Suara itu melengking begitu tajam, membuat Kael refleks mundur satu langkah.
Mengikuti insting bertarungnya, Kael langsung menggeser tubuhnya, memposisikan Marrow di belakang punggungnya yang tegap demi melindungi anak itu.
"Marrow, tetap di belakangku. Jangan mendekat," perintah Kael dengan nada berbisik namun penuh penekanan.
Kael merentangkan satu tangannya, mendorong Marrow menjauh dari ambang pintu.
Tepat saat itu, tubuh ibu Marrow mulai bergetar hebat. Kepalanya berkedut ke samping, lalu dari tenggorokannya keluar suara raungan rendah yang mengerikan.
Marrow yang menyaksikan pemandangan itu langsung menangis histeris. Tubuh mungilnya gemetar didera rasa takut.
"Ibu...?!" jerit Marrow.
Tak ingin Marrow menyaksikan hal yang lebih mengerikan, Kael berbalik sekejap, menggunakan telapak tangannya untuk menutup mata anak itu dan mendekap kepala Marrow ke pinggangnya.
Di saat bersamaan, tangan kanan Kael bergerak secepat kilat menuju sabuk taktisnya.
Wush! Wush! Wush!
Dalam hitungan detik, Kael melontarkan tiga silinder kecil dari saku sabuknya ke arah sudut-sudut ruangan. Silinder itu bukan peledak, melainkan serat baja tipis namun super kuat.