Bunyi tanda pesan masuk tiba di komputer Shanum. Baru saja ia mandi. Rencananya ia akan mengunjungi salah satu perancang busana pengantin yang nantinya akan ia gunakan di acara pernikahan. Sudah sampai di tahap akhir. Banyak yang sudah mereka selesaikan, bahkan untuk calon pengantin pria pun selesai. Shanum lunglai menuju meja kerjanya. Sudah lebih dari sebulan ia tidak disibukkan dengan urusan pekerjaan. Shanum memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.
Calon suaminya sendiri yang menyarankan agar ia bisa fokus pada pernikahan dulu. Bukan untuk memutus rejekinya, tapi hanya menundanya sementara. Shanum masih diperbolekan untuk bekerja lagi nanti. Tapi tidak di Amerika. Mungkin mereka bisa sama-sama bekerja di Melbourne atau salah satu bisa tetap di Indonesia.
Beberapa rumah sakit di Surabaya juga bisa Shanum coba untuk peruntungannya nanti.
Projek taman kota selesai. Aku pulang.
Singkat isi email itu. Shanum tahu calon suaminya akan mengiriminya kabar dengan email jika masih mengurus pekerjaannya. Sekalian mengirim email ke clien, katanya dulu. Lega, sudah lama mereka tidak bertemu. Cepat-cepat jemari Shanum mengetik pesan balasannya.
Cepat pulang, Mas! Awas kalau badanmu gendutan.
Pesan terkirim. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Ia akan mengakhiri masa-masa sendirinya dengan membina rumah tangga bersama pria pilihan hatinya. Seseorang yang membuatnya yakin. Nama yang selalu ia sisipkan di setiap doanya. Lalu dengan cara Tuhan, mereka akan segera dipersatukan dalam janji suci. Meski tanpa Radit di sisinya, seseorang yang pernah berjanji akan menemaninya kala tanggung jawabnya dialihkan pada pria itu. Namun sayangnya, tidak demikian.
"Kak, sarapan, yuk. Janjinya jam setengah sembilan, kan?"
Seorang wanita berjilbab menengok di sela pintu kamar yang terbuka. "Sebentar, Ma. Balas email dulu. Sebentar lagi aku turun."
"Jalannya pasti ramai jam-jam segini, takutnya kena macet." Sejenak, ekspresi muka Shanum mulai menimbulkan pertanyaan baru. "Sudah selesai kerjaannya dia? Kapan pulang? Seneng banget ih wajahnya anak Mama."
"Katanya sih sudah, Ma. Mungkin kalau sudah clear semuanya bisa langsung terbang."
Bukannya turun, Anggi, mengamati putrinya itu sekali. Semua yang Shanum lakukan tentang perjalanan waktu itu, Anggi tahu. Ia membiarkan Shanum melakukannya dengan tetap mewanti-wanti untuk tidak melakukan kesalahan. "Terus, dengan Papa bagaimana?" Langsung, Anggi membahas permasalahan utamanya tanpa banyak basa-basi.
"Sudah," singkat jawabnya.
"Oh, ya? Tapi Mama lihat kok kamu masih sering pergi ke sana. Almarhum Pak Sugeng tahu, kan?"
Shanum mengangguk. Ia meminta mamanya agar masuk saja ke kamarnya. "Aku ke sana juga buat ketemu Pak Geng, Ma. Kasihan, sendirian di rumah."
Anggi mengingat waktu-waktu itu. Pak Sugeng sering mengiriminya pesan singkat untuk melaporkan masalah kondisi rumah. Terkadang, Anggi sering khawatir dengan Pak Sugeng yang harus mengurus rumah mereka seorang diri. Walaupun hanya seorang, rumah tetap terjaga rapi dan taman di setiap sudut rumah terawat dengan baik.
"Mama sampai sering ingatkan biar panggil orang buat ikut bantu bersihkan rumah."
"Untungnya Pak Geng dibantu Ayah."
Anggi tersenyum. Hampir saja ia melanjutkan perbincangan itu sebelum seorang asisten rumah tangganya memanggil. "Bu, pesanan sayurnya sudah sampai. Tapi kata kurirnya ibu pesan tambah rajungan, ya? Yang itu belum dibayar katanya."
Lupa, Anggi memesan sayuran secara daring. "Iya, Mbak Luluk, Astagfirullah, Mama minta tambah belikan rajungan. Tapi split bill, yang rajungan belum Mama bayar." Anggi menepuk pundah Shanum mengingatkan untuk segera bersiap. "Nanti siang makan rajungan kemangi, Bang Uqy yang request."
"Sayang Bang Aby belum bisa pulang."
Ibu dan anak dengan ikatan yang begitu kuat. Sebagai anak yang baik, Shanum berharap jika keluarganya dapat berkumpul bersama. "Nanti kalau sudah pada kumpul, Mama masakin lagi." Hati seorang ibu pasti mengharapkan kehadiran putra-putrinya.
Anggi pamit. Ia harus segera memberi kurir itu uang untuk pelunasan.
"Dasar Mama."
Shanum melihat layar komputernya. Sebuah pesan baru masuk.
I am in good shape, honey. I can't wait to see you.
xo, K
Harinya akan cukup sibuk. Untuk itu ia akan mencoba fokus pada urusan pernikahannya lagi. Shanum perlahan mematikan komputernya. Meja kerjanya sejak masa kecil itu telah berubah beberapa kali.
Ia lantas coba berbaring di atas ranjang. Memejamkan mata dan ...
***
***
"Ada Mbak Aida rupanya."
Sudah lama Damar tidak bertemu Shanum setiap kali ia berkunjung ke rumah Radit. "Pak Damar." Shanum mengangguk dan memberi salam. Dirinya pun mengaku baru saja tiba.
"Iya, Pak. Saya saja kaget tadi tiba-tiba Mbak Aida muncul di dapur."
"Muncul?" Damar bingung.
"Maksudnya, datang dari depan. Terus cari minum di dapur." Pak Sugeng menambahkan kalau ia tidak tahu ada tamu karena sibuk membersihkan halaman belakang.
Tentu saja itu bohong.
"Iya, Pak. Saya nggak puasa," alasan Shanum. Toh, sebenarnya memang begitu. Di masanya tidak dalam waktu bulan Ramadan.
"Oh. Saya juga cuma mau mampir. Tadi cari kolak di sekitar perumahan sini. Sekalian bungkus buat Pak Geng. Buat buka puasa." Damar ikut menawarkan kepada Shanum tapi ditolak.
Pak Sugeng membawa kolak itu ke dapur. Nanti akan ia panaskan lagi. Pak Sugeng suka kolak yang hangat. "Sudah punya kue lebaran, belum?" Shanum coba basa-basi. Ia tidak suka kecanggungan di antara mereka.
"Masih lama, Mbak. Saya juga ndak ngerti beli kue-kue itu. Biasanya Bu Anggi yang beli atau buat sendiri."
"Sekarang, orangnya malah jauh." Damar memeriksa ponselnya berharap muncul unggahan baru dari Anggi.
Pak Sugeng kembali. Mereka bertiga kembali berbincang sebentar sebelum waktu Ashar tiba.
"Iya, Pak. Malah kabarnya dari Bude, kalau mereka belum bisa kembali. Pak Radit kemo lanjutannya malah empat hari sebelum lebaran."
Shanum terhenyak hebat. Badannya tersentak kaget.
Ia tahu cerita itu.
"Empat hari, Pak Sugeng?"
"Empat hari juga waktu pemulihannya. Jadi, lebaran nanti Pak Radit pas lemes-lemesnya."
Tangan gemetar Shanum terlihat oleh Damar. Sentuhan pria itu sampai mengejutkan Shanum. "Mbak Aida nggak apa-apa?" Tanyanya.
"Hah? Em, nggak. Saya nggak papa."
Tatapan Pak Sugeng mengandung arti yang dalam. Baginya, pasti ada yang terjadi saat itu. Bahkan Shanum berusaha menahan air matanya untuk turun.
"Saya cuma kepikiran, kalau ada kesempatan, rasanya pengen nengokin ke sana. Tapi jauh," ujar Shanum. Hanya itu yang bisa ia utarakan demi menyembunyikan kegelisahannya.
"Menjenguk orang sakit memang diharuskan dalam agama. Menjenguk dan mendoakannya."
"Pak Damar mau menjenguk mereka?" Tanya Shanum.
"Memangnya tidak masalah?"
"Kenapa tidak? Lebaran di rumah sakit tidak buruk." Shanum tersenyum. Tidak semudah itu membayangkan hal yang sebenarnya terjadi dan mengatakan itu tidak buruk.
"Mbak Aida benar juga. Sekalian sillaturahim. Kebetulan saya dapat cuti beberapa hari sebelum lebaran."
Pak Sugeng iri, ia juga ingin mengunjungi keluarga tuannya di sana tapi apa daya, tugasnya masih harus terus memastikan rumah itu aman.
"Terima kasih, Mbak Aida. Mbak sudah meyakinkan saya masalah ini."
Damar tidak bisa berlama-lama. Ia harus kembali sebelum gelap. Pak Sugeng mengantar Damar kembali bersama Shanum. Sampai pada akhirnya, Shanum dan Pak Sugeng tinggallah sendiri.
"Pak Sugeng ndak ngerti apa yang terjadi di sana. Cuma, saya pesan ke Kakak, jangan lepas doanya buat Papa."
Pak Sugeng memeluk tubuh Shanum yang bergetar hebat. Ia menangis terisak. Sejadi-jadinya.
"Maaf, Pak Sugeng. Saya izin ke kamar. Saya harus kembali."
"Iya, Kak."
***
***
Tempat yang akhirnya Shanum datangi adalah rumah. Ia benar-benar kembali. Keputusannya untuk datang kembali ke masa lalu bukan keputusan yang tepat. Kembali ia mendapati kenyataan yang sangat menyakitkan sepanjang hidupnya. Meski itu ia tahu itu dari sebatas cerita, rasa sakit kehilangan begitu kentara.
Shanum tidak bisa bayangkan sang ibu pada saat itu. Hari raya yang seharusnya menjadi momen saling meminta maaf. Seorang Anggi harus merasakan rasa bersalah yang dalam sepanjang tahun. Bahkan hingga saat ini, saat Shanum telah tumbuh dewasa dan rasa itu tetap sama.
Srak, bunyi benda terantuk datang dari arah bawah tangga. Suara napas seseorang pun bisa ia dengar.
"Kak, sudah pulang?"
"Iya, Ma."
Shanum menjawab panggilan itu. Anggi masih sibuk membersihkan meja dapur yang ia gunakan untuk mengisi persediaan bahan-bahan masakan dan camilan keluarga.
"Ini rumah siapa?"
Suara seseorang Shanum dengar tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ki-kirana?"
Radit, dengan wajah pucat lengkap dengan pakaian rumah sakit sempoyongan sambil terus bertanya. Shanum terkejut bukan main.
"Ada tamu, ya? Siapa, Kak? Suruh masuk dulu. Ini Kecapnya tumpah. Aduh, lengket."
Anggi tidak sempat melihat ke arah ruang tamu. Tangannya kotor dengan kecap. Sementara Shanum ... tertegun mendapati ayahnya berdiri di hadapannya.
Di masa depan.
"Kita bukan di bandara lagi? Ini rumah kamu?" Tanya Radit. Sesekali ia menoleh.
Anggi, dari dapur mulai penasaran. "Suara itu, saya seperti kenal."
"Jangan!"
Brak! Shanum menyeret Radit yang lemas menuju kamar mandi terdekat.