SEMESTA AETHYRIS

Kal Q Fawzie
Chapter #3

Amplop Biru Tua

Kael berdiri di depan papan kayu itu sambil merapikan kerah jubahnya. Raut mukanya terlihat lebih cerah dari biasanya.


Ruang kelas Pathfinder selalu punya bau yang khas—campuran kertas lembap, debu kapur, dan angin yang masuk melalui sela-sela jendela.


Di depannya, anak-anak terlihat duduk melingkar. Seperti bocah pada umumnya yang punya tenaga ekstra, mereka masih butuh disuruh sampai tiga kali hanya untuk merapikan posisi duduk.


"Baik," Kael memulai. Suaranya lembut, tetapi cukup kuat untuk menarik perhatian seluruh ruangan. “Kita semua hidup di Pulau Aethyris. Dan pulau ini unik... Pulau ini terbagi menjadi empat dunia kecil yang terpisah."


Anak-anak mulai membenarkan posisi duduk mereka lagi. Kata "empat dunia" selalu berhasil membuat mereka memasang mata lebar-lebar dengan telinga yang siap mendengarkan.


"Di Timur," Kael menunjuk ke arah peta kusam di belakangnya, "ada kita. Para Pathfinder. Penjelajah tempat yang tak terjamah, pencari rute, dan pembaca tanda-tanda alam. Kalian semua, kalau lulus nanti, akan menjadi orang-orang pertama yang tahu jalan sebelum orang lain mengetahuinya."


Beberapa anak tampak bangga dan mengacungkan tangannya sambil berteriak, "Penjelajah Pathfinder!", sementara beberapa lagi terlihat diam saja, merasa tugas itu terlalu berat.


"Kemudian Barat," lanjut Kael. "Daerah Dustland. Padang tandus, langit kuning, dan angin asin yang bisa memotong kulit." Ia berhenti sejenak, mendadak teringat betapa kasarnya debu Barat saat ia pertama kali ke sana dulu.


Lannen, seorang anak berbadan gempal, langsung nyeletuk, "Apakah di sana ada monster gurun, Guru?"


Kael memasang tatapan misterius yang mencurigakan. "Tentu saja. Dan mereka sangat menyeramkan. Konon, mereka bisa muncul dari dalam pasir dan membawa senjata."


Ucapan Kael sontak membuat Lannen ketakutan sendiri dan langsung menciut.


"Selatan," Kael menurunkan nada suaranya, memecah keheningan. "Tempat para Penalar. Orang-orang yang punya kejeniusan di atas rata-rata, di sana, mereka suka berkata, 'Logika adalah ibadah kami'."


Beberapa anak tampak mengangguk-angguk, pura-pura mengerti apa itu laboratorium.


"Utara."


Begitu Kael menyebutkan faksi itu, ia sadar napasnya sendiri menjadi lebih pelan.


Lihat selengkapnya