"Sudah tidak ada banyak waktu."
Seorang perempuan muda berbalik berat. Rasanya masih tak sanggup ia menatap bangunan yang ia kenal sebagai rumah masa kecilnya itu. "Saya nggak tahu sampai kapan kalian bisa bertahan di sini. Saya harus pulangkan kalian."
Nabila mencegah, ada yang harus ia sampaikan segera.
"Tapi Pak Radit sakit. Saya tidak sengaja dengar tadi kalau mereka mau pergi berobat ke luar negeri."
"Itu dia alasannya. Saya tahu mereka akan pergi. Dan ini kesempatan kalian untuk pulang."
Nabila mendesah lemas. Satu kantung garam yang ia beli di warung masih ia genggam. Bagaimana tidak, saat ia baru saja hendak pulang, perempuan itu datang lagi. Ia datang lagi untuk mengingatkan perkara kepulangan mereka ke masa lalu. Nabila enggan menjawab. Ia tidak tega harus kembali saat hatinya telah terpaut di sana.
"Ini kesalahan saya," perempuan muda itu menitikan airmatamya, "saya yang bawa kalian kemari. Niat saya hanya untuk membantu kalian, membantu mereka. Saya tidak punya gambaran kalau akan seberat ini membawa kalian pulang."
Sebab dengan ia membawa Nabila serta Surya kembali itu artinya akan mengantarkan mereka pada alur nasib yang sebenarnya. Kematian.
"Saya nyaman. Ini adalah pengalaman yang sulit saya lupakan. Mengenal putra saya menjadi pria dewasa yang sangat baik. Ya, walaupun saya tahu. Kamu akan membuat kami lupa saat kembali nanti. Seperti yang kamu sampaikan dulu," sebut Nabila. Ia sadar betul, semua kebahagiaan di masa ini akan sirna bergitu ia kembali.
Perempuan muda itu mengangguk. Lantas, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah foto keluarga yang diambil pada sebuah tempat yang tidak asing bagi Nabila. Sedikit berbeda, sebab ada satu titik dengan tulisan yang jelas seketika melemaskan sendinya. Kepalanya pening dan sesak jadi satu. Ia tidak percaya, tapi foto itu jelas mengatakan semuanya.
"Tidak mungkin."
"Dua puluh lima tahun dari sekarang adalah tempat saya berada. Saya sudah melihat semuanya. Apa yang akan terjadi nanti."
"Tapi kamu bisa merubahnya, kan? Kamu bisa melakukan semua ini. Kamu bisa bawa kami, itu artinya ... kamu bisa buat yang terjadi di foto ini tidak akan terwujud." Nabila memegang kedua pundak perempuan muda itu sambil menangis. Ia memohon, ia meminta.
Tapi perempuan muda itu tetap berkata tidak.
Nabila bertanya sekali lagi. "Setelah kamu melihat semua yang terjadi di masa ini, kamu rela kehilangan dia?"
Raut wajah perempuan itu berubah, "Tentu saya tidak rela kehilangan dia, saya tidak mungkin melakukan apapun untuk merubahnya. Saya bukan Tuhan."
Nabila tak sadar meremas pundak perempuan itu, menumpahkan tangisnya pilu. Lara di hatinya baru saja sembuh, tapi sementara itu pasti ada batasnya.
"Kembali adalah cara yang paling aman untuk saat ini. Saya tidak akan membuat takdir kalian berubah. Terlalu berbahaya. Itulah sebabnya, saya harus memulangkan kalian segera. Tolong mengerti. Ini sudah terlalu jauh."
Keduanya sama-sama tak sanggup. Membiarkan suara azan di masjid besar perumahan mengalun memanggil umat untuk beribadah. Nabila terduduk lemas. Ia usap air matanya agar tak terlihat oleh beberapa orang di jalanan. Lekat ia pandangi wajah perempuan muda itu. Lesung pipinya manis sekali saat tersenyum seperti ini. Senyumnya tersungging indah meski matanya basah karena air mata.
"Saat kami kembali, berjanjilah untuk tidak datang kemari. Ikhlaskan hatimu."
"Urusan saya akan mengikhlaskan hati saya itu nanti. Saat saya mendapatkan jawaban yang saya cari."
Dahi Nabila mengerut. "Di sini? Di masa ini?"
Perempuan muda itu mengangguk. Mengambil kembali foto yang dipegang Nabila untuk kembali ia simpan. "Oh, tentu. Bertahun-tahun saya berlatih untuk semua ini. Untuk datang ke masa ini. Karena saya butuh sebuah jawaban dari beliau langsung." Ia pamit. "Saya akan kembali untuk mengantar kalian. Pak Sugeng sudah saya beri tahu. Sampai jumpa, Uti!"
Ia pergi, meninggalkan Nabila dan Surya yang diam-diam memantau di taman yang sepi itu. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain saling berpeluk. Memang, semua ini harus berakhir.
***
Pintu kamar terbuka pelan. Anggi masuk membawakan segelas herbal yang baru matang direbus. "Mas." Panggilnya. "Kita coba herbal dari Damar, ya. Semoga cocok."
Sayangnya, tak ada sahutan dari Radit.
"Urusan Bapak dan Ibu sudah selesai, kan? Dan mereka harus kembali. Begitu juga saya. Kembali bertemu dengan mereka hanya dengan perantara doa."
"Ikhlaskan ya, Mas."
"Saya ikhlas. Cuma rasanya ... di sini kosong." Radit mengusap dadanya sedikit kasar. "Saya akan sendirian. Saya akan jadi yatim piatu lagi."
"Istigfar, Mas." Anggi mengusap punggung Radit yang bergetar. Tangis Radit pecah.
Radit menyandarkan kepalanya di dada Anggi. Menangis sejadinya. "Siapa pun bisa meninggalkan kita. Tapi cinta mereka tidak akan hilang. Akan terus kita rasakan."
"Kamu masih punya kami. Kami tidak akan meninggalkan kamu." Pesan Anggi.
Radit mengusap tangan sang istri. Ia sangat mencintai wanita itu. Hidup dan matinya adalah untuk memperjuangkan keluarga bersamanya.
"Saya ingin sekali seperti bapak dan ibu. Pergi tanpa penderitaan. Tidak terlalu lama merasakan sakit. Atau bahkan tidak sama sekali. Hampir seperti tertidur." Radit menatap Anggi sendu.
"Kamu akan sembuh, Mas."
"Saya akan berusaha sembuh. Saya nggak mau seperti ini. Saya lemah. Saya nggak bisa jaga kalian. Saya mau sembuh!" Tangan Radit meraih gelas berisi ramuan herbal pemberian Damar itu. Racikan dari seorang ahli yang katanya tidak sengaja ia temui di hotel. Damar berinisiatif meminta untuk diberikan pada Radit, dengan harapan kesembuhan itu benar-benar datang.
Sebuah harapan yang besar. Harapan yang setidaknya akan membuat rasa tenang itu ada. Sementara, sebelum hilang untuk selamanya.
Pagi ini cuaca cukup cerah, Radit memilih tinggal di rumah saat anak-anak meminta untuk jalan-jalan keluar. Mereka ingin membeli jajanan di pasar kue pagi hari. Mumpung liburan dan anak-anak bisa bangun pagi tanpa rewel.
Sayangnya, Radit tidak diperbolehkan ikut. Ia tetap di rumah menunggu di taman depan rumah saja tanpa melakukan apapun.
"Pak, Pak Radit. Assalamualaikum."
Damar datang lagi. Apa yang ia lihat saat ini membingungkan. Ada Radit di sana sendirian. Memang pintu sedang terbuka sehingga ia bisa membawa masuk mobilnya tanpa meminta izin. Yang jadi masalah adalah Radit ada di pondok kecil itu dalam posisi duduk memejamkan mata.
Barang-barang bawaannya ia letakkan di sebelah Radit. Damar memeriksa sekeliling rumah yang memang sepi pagi ini. "Kepagian sepertinya." Rutuknya menyesal. Sejak subuh tadi Damar tidak sabar ingin membagi oleh-olehnya ke keluarga Radit.
"Mas, Mas Radit." Damar memelankan suaranya.
Disentuhnya pundak Radit. Menepuknya dua kali sampai akhirnya mata Radit terbuka perlahan. Rambut yang mulai tumbuh dari terakhir kali Damar ingat membuat wajah Radit jauh lebih segar.
Lega, Damar sedikit menegakkan tubuhnya menyambut kesadaran Radit. "Assalamualaikum. Pagi, Mas Radit," sapanya. Radit tersenyum.
"Waalaikumsalam. Ah, Damar. Baru datang? Itu pengantinnya sudah selesai ijab ...," tunjuk Radit pada arah menuju taman belakang.
Damar tentu saja bingung. "Pengantin? Maksudnya?"
Sepi, itu yang Radit sadari. Rumahnya tidak ada dekorasi apapun. Suara lantunan doa dan riuh orang berbincang pun tidak ada. Ia lihat sendiri ke arah jalan kecil menuju taman belakang. Hanya jalan biasa.
Bukan lorong yang dialasi taburan bunga-bunga dan karpet serta dekorasi janur yang melengkung.
"Maaf. Saya mimpi mungkin." Radit malu. Hatinya sedikit tidak yakin jika itu hanya sebatas mimpi belaka. Tangannya mengusap sepanjang lengan dan tengkuk. Rambut halusnya masih meremang, suasana sakral itu masih bisa ia rasakan.
Mereka lantas saling berpeluk. Damar dipersilakan duduk di sebelah Radit untuk sekadar menanyakan kabar.
"Herbalnya membantu sekali untuk napsu makan. Badan juga lebih segar. Terima kasih."
"Alhamdulillah. Saya bersyukur ada chef yang paham masalah herbal ini di resto hotel. Kalau saja saya tidak datang untuk monitoring waktu itu. Mungkin saya tidak akan tahu. Seperti ada yang menggerakkan saya."
Damar berkisah jika saat itu ia seharusnya pergi ke Jakarta. Namun, tiba-tiba ada masalah di hotel. "Ada masalah di kitchen kami. Jadi saya harus ikut mendampingi. Di situ saya tidak sengaja dengar ada pengunjung yang mengobrol tentang obat herbal. Chef kami itu bilang kalau ia bisa meracik herbal khusus untuk kanker. Dan, ya," tunjuknya pada satu termos berisi minuman yang kini biasa Radit konsumsi.
"Terima kasih banyak. Selama beberapa hari ini, herbal keringnya sudah saya konsumsi. Mamanya anak-anak yang buatkan."
Damar senang. Ia bisa ikut berkontribusi untuk kesembuhan Radit.
"Bagaimana Dubai? Apakah setinggi itu Burj Khalifa?" Tanya Radit sambil tersenyum.
"Pokoknya setinggi harapan saya, Mas." Mereka pun tertawa bersama.
Ada sekitar enam kantung besar Damar bawa. Ia bilang ingin memberikan oleh-oleh itu langsung pagi ini. "Banyak cokelat juga yang saya bawa. Semoga anak-anak suka." Imbuh Damar.
"Saya tidak tahu harus bilang apa lagi. Biarkan saya nanti bisa bantu kamu. Gantian. Jangan sungkan, ya. Bilang saja ke saya."
Untuk menyenangkan hati Radit, Damar tiba-tiba mempunyai ide yang menarik. Damar mengamati sekeliling halaman depan. Beberapa tanaman yang tumbuh di sana sangat indah dan terawat dengan baik menurutnya.
"Ayo, katakan. Ada yang kamu mau di sini? Akan saya berikan." Tantang Radit
"Ada. Saya mau yang ... cantik."
Radit berhenti sejenak. "Bu—nga?"
Damar mengangguk senang. "Tapi saya tidak melihat apa yang saya kenal di sini, Mas."
"Bunga apa yang kamu tahu?"
"Mawar." Damar menunduk malu. "Saya tidak tahu jenis tanaman, Mas. Tanaman yang saya kenal cuma lidah buaya. Kalau bunga ya mawar." Ia tertawa.
Radit melihat satu pot yang baru ia tanam tadi. "Satu mawar yang tumbuh baru-baru ini mati. Dan itu—" tunjuk Radit pada potnya, "saya baru saja tanam dari tangkai yang, ya ... entah bisa tubuh atau tidak."
Damar membantu Radit mengambilnya. Hanya sebuah batang yang ditancapkan. Menyedihkan sekali.
"Saya tidak janji kalau bunga ini akan tumbuh. Mungkin saja mati."
"Semoga saja bisa tumbuh. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, bukan?" Damar mengambil pot itu dan memperhatikannya dengan seksama.
Janji Radit, ia akan memberikan bunga itu saat mekar nanti. "Untuk saya, Mas? Ini bunga mawar satu-satunya di rumah ini."
"—dan sekarat. Itulah kenapa saya tidak bisa janji." Radit menerima pot itu lagi. Ia pangku dan memberinya doa terbaik yang bisa ia minta.
"Saya mau, andai ini bisa tumbuh, bunga ini dirawat dengan baik. Saya tidak bisa konsisten merawat tanaman."
"Kan, ada Anggi. Bukannya semuanya ini dia yang merawat?"
Hanya ada satu alasan mengapa hanya ada satu bunga mawar di rumah mereka. Itu pun sampai mati tidak terawat. "Dia tidak suka bunga mawar." Radit letakkan kembali pot itu. Sementara itu Damar hanya terdiam. Di kepalanya ada sesuatu yang membuatnya teringat tentang satu hal.
Tentang bunga mawar itu.
"Saya tidak tahu kenapa dia tidak suka bunga mawar."
Suara tawa Shanum dan Adit yang saling bekejaran. Di belakang mereka ada Bude, Surya, Nabila, dan Pak Sugeng yang datang membawa beberapa kantung berisi kue dan nasi.