Sementara untuk Kembali

Sifah Nur
Chapter #20

20. Rasanya Nyata

Bagaimanapun juga, Pak Sugeng memegang amanat besar atas keamanan rumah besar itu. Rumah mewah tempatnya mengais rezeki sejak keluarga sang pemilik rumah mulai pindah ke sana. Lalu dengan keberangkatan Radit dan keluarga ke Singapura, Pak Sugeng tetap bertahan. Menjaganya, membersihkannya, dan memastikan semua sudut rumah aman terkendali.

Pagi ini Pak Sugeng membersihkan taman yang kotor. Semalaman hujan lebat. Daun-daun dari pohon masuk dan berkumpul di sekitar depan garasi, taman, dan pondokan kecil tempat favorit anak-anak bermain. 

Suara bergemerisik seperti langkah kaki tiba-tiba terdengar samar dari taman belakang. Pak Sugeng yakin kalau tidak ada orang lain masuk di rumah itu. Memang benar gerbang di depan ia buka, tapi dengan hari sepagi ini, datangnya tamu atau sekadar kurir paket pun juga tidak mungkin ada.

“Kok seperti Pak Rad—“

“Pak Sugeng, sedang apa?”

Pak Sugeng berbalik. Hampir saja sapu yang dibawanya ia gunakan untuk memukul tamunya. Damar mengangguk dengan sopan. Di tangannya terdapat sekantung media tanam lengkap dengan pupuk yang baru ia beli di toko bunga. 

“Ya Allah, kaget saya, Pak Damar.”

Perasaannya tak nyaman. Di belakang sana ia sadar ada pergerakan yang aneh. Rasa tak nyaman Pak Sugeng ikut memantik penasaran Damar. Karena ikut penasaran dengan yang diperhatikan Pak Sugeng, Damar coba memastikan area belakang rumah kalau memang tidak ada orang. Pak Sugeng mengaku kalau ia melihat seseorang sedang berjalan bertelanjang kaki di sana. 

“Kayak Pak Radit,” sebut Pak Sugeng dengan senyuman manisnya.

Damar mendesah lega. Pak Sugeng hanya berhalusinasi saja. Sejak sebulan kepergian Radit dan keluarga, tidak sedikit Pak Sugeng terbayang-bayang sosok tuannya itu. Bahkan suara tawa anak-anak ikut terbawa bersama angin yang berhembus. 

“Kadang ngeri saya, Pak. Seringnya sih kayak lihat Pak Radit.” Pak Sugeng menunjuk pondokan kecil itu. “Ndak satu-dua kali saya lihat kayak lagi duduk di sana sambil melamun, kebingungan gitu. Kayak beneran ada Pak Radit di sana.” Pikirannya sering terganggu hingga tanpa sengaja seolah melihat sosok Radit ada di dekatnya. Menurut Pak Sugeng, mungkin karena memang informasi yang didapatnya dari Shanum tentang hasil pengobatan Radit sedikit banyak mempengaruhi pikirannya.

“Pak Sugeng kali yang bingung.”

Satu kantung makanan Damar letakkan di teras tanpa menyerahkan langsung. “Saya juga kadang kayak lihat Pak Radit. Sering banget.”

Damar lantas mengalihkan perhatiannya pada pot bunga mawar yang mulai tumbuh. Bisa dibilang kalau untuk itulah Damar singgah. Untuk bunga mawar itu.

“Saya sudah belikan media tanamnya. Sekalian ini pupuknya. Kata yang jual bagus buat bunga seperti ini.” Barangkali Damar tidak bisa datang karena urusan pekerjaan, tugas mengurus mawar itu bisa Pak Sugeng kerjakan dulu.

Untuk hari ini, Damar sedikit lebih senggang. Jadinya ia bisa datang untuk mengecek tanamannya. Makanan yang dibawanya sampai lupa untuk dipasrahkan Pak Sugeng. Ada nasi kuning dan lauk-lauk lain dari restoran hotel.

“Terima kasih, Pak Damar. Datang-datang sering bawa makanan hotel. Kalau keseringan, bisa-bisa lidahnya Pak Sugeng ini ndak doyan nasi pecel loh, Pak.”

Sekop kecil di tangan Damar sampai ia hempaskan saking gemasnya dengan ulah pria itu.

“Kalau begitu, saya bawakan nasi pecel hotel bagaimana, Pak?” Tawar Damar tidak main-main. Di restoran hotel tempatnya bekerja juga sangat masyur dengan menu nasi pecelnya. Meski tentu saja dengan cita rasa yang mengikuti selera bintang lima.

"Sebentar lagi kan puasa, biasanya restoran hotel punya menu khusus untuk buka puasa. Saya bawakan nanti spesial buat Pak Sugeng." Janji Damar.

Pekerjaan berkebun mereka dimulai. Pak Sugeng menyalakan kran air di sisi pondokan. Selang panjangnya ia semprotkan merata di sekitar rumah dan tanaman. Jejak kotoran sisa hujan semalam lumayan mengganggu pemandangan.

“Kenapa ndak dibawa ke hotel saja, Pak Damar? Biar bisa dirawat ndak bolak-balik ke sini. Capek, loh.” Menurut Pak Sugeng, pasti di hotel Damar bisa merawat bunga itu dengan bantuan dari ahli taman di sana. 

Bukan berarti Pak Sugeng tidak suka Damar di sana.

“Menurut Pak Sugeng, saya tidak seharusnya di sini?”

Tentu saja Pak Sugeng terkejut. Sepertinya ia salah bicara. “Bukan begtu, Pak Damar. Anda bahkan jadi angin segar untuk keluarga ini. Harapan, Pak. Pertolongan Pak Damar sangat berarti selama ini.” Pak Sugeng yakin Damar tidak bermaksud buruk. 

“Saya hanya ingin membantu.”

“Saya paham, Pak Damar buat saya senang. Saya ada temannya di rumah besar ini.” Pak Sugeng mengamati bangunan itu. Memang sangat besar dan begitu indah sebagai sebuah hunian.

"Saya kepingin sekali punya rumah yang benar-benar rumah seperti ini. Seperti yang Pak Radit dan keluarganya lakukan. Rumah yang punya nyawa di dalamnya."

Sedih sekali nada bicara Damar. "Pak Damar ndak punya rumah sendiri? Saya dengar kerjaan Pak Damar buat panjenengan harus terus di hotel, ya?" Tanya Pak Sugeng berharap Damar tidak tersinggung.

Damar mengaku punya rumah di salah satu perumahan. Namun isinya kosong. "Enak di hotel, Pak. Ramai. Di rumah saya kosong. Saya nggak pinter cari perabotan. Dulu waktu ada istri, dia yang urus semua. Tapi ya begitu, suka-suka dia. Nggak lihat suaminya punya uang atau nggak. Sekarang ada uang, eh ... jadi duda."

Candaan Damar memang sedikit gelap. Pak Sugeng hanya bisa menggeleng menanggapinya. "Rumah ini juga bagus sekali. Perabotannya pas, sesuai. Indah. Selera Pak Radit bagus banget." Puji Damar.

"Oh, sebenarnya Bu Anggi yang urus masalah ini. Taman juga, kebanyakan Bu Anggi yang atur." 

"Pantas." Duga Damar. "Dari dulu juga begitu. Tempat kos saya juga Bu Anggi yang urus. Memang jago buat masalah interior."

Pak Sugeng melihat perubahan ekspresi wajah Damar. "Wah, istri idaman sekali Bu Anggi itu ya, Pak." Pujinya. 

"Pak Radit sangat beruntung."

Satu persatu tanaman selesai dipupuk dan disiram. Banyak mobil keluar masuk seiring berlalunya waktu. Dari rumah sebelah, Pak Galih juga sudah rapi dengan setelan kemejanya. Beberapa map tidak dimasukkan tas melainkan hanya di masukkan ke mobil. Masih sangat pagi bagi Pak Galih kalau akan berangkat ke kampus.

“Dies natalis kampus, Pak. Saya iku jadi panitia mewakili fakultas.” Sebuah jas dengan lambang kampus tempat Pak Galih mengajar dibawakan oleh Mbak Siti, asisten rumah tangganya. Pak Sugeng tahu sejak subuh tadi Mbak Siti sampai di rumah Pak Galih. Rupanya memang untuk membantu menyetrika beberapa pakaian yang akan digunakan tuannya nanti.

Damar mengangguk memberi salam dari jauh. Pak Galih sudah cukup akrab dengan Damar sejak kepindahan keluarga Radit ke Singapura. Seringnya Damar berkunjung, tidak sedikit kesempatan mereka mengobrol terjalin di antara mereka. 

“Biasanya sudah ramai teriakan anak-anak. Sasa sudah lari ke sini kalau habis mandi,” kenanganPak Galih.

“Sekarang sepi.” Damar menunjukkan tanaman-tanaman yang selama ini ia ikut rawat. “Yang rame ini. Alhamdulillah semuanya bisa tumbuh baik.”

“Pak Damar ini lho yang telaten. Bukan saya, Pak Galih.” Sebelum Damar memuji Pak Sugeng, ia lebih dulu mendapat sanjungan dari pria paruh baya itu. 

Melihat sekilas dari balik tembok, memang banyak tanaman jadi lebih beragam dan tumbuh dengan sehat serta subur. Ia bisa tebak kalau memang ada beberapa tanaman yang sengaja ditambah karena sebelumnya tidak ada di sana. 

“Saya senang Pak Damar bisa bantu keluarga Pak Radit sampai saat ini. Kita hanya berharap dan terus berdoa demi kesembuhan Pak Radit.” Pak Galih menerima satu kantung makanan yang sudah disiapkan Mbak Siti, yang hanya mengurus keperluan rumah dari pagi sampai sore.

Sudah saatnya Pak Galih berangkat. “Pak Sugeng sama Pak Damar sudah dapat kabar terakhir dari Pak Radit?” Tanya Pak Galih.

“Besok katanya harus balik lagi di rawat ke rumah sakit, Pak. Kemonya sedikit berat.” Pak Sugeng mengingat pesan singkat Bude yang menyampaikan tentang perkembangan kondisi mereka di sana. “Kasihan.” Imbuhnya.

“Mereka tidak banyak unggah momen di sosial media.” Sebut Damar pada pengalamannya saat ingin mengetahui kondisi Radit. Damar masih sesekali menghubungi Anggi. Hanya saja ia tidak mendapatkan balasan apapun. Hatinya berkata kalau Anggi memang benar-benar menjaga jarak dengannya. Begitu juga Radit. Bahkan ia tahu kalau pesannya tidak terkirim. Mereka memutus hubungan dengan Damar.

Entah apa alasannya.

Rupanya Pak Galih pun begitu. Dirinya sulit sekali mendapat kabar dari keluarga Radit di sana. “Bu Anggi jarang balas pesan saya juga. Terakhir yang saya ingat seminggu lalu, ada kirim foto. Pak Radit kurus.” Mereka hanya bisa prihatin. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan selain memanjatkan doa terbaik mereka.

“Ya, mungkin karena kondisi Pak Radit naik turun. Untung ada Bude masih sering kirim kabar,” kata Pak Sugeng.

Setelah semua keperluan Pak Galih selesai, ia pun pamit. Mobilnya berlalu menuju arah keluar area perumahan untuk bisa sampai di kampus tepat waktu. Tinggallah kembali Pak Sugeng dan Damar yang merapikan taman. Keduanya beristirahat untuk mengakhiri acara berkebun mereka.

“Makan sama-sama, Pak. Ini banyak, loh.” Pak Sugeng baru saja kembali mengambil piring dan sendok. Tidak lupa minuman pun ia bawa keluar untuk Damar bisa ikut menikmatinya. 

Satu kantung makanan Damar tunjukkan. Ia baru saja ambil dari dalam mobil saat Pak Sugeng menyiapkan piring. “Saya juga bawa. Tadi sempat masak sebentar di dapur kamar.”

“Wah, nasi goreng. Pak Damar jago masak juga, ya.” Pak Sugeng mengakui kalau aroma nasi goreng buatan Damar sangat wangi. Ia sampai dipersilakan mencicipinya.

“Namanya juga nggak ada pasangan, ya. Apa-apa sendiri.”

Pak Sugeng paham sebagai sesama duda. Damar sudah bosan dengan makanan hotel. Jadinya ia coba membuat sendiri sesuai dengan seleranya. “Pak Damar bercanda. Ini rasanya kayak buatan chef," puji Pak Sugeng.

Lihat selengkapnya