Kael melangkah keluar dari gerbang kayu Akademi Pathfinder dengan tas kulit tersampir di pundaknya. Angin sore wilayah Timur berembus sejuk, membawa aroma tanah basah, tetapi tidak mampu mengusir rasa pegal di leher Kael setelah seharian membujuk anak-anak untuk duduk tenang.
Ia merogoh saku jubahnya, menyentuh sudut tajam amplop biru tua dari Dewan yang diterimanya tadi.
"Eron memang menyebalkan," gumam Kael pada diri sendiri, menggelengkan kepala sembari menatap jalan setapak yang mulai sepi. "Gara-gara dia mengambil misi mendadak itu, aku yang harus jadi tumbal menggantikan posisinya mengajar anak-anak akademi."
Kael mendesah panjang sambil berlalu. Membayangkan mentornya yang super santai itu mungkin sekarang sedang menikmati perjalanannya, sementara dirinya harus berhadapan dengan belasan bocah yang energinya tidak habis-habis, membuat Kael mendengus geli sekaligus jengkel.
Namun, senyum tipis di wajah Kael tidak bertahan lama.
Dari kejauhan jalan setapak yang membelah padang rumput, Kael menangkap sebuah siluet kecil. Siluet itu bergerak cepat, terseok-seok, dan tampak limbung.
Itu Marrow. Anak laki-laki yang tadi paling bersemangat mendengarkan cerita tentang salju Utara, kini berlari seperti sedang dikejar oleh sesuatu yang tak kasatmata.
Rambutnya berantakan, dan dari jarak sejauh ini pun, Kael bisa melihat rasa panik dan sedih yang mendalam di wajah anak itu.
"Guru Kael!!!"
Suara Marrow melengking memecah keheningan sore. Suara itu parau, bergetar hebat karena kehabisan napas dan ketakutan.
Tanpa pikir panjang, Kael langsung berlari menghampirinya. Langkah kaki panjangnya dengan cepat memangkas jarak di antara mereka.