SEMESTA AETHYRIS

Kal Q Fawzie
Chapter #13

Sebuah Ledakan

Kael menoleh singkat ke arah Frayden. Tanpa aba-aba.


Kael melesat. Seutas tali di pergelangan tangannya menyambar keluar, Wush! Tali itu melilit leher salah satu bandit dengan presisi mematikan, menariknya hingga terjungkal keras ke tanah berbatu.


Di sisi lain, Frayden sudah meluncur. Dua bandit lainnya menerjang dengan pisau, namun saat tinju mereka menghantam bahu Frayden, terdengar bunyi duk yang tumpul—seperti memukul batang pohon ek.


"Apa-apaan ini?!" salah satu bandit mundur, memegangi tangannya yang terasa nyeri. "Badannya... dia pengguna tensor! Tubuhnya sekeras batu!"


"Sialan, mereka bukan pedagang biasa!" teriak yang lain dengan nada ketakutan. "Ingat, mereka tetap manusia! Cari titik lemahnya! Serang matanya!"


Kael hanya melirik Frayden dengan tatapan datar. "Sepertinya kau akan lebih bersenang-senang dengan mereka, Frayden."


Frayden menyeringai, buku-buku jarinya berderak. "Serahkan padaku."


Namun, belum sempat Frayden melayangkan tinjunya, sebuah suara dentuman keras menggetarkan tanah dari arah utara. BOOM!


Kael menoleh tajam ke arah sumber ledakan. Tanpa membuang waktu, ia membatalkan niatnya untuk menghabisi bandit di depannya dan bergegas pergi. "Frayden, selesaikan sisanya!"


Di area lain, suasana mencekam. Rian Falken berdiri tegak, napasnya teratur di balik masker gas. Di hadapannya, bos pedagang ilegal itu tertawa terpingkal-pingkal, meski tangannya gemetar memegang belati.


"Kau salah memilih lawan, Pedagang Gadungan!" seru si Bos pedagang itu.


Rian menatap tajam, "Kalau kau menurut sejak awal," suara Rian datar, dingin, dan nyaris tak terdengar, "seharusnya tidak akan ada perkelahian di sini."


Tangan Rian perlahan terangkat. Di pergelangan tangannya, ia sudah siap melepaskan tekanannya.


Di samping tumpukan gerobak tua, sang Bos Dustland berdiri tegak. Ia tertawa, sebuah suara kering yang menyayat udara. "Tanah Dustland bukan arena yang ramah bagi para penyusup," gumamnya.


Ia menyentuh bangkai beruang yang terkapar di dekatnya, membiarkan jemarinya menodai tanah dengan darah beku yang masih tersisa di luka bangkai itu. Dengan gerakan perlahan, ia menjilat darah tersebut dari ujung jarinya.

Lihat selengkapnya