Sementara untuk Kembali

Sifah Nur
Chapter #22

22. Muara

Malam dengan pancaran bulan purnama kali ini terasa sangat hangat. Sinarnya hingga menembus ke jendela kamarnya. Kepiting plastik di atas meja benar-benar sampai bercahaya. Lampu di kamar itu sudah ia matikan. Jadinya, hanya cahaya bulan yang memani.

Shanum termenung.

Fotonya saat masih bayi masih terlihat menarik. Dirinya berusia beberapa hari, digendong nyaman oleh Radit dikelilingi Anggi, si kembar, dan Reza.

Shanum menjadi pusat. Seperti kata Pak Sugeng, ia adalah keajaiban. Senyuman mereka menyambut sebuah keberkahan. Itulah mengapa dulu Radit memberinya nama Shanum.

Kelahiran seorang anak perempuan yang tidak pernah mereka kira. 

Perjuangan mendapatkan si kembar dan kondisi tubuh Anggi memupuskan harapan demi mendapatkan kembali buah hati. Lalu lahirlah Shanum.

"Kamu spesial, Shanum," bisiknya pada diri sendiri, "dan Papa juga," imbuhnya.

Genangan air mata di pelupuk matanya tumpah tak tahu waktu. Selalu begitu tepat ingatannya diputar atas kasih seorang pria yang ia panggil Papa. Mungkin dulu ia mengira kelebihannya melintasi waktu seperti yang ia inginkan hanya sebuah kutukan. Tapi setelah Shanum sadar, kelebihan itu adalah sebuah anugerah. Bahkan tanpa ia sadari sebelumnya bahwa Radit pun punya kemampuan yang sama.

Papanya sendiri.

Hanya Radit masih tidak menyadari dan belum bisa mengendalikannya dengan baik. Jika Shanum bisa mendatangi mimpi bahkan masa lalu sesuai yang ia inginkan, Radit tidak bisa mengendalikan itu semua. Radit hanya mampu mengikuti apa yang mimpinya ingin bawa. Ia membutuhkan kondisi fisik yang tenang. Ia harus tertidur lelap berserah pada mimpi yang nantinya membimbing ke suatu tempat yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Bahkan tidak hanya ke masa lalu, tapi sampai ke masa depan.

Sesuatu yang tidak bisa Shanum lakukan.

Shanum memahami itu dari kesimpulan yang ditarik oleh ibunya sendiri. Sejak awal, Anggi selalu merasa mimpi suaminya itu memanglah hanya sebuah mimpi. Sampai pada kesimpulan, satu persatu bukti tentang Radit memang melakukan perjalanan waktu mulai terbukti.

Ia mulai mempelajari cara kerja pikiran. Banyak buku yang Shanum baca sampai ia yakin bisa mengendalikan kemampuan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat untuknya. Setidaknya sampai saat ini. Meski nyatanya masih ada satu hal yang belum bisa menjawabnya. Satu pertanyaan besar untuk pernikahannya nanti. Pertanyaan yang jadi alasan mengapa ia melakukan semua perjalanan itu.

"Bisakah aku bertemu Papa untuk sekali lagi. Terakhir kalinya?"

Hanya sebah potret lama. Tergambar ia dan Radit yang saling tersenyum menghadap fokus kamera. Diambil terakhir kali ... empat hari sebelum jiwa pria itu benar-benar pergi.

Tepat pukul sepuluh malam, Shanum mengambil potret lama itu dan memeluknya. Membawanya dalam dekapan malam ini. Membayangkan jika mereka tetap bersama. Seperti memori yang dibuat dalam potret itu.

***

Suara berisik terdengar di luar. Mata Shanum terbuka lebar. Ia sadar itu kamar masa kecilnya. Foto yang terakhir ia peluk tidak ada. Pelan ia turun dari ranjang. Kaki telanjangnya menyentuh lantai. Sedikit berjingkat, tak pernah Shanum rasakan lantai kamarnya sedingin itu.

Gorden jendela masih tertutup. Pelan-pelan coba ia sibak kecil, mengintip. Rupanya malam hari. Shanum menutup kain itu lagi lalu coba mencari tahu.

Memang, perjalanannya kali ini tidak begitu ia tentukan pada masa apa. Shanum membiarkan tubuhnya membawa ke tempat ia bisa melihat ayahnya terakhir kali. Apapun masanya. Nanti ia akan berada jauh, menjaga jarak dan hanya menatap. Itu saja tidak lebih.

Tapi satu hal yang Shanum bingungkan, ia tak pernah singgah di hari tanpa ada matahari.

"Kenapa harus malam ini? Kata Mama, jenazah Papa sampai di rumah siang hari."

Ia tak paham

"Semoga tidak ada orang. Eh, kok banyak suara di luar?"

Shanum memastikan sekali lagi dengan suara-suara itu. "Pak Sugeng, sama—sepertinya suara Kakek Galih? Kok, kayak Mas Faiz juga, ya?" Gumamnya.

"Lho, Kakak?"

Pak Galih keluar dari kamar utama. Jaraknya tidak jauh dari kamar masa kecil Shanum.

Ya, Pak Galih sudah tahu jika itu Shanum. Sejak Shanum mengatakannya dengan tiba-tiba dari tragedi pertama kali yang abnormal. Dulu, Shanum kecil pernah ditemukan tidur di rumah Pak Galih yang terkunci secara misterius. Pak Galihlah yang membantu Shanum menutupi keanehan kemampuannya dan membuat semua itu seolah seperti kecelakaan. Lubang yang Shanum buat di tembok pembatas rumah kala itu sudah mendapat persetujuan Pak Galih.

Demi menciptakan alibi.

"Kenapa kakek di sini? Ada apa?"

"Ah, itu," Pak Galih memanggil Mbak Siti untuk menata ulang seprei di kamar utama. Mereka terlihat saling membahas isi kamar itu serius. Sesekali Pak Galih mengarahkan Mbak Siti melakukan sesuai sebagai sebuah perintah.

"Sekalian cek ACnya sudah nyala atau belum, ya. Kamar anak-anak sudah beres," titah Pak Galih.

Shanum masih tidak mengerti. "Kakek, kok kamar Papa sama Mama dibersihkan? Malam-malam begini?"

"Itu kamar Abang-abangmu juga sudah kakek bersihkan. Kamar kamu di dalam sudah rapi, kan?"

Shanum mengangguk. Ia sudah sempat memperbaiki selimut yang tiba-tiba saja menutupi tubuhnya.

"Bukannya kakek lagi di luar kota pas lebaran?" Shanum mulai kebingungan. Seingatnya begitu, ayah Damar yang menceritakan itu.

Sepasang alis Pak Galih hampir bertemu dibuatnya. Mengingat sekilas perjalanannya ke Yogyakarta saat lebaran rasanya tak begitu sulit. Itu belum lama.

"Ya, kan waktu lebaran kemarin. Baru bangun tidur, ya? Ini masih pakai piama, mangkanya agak linglung." Lalu Pak Galih tertawa menyerahkan seprei kotor yang ia kemasi di kamar si kembar.

"Maaf, saya nggak ngerti. Ini masih lebaran," Shanum menghentikan pertanyaannya sendiri. Mulai sadar ada yang tidak sesuai perkiraannya. "Kakek, ini benar hari raya ... Idulfitri, kan?"

Keterkejutan Pak Galih tak lagi bisa disembunyinkan. Tebakan Shanum salah total.

"Sudah lewat, Kak," ujar Pak Galih masih dengan senyuman. "Lebaran Iduladhanya baru Kamis nanti. Kalau nggak ada sapi di depan, ya ... karena sapi punya Papamu ditaruh di tempat yang jual sapi dulu."

"Hah?"

Pak Galih pamit untuk segera turun. Ia sesekali berteriak meminta Pak Sugeng menyiapkan ruang tamu sedikit diberi jalan. Dari sependengaran Shanum supaya saat mereka tiba bisa langsung istirahat.

"Mereka? Mereka siapa?"

Sebuah koran tergeletak tak jauh di atas meja ia ambil. Headline tentang informasi jamaah haji Indonesia yang meninggal sebelum prosesi puncak ibadah menjadi fokus Shanum.

"Haji?"

Bulan Juni. Tanggal yang menunjukkan telah menginjak minggu terakhir di bulan itu benar-benar mengejutkannya. 

"Papa meninggal akhir April. Terus—"

Suara beberapa orang sudah siap di lantai bawah benar-benar membuyarkan pikirannya. Suara yang sudah ia hapal sepanjang melakukan perjalanan itu. Suara yang bisa menjaga semua rahasia kedatangannya selama ini.

"Itu ... siapa yang datang?"

Kepalanya pening, rasanya benar-benar ingin meledak. Shanum memilih tetap berada di lantai atas berjaga-jaga. Bisa ia pastikan semua orang yang ia kenal sebagai tetangga dan beberapa keluarga dari Malang sudah bersiap di sana.

Badannya bergetar.

"Assalamualaikum."

"Wa—waalaikumsalam." Secara spontan Shanum ikut menjawabnya. 

Wajah itu tiba dengan sambutan meriah dari beberapa orang. Pak Galih menyambut bagai tuan rumah. Beberapa keluarga dekat bersorak girang seperti merayakan kemenangan besar. Sisanya menangis haru, bertasbih dan memuja bahwa Tuhan memanglah Maha Besar.

"Allahu Akbar. Selamat datang, Pak Radit." 

Tidak ada yang salah di sana.

Radit, tersenyum dengan hangat. Mengucapkan terima kasih atas sambutan mereka suka cita. Hanya untuk menunggunya kembali. Begitu juga perempuan berjilbab yang ikut datang menggandengnya.

"Ma ... Mama?"

Si kembar pun ada. Bersorak gembira menyalami Pak Galih dan Pak Sugeng serta para tetangga lain. Keduanya semangat memeluk Faiz. Steven dan sang istri pun terlihat datang juga.

"Bu Anggi, sehat? Puji Tuhan, perutnya sama-sama endut, nih. Nanti ada teman lahiran kamu, Sayang," ujar Steven sambil menyenggol sang istri.

"Terima kasih, Koh. Sehat, alhamdulillah. Sempat ada masa-masa berat, syukurlah bisa dilewati."

Radit mengajak seseorang masuk. Pria itu menggendong Shanum kecil di pundaknya.

"Kalau tidak ada Pak Damar ini datang saat lebaran, mungkin saya pulang jadi jenazah."

Radit mengenalkan Damar ke beberapa orang yang ada di ruang tamu. Seperti teman baik atau bahkan sebagai saudara.

"Mas Radit selalu begitu. Saya hanya membantu, kebetulan saya datang saat itu."

Keduanya saling berangkulan. Radit berbisik pelan, "Rencana Allah memang luar biasa. Saya berhutang nyawa kepada kamu, Damar," sebut Radit.

Kepala Shanum seolah baru saja dihantam palu besar.

Pertemuan terakhirnya dengan Damar saat itu mengubah segalanya. Damar benar-benar pergi ke Singapura setelah mendapatkan saran darinya ... dari mulutnya sendiri.

"Aku melakukan kesalahan besar."

Shanum baru saja mengubah jalannya waktu. Sekali lagi, tanpa ia sadari dan itu adalah kesalahan terbesar sepanjang perjalanan waktunya.

Badannya tidak bisa bergerak, Shanum tertegun di tempatnya. Ingin rasanya ia turun dan memeluk kembali Papanya. Berselimut rindu yang tiada tertahan, Shanum merintih. Menangis memanggil pria itu. Tubuhnya menggigil, ia rindukan sepenuh hati pelukan sosok ayah yang lama meninggalkannya. Lalu, dengan satu kesalahan kecilnya, Shanum bingung. Apakah ia harus khawatir atau bahkan bersyukur.

Masa depan mungkin saja akan berubah. 

"Oh, astaga." Panik, tiba-tiba langkah kaki seseorang mengejutkannya dari belakang.

"Kakak cantik?"

Aby tersenyum menyapa. Ia mendapati seseorang yang dulu sering menemuinya tiba-tiba datang kembali. "Kakak kemana saja—eh!" Cepat Shanum menarik anak itu untuk naik ke lantai tiga. 

"Eh, jangan ke atas. Mama nggak bolehin naik. Bahaya!"

Aby adalah anak yang patuh. Ia menolak saat Shanum mengajaknya naik. Lantai itu tidak banyak digunakan. Lebih sering ditutup sebab bahaya untuk anak-anak. Selain cukup tinggi, area atas jarang dibersihkan. Di lantai tiga itu, hanya ada satu ruangan kecil dan akses ruang terbuka untuk menuju balkon kecil. Ruangan itu sementara kosong. Seringnya gunakan untuk tempat penyimpanan saja.

Aby ketakutan, ia tetap menolak.

"Abang akan senang di sini. Lihat, nanti saat Abang SD, ini jadi kamar Abang," sebut Shanum kembali memastikan pergerakan di lantai tiga tidak diketahui oleh orang lain.

"Waw, aku nggak tahu kalau pintu ini isinya kamar, Kakak Cantik. Aku mau pindah ke sini. Aku bulan depan kan sudah SD.

Shanum memintanya tutup mulut. "Kelas empat, Bang. Sunat dulu, nggak usah ngaco," tegur Shanum.

"Kok, Kakak Cantik ngatur?"

"Bukan ngatur, tapi memang begitu ceritanya Mama." Shanum menepuk mulutnya cepat. Untung Aby tidak sadar.

Aby masih mengamati ruangan berdebu itu. Ada mainan lamanya dan ranjang bayi ikut di simpan. Bahkan baby walker miliknya juga masih ada. Terbungkus kembali dalam kardus.

"Dengar, Bang. Tolong ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi di Singapura? Kenapa Papa bisa pulang, sehat, selamat?" 

Satu kursi lipat bergambar astronot yang bertuliskan nama Reza, Aby serahkan kepada Shanum untuk dibuka. Ia ingin sekali duduk di sana.

"Waktu lebaran, Papa sakit. Mama di apartemen nungguin Papa."

Aby dan yang lainnya mengikuti salat Idulfitri di luar apartemen. Menurut cerita, tidak banyak berubah. Ponsel Anggi mati, ia kesulitan meminta bantuan saat Radit kesakitan. Dan tepat saat itu datang Damar.

Semua cerita mulai berubah.

"Papa dibantu Om Damar ke rumah sakit."

Damar terlambat untuk ikut salat Idulfitri dan memutuskan mencari apartemen tempat tinggal Anggi.

Berhasil, Damar menemukan Anggi yang sedang panik karena Radit kejang dan sesak napas.

"Terus, pas di rumah sakit Papa tidur terus. Lama banget nggak bangun. Kata Bude, Papa ko—ko, apa ya? Ko apa itu, Kak? Yang tidur terus."

"Koma?"

"Seratus buat Kakak Cantik."

Radit koma lebih dari satu bulan selepas Idulfitri itu. Di sanalah harapan kesembuhan Radit berada di ujung tanduk. Hari demi hari mereka mengharapkan adanya tanda-tanda positif atas respon dari tubuh kurus itu.

"Om Damar yang nemenin." Cerita Aby berlanjut. "Waktu Papa sadar saja, pas ada Om Damar yang gantian jaga soalnya Mama perutnya sakit."

Bisa Shanum simpulkan jika Radit akhirnya bisa ditolong dengan cepat. Mereka berhasil mencapai rumah sakit sebelum semuanya terlambat.

"Abang? Aby? Abang di atas?" Suara Anggi mengejutkan keduanya.

"Mama," sebut Aby. Ia mulai panik takut ketahuan. 

"Tenang, Abang keluar saja. Terus bilang kalo dengar suara kucing. Ya, kucing. Udah, cepetan!" 

Lihat selengkapnya