pernah berpikir yang aneh-aneh ya, Mas. Kita semua tahu kalau kamu nggak sesehatan biasanya."
Anggi dan Radit menghabiskan waktu dalam dekapan bersama. Masih pukul dua dini hari. Tapi kantuk mereka tak ubahnya angin yang sekejab lalu berlalu.
"Kamu lagi mikirin apa sih, Mas?" Usapannya nyaman dirasakan Radit pada dadanya.
"Mimpiku."
Setiap Radit menyebut mimpinya pasti ada pertanda yang tidak biasa. "Mimpi tentang perempuan itu?"
"Saya merasa pernah bertemu dia. Dan kami rasanya cukup dekat. Dia berbicara dengan saya seolah," sulit Radit mengungkapkannya. Wajah perempuan dalam mimpinya itu begitu teduh. "Ketika berbicara, tuturnya lebut sekali. Pembawaannya tenang, tapi saya nggak tahu apa maksudnya." Radit berusaha mengingat sosok itu lagi.
"Aku tebak, Mas berpikir kalau mimpi itu akan bernasib sama seperti waktu Mas mimpi Bapak dan Ibu? Bisa jadi suatu saat nanti, perempuan itu bisa datang juga kemari." Menunjuk dada suaminya kembali sembari berkata, "kamu, Mas. Dia pasti ingin bertemu dengan kamu."
Radit tersenyum. Beralih kembali berbaring tanpa melepas pelukannya pada Anggi. "Semoga saja dia bukan malaikat pencabut nyawa."
"Ngaco! Sudah tidur saja."
Radit tak paham dengan yang terjadi pada dirinya. Tentang mimpi-mimpi itu, perempuan itu. Dalam pikirannya, mengapa semua itu terjadi sangat nyata meskipun di dalam mimpi.
***
Empat bulan kurang lebih Surya dan Nabila membawa serta putra kecilnya menghabiskan waktu di dunia dengan segala kecanggihannya. Ponsel, mesin cuci otomatis, televisi berlayar lebar nan tipis, saluran acara yang tidak hanya milik negara namun swasta bahkan mancanegara.
Remot televisi jadi benda kesukaan Surya. Ia bolak balik serta raba permukaan tombol-tombol kecil di atasnya. Ada juga remot berwarna putih yang meski punya lebih sedikit tombol tapi menyimpan banyak fungsi. Alat pengatur suhu ruangan kesukaan Surya yang lain. Alat itu sering kena marah sang menantu karena suka sekali mengubah-ubah suhu seenaknya sendiri.
"Nanti dimarahi Bu Anggi, Mas."
"Saya tidak pencet-pencet, kok. Itu, angkanya masih sama." Tunjuknya pada indikator AC di atas tembok.
"Saya cuma berusaha menyimpan kenangan." Surya menyerahkan remot itu kembali.
"Kita tidak akan mengingat semua kenangan ini, Mas. Dia bilang kita akan kembali tanpa membawa kenangan selama berada di sini."
Siang ini, Anggi membatasi kegiatan Radit untuk hanya diperbolehkan istirahat. Malam pergantian tahun yang melelahkan. Tubuh Radit akhirnya protes juga. Jadilah, siang ini semua anggota keluarga banyak yang memilih untuk istirahat tidur siang. Hanya tersisa Bude saja yang terjaga. Banyak cucian yang harus ia selesaikan.
"Apakah dia sudah menjamin itu? Toh saya berharap untuk bisa membawa sebagian yang bisa saya miliki di sini ke masa kita." Surya menenteng koran terbitan hari ini. Ada niat menjadikannya oleh-oleh kalau nanti ia bersama istri dan anaknya kembali ke masa lalu.