SEMESTA AETHYRIS

Kal Q Fawzie
Chapter #12

Negosiasi di ujung Vorta Spine

Kabut tipis merayap di antara batu-batu tajam Vorta Spine ketika gerobak kayu itu berhenti. Roda berdecit pelan, lalu sunyi. Api obor bergetar tertiup angin malam, memantulkan bayangan panjang pada tanah berbatu.


Empat sosok dari Dustland muncul perlahan dari kegelapan. Langkah mereka tidak seragam. Dua berjalan sempoyongan, satu tertawa sendiri tanpa sebab.


Dan yang terakhir, seorang pria bertubuh besar dengan mantel kulit berlapis logam berdiri sedikit terpisah. Tatapannya tenang, tajam, dan sama sekali tidak mabuk. Dialah bosnya.


"Beruang merah," katanya singkat. Suaranya berat. "Kalian datang terlambat."


Rian Falken turun dari gerobak dengan sikap santai yang terukur. "Barang bagus tidak pernah datang cepat."


Nora Voss menyusul, membuka kain penutup keranjang sedikit demi sedikit, cukup untuk memperlihatkan bulu kemerahan yang berlumur darah kering. "Lima ekor. Dari Vorta Spine utara. Dagingnya masih segar."


Salah satu anak buah Dustland tertawa keras. "Lima ekor? Atau dua ekor tua yang kalian potong-potong?"


Tawa yang lain menyusul, tetapi bos mereka tidak ikut tertawa. Ia melangkah lebih dekat, mengendus udara. "Ada yang aneh," katanya pelan. "Bau ini... bukan cuma darah."


Di dalam gerobak, Kael menahan napas. Kulit beruang yang menutup tubuhnya terasa berat dan lembap, di sampingnya, Frayden tidak bergerak sama sekali.


"Berapa harganya?" tanya bos itu.


“90 Dust untuk satu ekor.” Rian menyahut dengan tenang. Seketika, suasana berubah.


"Itu harga untuk beruang muda!" bentak salah satu orang Dustland. "Yang ini kelihatan tua. Lihat bulunya."


Nora menyilangkan tangan di dada. "Beruang tua lebih langka. Lebih kuat. Lebih mahal."

Lihat selengkapnya